Saya ingin sedikit mereview buku yang pernah saya baca tentang
salah satu tokoh idola saya, yakni; Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari alias kakek
dari Gusdur yang terkenal sebagai ulama NU yang moderat.
Judul buku: Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari; Moderasi, Keumatan dan
Kebangsaan karya Zuhairi Misrawi.
Buku ini ditulis oleh Zuhairi Misrawi dan
diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Isi buku ini diawali dengan
kata pengantar yang ditulis oleh K.H.Salahuddin Wahid sebagai cucu
Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, dan
DR.H.Nadirsyah Hosen, LLM, M.A. (Hons.), Ph.D sebagai dosen senior pada
Fakultas Hukum, Universitas Wollongong dan Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU)
Australia-New Zealand, kemudian diteruskan dengan pendahuluan dan isi.
Poin-poin yang disampaikan dalam buku ini antara lain: Kyai Hasyim
adalah sosok ulama yang berada di garda terdepan dalam melakukan pemberdayaan
umat dan menggugah kesadaran kolektif agar tidak mudah bertekuk lutut di
hadapan penjajah. Beliau juga telah menginspirasi banyak pihak agar berjihad
dalam ranah pendidikan umat dan menjadikan paham Ahlusunnah wal Jamaah sebagai
salah satu fondasi untuk pengembangan umat. Kyai Hasyim dalam khazanahnya
mengajak kita untuk melihat sejarah islam secara holistik, tidak hanya pada
petikan sejarah mutakhir, tapi juga pada masa kejayaan intelektualisme islam
yang telah menjadikan islam sebagai agama ilmu dan kemajuan, agama peradaban
dan keadaban. Kyai Hasyim telah mampu mencetak kalangan moderat yang cenderung
toleran dan adil dalam melihat persoalan dari berbagai aspek, muslim moderat
adalah toleransi dalam konteks persaudaraan kemanusiaan, membentangkan kembali
khasanah moderasi islam. Organisasi yang didirikannya, yakni; Nahdlatul Ulama
(NU) mempunyai kultur intelektualisme yang bersifat dinamis dan konstektual.
Cara pandang ala ushul fiqh telah memungkinkan NU berperan lebih besar dalam
isu-isu yang bersifat mondial, seperti demokrasi dan HAM.
· Bagian
1 dalam buku ini bertemakan tentang ulama peduli umat dan bangsa, garis besar
isinya antara lain: Kyai Hasyim sebagai ulama nasionalis, hidupnya
dipersembahkan untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Peran Kyai Hasyim dalam
kemerdekaan tidaklah diragukan. Sejarah mencatat, ia berjibaku melawan penjajah
dan tak mau bertekuk letut pada kehendak mereka. Beliau juga melihat perbedaan
sebagai rahmat Tuhan. Dan perbedaan merupakan hal yang sudah niscaya dalam
khazanah islam. Islam dipandang sebagai agama yang memberikan petunjuk dan
membimbing umat dalam kebajikan dan kesabaran. Beliau merupakan seorang sosok
ulama yang paripurna, yang tidak mewarisi paham keagamaan yang bertentangan
dengan nilai-nilai kearifan lokal, kebangsaan dan keadaban. Beliau sangat menitikberatkan
perihal pentingnya ulama sebagai sosok yang harus melestarikan nilai-nilai
profetik, askestisisme dan intelektualisme. Beliau tidak hanya merupakan
seorang pendidik, tetapi juga seorang pemimpin yang mengerti betul bagaimana
sistem pendidikan dan kepemimpinan harus berjalan secara sinergis sehingga
antara yang satu dan yang lain tidak saling menegasikan. NU sebagai organisasi
yang didirikannya menjadi salah satu alat untuk membangun kekuatan yang lebih
besar di kalangan umat islam pada umumnya dan para alim ulama pada khususnya.
Kyai Hasyim selalu berusaha membina umat dengan baik, Beliau memimpin dengan
menggunakan keteladanan dan totalitas dalam pengabdian. Hidupnya dihabiskan
untuk membina umat melalui pesantren. Dalam komitmen kebangsaannya juga jelas
terlihat dari memberikan fatwa untuk melawan penjajah, melarang naik hajji
dengan Kapal Belanda dan Beliau pun menolak menerima bintang kehormatan dari
Ratu Belanda Wilhelmina. Dalam karya-karyanya, Kyai Hasyim mampu meletakkan
islam dalam bingkainya yang bersifat universal, yang mampu berdialog dan
beradaptasi dengan realitas sosial sesuai dengan zamannya. Umat islam haruslah
mempunyai pemahaman yang bersifat komprehensif terhadap ajarannya. Dari
pemahaman yang mendalam tersebut, akan dilahirkan sebuah pemikiran yang
bersifat konstruktif.
· Bab
2 bertemakan tentang pemikiran-pemikiran moderat yang garis besar isinya antara
lain: Paham keagamaan Nahdlatul Ulama yang mana mengikuti
ijtihad-ijtihad para ulama terdahulu yang sudah diakui integritasnya merupakan
sebuah keniscayaan, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai kemampuan
berijtihad. Semakin jelas paham yang telah diyakini oleh Kyai Hasyim yaitu agar
kita tidak mudah memperlakukan orang lain sebagai bid’ah atau sesat. Ahlusunnah
wal Jamaah memang menawarkan gagasan besar agar islam menjadi agama yang mampu
menyerap khazanah masa lalu, di samping tidak kehilangan nuansa kekiniannya.
Kompatibilitas antara nilai-nilai universal islam dan kearifan lokal merupakan
perpaduan yang menjadikan corak islam menjadi semakin ramah, sejuk dan toleran.
Yang terpenting dari semua, pemahaman keislaman tidak kehilangan corak
kedalaman akademis dan rasionalitasnya. Kyai Hasyim juga mengajarkan untuk
mencintai Nabi Muhammad SAW. Menurut Kyai Hasyim, setiap Muslim sejatinya
menjadikan cinta kepada Nabi sebagai landasan yang kuat dalam keberagaman
mereka. Cinta ini merupakan jalan menuju kemenangan, baik di dunia maupun
akhirat. Pesan Beliau adalah bahwasanya seorang Muslim diperintahkan agar
mengisi hari-harinya dengan pikiran yang jernih untuk melakukan kebajikan,
kedua, memperbanyak zikir untuk mengingat nabi, ketiga, mencintai orang-orang
yang dicintai oleh Muhammad SAW, yaitu; para keluarga, ahlulbait, para sahabat,
baik muhajirin maupun ansar, keempat, meninggalkan hal-hal yang dibenci dan
dilarang Tuhan, kelima, gemar membaca Al-Qur’an, memahami isi dan berakhlak
sebagaimana akhlak yang dianjurkan Al-Qur’an, keenam, mencintai sesama
sebagaimana diteladankan oleh Muhammad SAW. Dan salah satu yang khas dari keberislaman
Muslim di Tanah Air adalah wajah ramah dan toleran dari islam, wajah islam yang
dapat menghargai kebhinekaan dan menebarkan kedamaian. Dalam cinta akan lahir
kehendak untuk merangkul, bukan untuk memukul. Sementara dalam kesabaran akan
terbangun kesiapan mental untuk saling mengisi dan menyempurnakan. Dalam
memandang ilmu, Kyai Hasyim dalam kitabnya menegaskan bahwa jalan orang-orang
yang berilmu lebih mulia daripada jalan orang-orang yang menjadi martir. Ilmu
akan menjadi obor bagi kehidupan. Ilmu akan menyelamatkan umat dari
keterpurukan dan ketertinggalan. Sebaliknya, terorisme hanya akan meninggalkan
nestapa, luka dan kesedihan yang amat mendalam bagi korban dan keluarganya.
Beliau juga mengajurkan pelajar harus memiliki moralitas tinggi dan pembelajaran.
Moralitas pelajar dan pembelajaran menurut Kyai Hasyim ini, pertama. Seorang
pembelajar harus membersihkan hati dari segala keburukan, dengki dan akhlak
buruk. Kedua, seorang pembelajar harus mempunyai niat yang tulus dalam mencari
ilmu, ketiga, seorang pembelajar hendaknya mengisi masa mudanya dengan ilmu
sebanyak-banyaknya. Keempat, seorang pelajar sejatinya harus menerima keadaan
yang serba penuh keterbatasan, apa adanya dan tidak mewah merupakan sumber dari
ilmu dari kearifan. Kelima, seorang pelajar harus menata dan membagi waktu
dengan sebaik-baiknya, keenam, seorang pelajar harus bisa mengatur makanan dan
minuman. Ketujuh, seorang pembelajar sejatinya menampakkan sikap asketis dan
penuh kehati-hatian, kedelapan, seorang pelajar mesti memperhatikan makanan
yang dapat menyebabkan lamban dalam berpikir dan malas, kesembilan, seorang
pelajar mesti mengatur ritme tidur, kesepuluh, seorang pelajar harus
meninggalkan pergaulan yang tidak bermanfaat. Dari segi persaudaraan dan
toleransi, Kyai Hasyim memandang agar setiap umat mempedomani persaudaran,
toleransi dan kebersamaan. Jangan sampai perbedaan menjadi jalan lapang bagi
perpecahan. Perbedaan harus dilihat sebagai rahmat dan yang terpenting adalah
meneguhkan spirit kemaslahatan umat. Islam memang pada hakikatnya adalah
perdamaian dan keselamatan. Penyerahan diri secara total kepada Tuhan harus
mampu membangun toleransi yang kuat sehingga agama tidak dibajak untuk
kepentingan kelompok tertentu yang kadang kala mengabsahkan kekerasan.
Toleransi menjadi suatu keniscayaan terutama dalam masyarakat prural. Ingatlah,
demokrasi tanpa toleransi akan melahirkan tatanan politik yang
otoritarianistis. Sedangkan toleransi tanpa demokrasi akan melahirkan
pseudo-toleransi, yaitu toleransi yang rentan menimbulkan konflik-konflik
komunal.
· Bagian
3 bertemakan tentang gerakan sosial keagamaan moderat yang garis besar isinya
antara lain: Menguraikan mengenai proses Nahdlatul Ulama sebagai gerbong muslim
moderat yang memiliki agenda untuk mencapai masyarakat muslim yang moderat. Di
bagian akhir disertakan juga lampiran yang berupa karya-karya Hadratussyaikh
Hasyim Asy’ari seperti; Mukaddimah Qanun asasi Nahdlatul Ulama, Risalah tentang
pentingnya bermahzab pada imam yang empat dan 40 hadis prinsip-prinsip Nahdlatul
Ulama.Jika saya boleh mengomentari keunggulan dari buku ini menurut
saya; Dari segi cover buku cukup menarik karena menampilkan gambar Kyai
Hasyim sehingga pembaca bisa langsung mengetahui bahwa isi buku itu pasti
menceritakan tentang biografi dan kisah seorang tokoh Pendiri NU yang merupakan
ulama moderat yang sangat berpengaruh hingga saat ini. Selain itu...Dari segi
isi buku juga menarik, misalnya; mengupas tentang kemoderatan dari
pandangan-pandangan sang ulama dalam menyikapi berbagai persoalan hidup, sikap
dan budi pekerti tokoh tersebut yang sangat mulia disertai juga kiat-kiat
menjadi pelajar yang baik sehingga pembaca bisa langsung mendapatkan manfaat
setelah membaca buku ini. Penuturan bahasa yang digunakan dalam tulisan juga
literer dan menunjukkan intelektualitas penulisnya. Jika boleh saya
memberi masukan tentang buku ini, seperti disebutkan pada halaman 82-83, Kyai
Hasyim mempunyai pergaulan luas. Ia dikenal akrab dengan K.H. Ahmad Dahlan
(Muhammadiyah) dan H.Oemar Said Tjokroaminoto (Sarekat Islam) dan Ahmad Surkati
(Al-Irsyad). Semestinya hal ini dapat penulis gali lebih dalam lagi sebagai
salah satu keunggulan yang dimiliki sang tokoh, hal ini bisa menjadi
bukti bahwa tokoh tersebut memang sangat moderat karena meskipun terdapat
berbagai perbedaan, misalnya: antara NU dengan Muhammadiyah atau yang lain,
namun para pelopor organisasi tersebut akrab dan saling menghormati perbedaan
yang ada. Jika ini dilakukan oleh penulis, tentunya para pembaca sedikit banyak
tergugah dalam menilai persoalan yang sekarang ini banyak terjadi, bahwa
perbedaan itu tidak perlu diperuncing dan dipertentangkan karena toh para
pelopornya saja bisa bersahabat dengan baik. Namun saya sebagai pembaca pun
memaklumi agaknya hal ini sulit dipaparkan karena memang susah untuk
mendapatkan kisah-kisah mengenai fakta sejarah yang sudah lama sekali berlalu.
Dan jika dipersilahkan untuk meralat beberapa kata dalam buku ini yang salah
ketik, saya menemukan; Pada halaman 183 baris 7, kata ‘bajik’
seharusnya ditulis ‘bijak.’ Dan pada halaman 199 baris 1, kata ‘memengaruhi’
lebih enak jika ditulis ‘mempengaruhi.’ Sekian tulisan saya semoga bisa
bermanfaat. (By: Bilqis Fitria Salsabiela)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar