Minggu, 22 Maret 2015

REVIEW BUKU HADRATUSSYAIKH HASYIM ASY'ARI

   Saya ingin sedikit mereview buku yang pernah saya baca tentang salah satu tokoh idola saya, yakni; Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari alias kakek dari Gusdur yang terkenal sebagai ulama NU yang moderat.
Judul buku: Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari; Moderasi, Keumatan dan Kebangsaan karya Zuhairi Misrawi.
    Buku ini ditulis oleh Zuhairi Misrawi dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Isi buku ini  diawali dengan kata pengantar yang ditulis oleh K.H.Salahuddin Wahid sebagai cucu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, dan DR.H.Nadirsyah Hosen, LLM, M.A. (Hons.), Ph.D sebagai dosen senior pada Fakultas Hukum, Universitas Wollongong dan Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Australia-New Zealand, kemudian diteruskan dengan pendahuluan dan isi. Poin-poin yang disampaikan dalam buku ini  antara lain: Kyai Hasyim adalah sosok ulama yang berada di garda terdepan dalam melakukan pemberdayaan umat dan menggugah kesadaran kolektif agar tidak mudah bertekuk lutut di hadapan penjajah. Beliau juga telah menginspirasi banyak pihak agar berjihad dalam ranah pendidikan umat dan menjadikan paham Ahlusunnah wal Jamaah sebagai salah satu fondasi untuk pengembangan umat. Kyai Hasyim dalam khazanahnya mengajak kita untuk melihat sejarah islam secara holistik, tidak hanya pada petikan sejarah mutakhir, tapi juga pada masa kejayaan intelektualisme islam yang telah menjadikan islam sebagai agama ilmu dan kemajuan, agama peradaban dan keadaban. Kyai Hasyim telah mampu mencetak kalangan moderat yang cenderung toleran dan adil dalam melihat persoalan dari berbagai aspek, muslim moderat adalah toleransi dalam konteks persaudaraan kemanusiaan, membentangkan kembali khasanah moderasi islam. Organisasi yang didirikannya, yakni; Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai kultur intelektualisme yang bersifat dinamis dan konstektual. Cara pandang ala ushul fiqh telah memungkinkan NU berperan lebih besar dalam isu-isu yang bersifat mondial, seperti demokrasi dan HAM. 
·     Bagian 1 dalam buku ini bertemakan tentang ulama peduli umat dan bangsa, garis besar isinya antara lain: Kyai Hasyim sebagai ulama nasionalis, hidupnya dipersembahkan untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Peran Kyai Hasyim dalam kemerdekaan tidaklah diragukan. Sejarah mencatat, ia berjibaku melawan penjajah dan tak mau bertekuk letut pada kehendak mereka. Beliau juga melihat perbedaan sebagai rahmat Tuhan. Dan perbedaan merupakan hal yang sudah niscaya dalam khazanah islam. Islam dipandang sebagai agama yang memberikan petunjuk dan membimbing umat dalam kebajikan dan kesabaran. Beliau merupakan seorang sosok ulama yang paripurna, yang tidak mewarisi paham keagamaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kearifan lokal, kebangsaan dan keadaban. Beliau sangat menitikberatkan perihal pentingnya ulama sebagai sosok yang harus melestarikan nilai-nilai profetik, askestisisme dan intelektualisme. Beliau tidak hanya merupakan seorang pendidik, tetapi juga seorang pemimpin yang mengerti betul bagaimana sistem pendidikan dan kepemimpinan harus berjalan secara sinergis sehingga antara yang satu dan yang lain tidak saling menegasikan. NU sebagai organisasi yang didirikannya menjadi salah satu alat untuk membangun kekuatan yang lebih besar di kalangan umat islam pada umumnya dan para alim ulama pada khususnya. Kyai Hasyim selalu berusaha membina umat dengan baik, Beliau memimpin dengan menggunakan keteladanan dan totalitas dalam pengabdian. Hidupnya dihabiskan untuk membina umat melalui pesantren. Dalam komitmen kebangsaannya juga jelas terlihat dari memberikan fatwa untuk melawan penjajah, melarang naik hajji dengan Kapal Belanda dan Beliau pun menolak menerima bintang kehormatan dari Ratu Belanda Wilhelmina. Dalam karya-karyanya, Kyai Hasyim mampu meletakkan islam dalam bingkainya yang bersifat universal, yang mampu berdialog dan beradaptasi dengan realitas sosial sesuai dengan zamannya. Umat islam haruslah mempunyai pemahaman yang bersifat komprehensif terhadap ajarannya. Dari pemahaman yang mendalam tersebut, akan dilahirkan sebuah pemikiran yang bersifat konstruktif.
·    Bab 2 bertemakan tentang pemikiran-pemikiran moderat yang garis besar isinya antara lain:  Paham keagamaan Nahdlatul Ulama yang mana mengikuti ijtihad-ijtihad para ulama terdahulu yang sudah diakui integritasnya merupakan sebuah keniscayaan, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai kemampuan berijtihad. Semakin jelas paham yang telah diyakini oleh Kyai Hasyim yaitu agar kita tidak mudah memperlakukan orang lain sebagai bid’ah atau sesat. Ahlusunnah wal Jamaah memang menawarkan gagasan besar agar islam menjadi agama yang mampu menyerap khazanah masa lalu, di samping tidak kehilangan nuansa kekiniannya. Kompatibilitas antara nilai-nilai universal islam dan kearifan lokal merupakan perpaduan yang menjadikan corak islam menjadi semakin ramah, sejuk dan toleran. Yang terpenting dari semua, pemahaman keislaman tidak kehilangan corak kedalaman akademis dan rasionalitasnya. Kyai Hasyim juga mengajarkan untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. Menurut Kyai Hasyim, setiap Muslim sejatinya menjadikan cinta kepada Nabi sebagai landasan yang kuat dalam keberagaman mereka. Cinta ini merupakan jalan menuju kemenangan, baik di dunia maupun akhirat. Pesan Beliau adalah bahwasanya seorang Muslim diperintahkan agar mengisi hari-harinya dengan pikiran yang jernih untuk melakukan kebajikan, kedua, memperbanyak zikir untuk mengingat nabi, ketiga, mencintai orang-orang yang dicintai oleh Muhammad SAW, yaitu; para keluarga, ahlulbait, para sahabat, baik muhajirin maupun ansar, keempat, meninggalkan hal-hal yang dibenci dan dilarang Tuhan, kelima, gemar membaca Al-Qur’an, memahami isi dan berakhlak sebagaimana akhlak yang dianjurkan Al-Qur’an, keenam, mencintai sesama sebagaimana diteladankan oleh Muhammad SAW. Dan salah satu yang khas dari keberislaman Muslim di Tanah Air adalah wajah ramah dan toleran dari islam, wajah islam yang dapat menghargai kebhinekaan dan menebarkan kedamaian. Dalam cinta akan lahir kehendak untuk merangkul, bukan untuk memukul. Sementara dalam kesabaran akan terbangun kesiapan mental untuk saling mengisi dan menyempurnakan. Dalam memandang ilmu, Kyai Hasyim dalam kitabnya menegaskan bahwa jalan orang-orang yang berilmu lebih mulia daripada jalan orang-orang yang menjadi martir. Ilmu akan menjadi obor bagi kehidupan. Ilmu akan menyelamatkan umat dari keterpurukan dan ketertinggalan. Sebaliknya, terorisme hanya akan meninggalkan nestapa, luka dan kesedihan yang amat mendalam bagi korban dan keluarganya. Beliau juga mengajurkan pelajar harus memiliki moralitas tinggi dan pembelajaran. Moralitas pelajar dan pembelajaran menurut Kyai Hasyim ini, pertama. Seorang pembelajar harus membersihkan hati dari segala keburukan, dengki dan akhlak buruk. Kedua, seorang pembelajar harus mempunyai niat yang tulus dalam mencari ilmu, ketiga, seorang pembelajar hendaknya mengisi masa mudanya dengan ilmu sebanyak-banyaknya. Keempat, seorang pelajar sejatinya harus menerima keadaan yang serba penuh keterbatasan, apa adanya dan tidak mewah merupakan sumber dari ilmu dari kearifan. Kelima, seorang pelajar harus menata dan membagi waktu dengan sebaik-baiknya, keenam, seorang pelajar harus bisa mengatur makanan dan minuman. Ketujuh, seorang pembelajar sejatinya menampakkan sikap asketis dan penuh kehati-hatian, kedelapan, seorang pelajar mesti memperhatikan makanan yang dapat menyebabkan lamban dalam berpikir dan malas, kesembilan, seorang pelajar mesti mengatur ritme tidur, kesepuluh, seorang pelajar harus meninggalkan pergaulan yang tidak bermanfaat. Dari segi persaudaraan dan toleransi, Kyai Hasyim memandang agar setiap umat mempedomani persaudaran, toleransi dan kebersamaan. Jangan sampai perbedaan menjadi jalan lapang bagi perpecahan. Perbedaan harus dilihat sebagai rahmat dan yang terpenting adalah meneguhkan spirit kemaslahatan umat. Islam memang pada hakikatnya adalah perdamaian dan keselamatan. Penyerahan diri secara total kepada Tuhan harus mampu membangun toleransi yang kuat sehingga agama tidak dibajak untuk kepentingan kelompok tertentu yang kadang kala mengabsahkan kekerasan. Toleransi menjadi suatu keniscayaan terutama dalam masyarakat prural. Ingatlah, demokrasi tanpa toleransi akan melahirkan tatanan politik yang otoritarianistis. Sedangkan toleransi tanpa demokrasi akan melahirkan pseudo-toleransi, yaitu toleransi yang rentan menimbulkan konflik-konflik komunal.
·    Bagian 3 bertemakan tentang gerakan sosial keagamaan moderat yang garis besar isinya antara lain: Menguraikan mengenai proses Nahdlatul Ulama sebagai gerbong muslim moderat yang memiliki agenda untuk mencapai masyarakat muslim yang moderat. Di bagian akhir disertakan juga lampiran yang berupa karya-karya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari seperti; Mukaddimah Qanun asasi Nahdlatul Ulama, Risalah tentang pentingnya bermahzab pada imam yang empat dan 40 hadis prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama.Jika saya boleh mengomentari keunggulan dari buku ini menurut saya; Dari segi cover buku cukup menarik karena menampilkan gambar Kyai Hasyim sehingga pembaca bisa langsung mengetahui bahwa isi buku itu pasti menceritakan tentang biografi dan kisah seorang tokoh Pendiri NU yang merupakan ulama moderat yang sangat berpengaruh hingga saat ini. Selain itu...Dari segi isi buku juga menarik, misalnya; mengupas tentang kemoderatan dari pandangan-pandangan sang ulama dalam menyikapi berbagai persoalan hidup, sikap dan budi pekerti tokoh tersebut yang sangat mulia disertai juga kiat-kiat menjadi pelajar yang baik sehingga pembaca bisa langsung mendapatkan manfaat setelah membaca buku ini. Penuturan bahasa yang digunakan dalam tulisan juga literer dan menunjukkan intelektualitas penulisnya.  Jika boleh saya memberi masukan tentang buku ini, seperti disebutkan pada halaman 82-83, Kyai Hasyim mempunyai pergaulan luas. Ia dikenal akrab dengan K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan H.Oemar Said Tjokroaminoto (Sarekat Islam) dan Ahmad Surkati (Al-Irsyad). Semestinya hal ini dapat penulis gali lebih dalam lagi sebagai salah satu  keunggulan yang dimiliki sang tokoh, hal ini bisa menjadi bukti bahwa tokoh tersebut memang sangat moderat karena meskipun terdapat berbagai perbedaan, misalnya: antara NU dengan Muhammadiyah atau yang lain, namun para pelopor organisasi tersebut akrab dan saling menghormati perbedaan yang ada. Jika ini dilakukan oleh penulis, tentunya para pembaca sedikit banyak tergugah dalam menilai persoalan yang sekarang ini banyak terjadi, bahwa perbedaan itu tidak perlu diperuncing dan dipertentangkan karena toh para pelopornya saja bisa bersahabat dengan baik. Namun saya sebagai pembaca pun memaklumi agaknya hal ini sulit dipaparkan karena memang susah untuk mendapatkan kisah-kisah mengenai fakta sejarah yang sudah lama sekali berlalu. Dan jika dipersilahkan untuk meralat beberapa kata dalam buku ini yang salah ketik, saya menemukan;  Pada halaman 183 baris 7, kata ‘bajik’ seharusnya ditulis ‘bijak.’ Dan pada halaman 199 baris 1, kata ‘memengaruhi’ lebih enak jika ditulis ‘mempengaruhi.’ Sekian tulisan saya semoga bisa bermanfaat. (By: Bilqis Fitria Salsabiela)

Tidak ada komentar: