Sabtu, 21 Maret 2015

BOCAH PEMULUNG SAMPAH

BOCAH PEMULUNG SAMPAH

BY: BILQIS FITRIA SALSABIELA

    Saya jadi ingat ketika berkunjung ke tempat kos teman saya yang tak jauh dari kampusnya, saya melihat ada dua orang bocah pemulung yang sedang bertengkar hebat, rupanya mereka memperebutkan sebuah gelas plastik mineral bekas yang ada di tong sampah, salah satu dari mereka menemukan terlebih dulu, namun sepertinya anak yang lain protes karena merasa bahwa tempat itu adalah daerah kawasannya memulung sampah, dia ingin merebut gelas mineral bekas yang ditemukan anak itu. Awalnya saya tak habis pikir kenapa mereka bertengkar begitu hebatnya hanya karena sebuah gelas plastik mineral bekas, bukankah nominalnya pun tak kurang dari lima ratus rupiah saja, itu pun kalau dalam keadaan yang masih dikemas utuh dan dijual di pasaran. Namun saya segera sadar bahwa sampah-sampah plastik itu merupakan alat pendulang rupiah untuk mereka.
           Untung saja ada orang yang segera melerai pertengkaran itu dan suasana pun menjadi tenang. Saya kembali dengan aktivitas saya dengan teman saya untuk belajar bersama, kami sesekali membahas kejadian tadi.  Dan sepulang dari tempat kosnya menuju rumah, saya melihat lagi salah satu anak pemulung yang bertengkar tadi, dia sedang menyusuri setiap jalanan dan berhenti di tong-tong sampah yang di lewatinya untuk memeriksa isi tong, saya memperhatikan bahwa sesekali dia menggunakan tangannya sendiri untuk memungut sampah plastik di dalam tong sampah itu, bahkan sesekali dia mengorek-ngorek isi tong sampah, meskipun ada alat berupa stik besi yang biasa digunakan oleh para pemulung untuk mengambil sampah plastik, namun rupanya kali ini tidak digunakannya. Saya menjadi prihatin karena keadaan tong sampah yang kotor dan banyak kuman itu tidak dihiraukan oleh si bocah pemulung sampah, dia mungkin sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti itu.
    Saya pun berpikir-pikir di dalam hati, setiap hari anak tersebut mencari sampah untuk membantu ekonomi keluarganya. Alangkah sayangnya, anak sekecil itu yang semestinya berada di sekolah untuk mendapatkan pendidikan, namun harus mencari uang guna sesuap nasi, sore hari itu saja dia masih berada di jalanan untuk mencari sampah-sampah plastik. Padahal seorang anak tidak seharusnya mencari uang karena sesungguhnya itu menjadi tanggung jawab orangtua dan anak juga memiliki hak untuk bermain dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depannya, si bocah pemulung sampah ini telah kehilangan hak bermain dan belajarnya karena harus mencari uang dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik ke dalam karung.
           Saya tidak hanya melihat satu atau dua orang anak saja yang berprofesi sebagai pemulung, namun banyak anak yang terpaksa menjadi bocah pemulung sampah untuk membantu keluarganya, kebetulan juga sentra pengumpulan sampah memang tak jauh dari situ, dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik yang kemudian di setor kepada pengumpul untuk di daur ulang, mereka akan mendapatkan sejumlah uang, namun ada banyak hal yang hilang, anak-anak  tersebut telah kehilangan hak bermain dan belajar, juga ancaman kesehatan karena setiap hari mereka bergelut dengan sampah-sampah yang bersahabat dengan kuman.
    Sesuai dengan ketentuan undang-undang, Anak-anak terlantar, seperti; para bocah pemulung sampah itu dipelihara oleh Negara, semestinya permasalahan ini menjadi salah satu fokus utama perhatian Pemerintah, namun hal ini masih terabaikan sampai sekarang, padahal anak-anak yang tumbuh di jalanan dengan kehidupan yang keras bisa berakibat buruk di masa depan, dampak negatifnya bisa menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial atau meningkatnya angka kriminalitas. Hal itu bukan hanya menjadi masalah dan tanggung jawab pemerintah saja, seyogyanya kita juga bisa memberikan sumbangsih untuk memecahkan masalah tersebut. Saya rasa pendidikan bisa menjadi salah satu solusi pencegahan dari dampak-dampak negatif tersebut. Pendidikan adalah hal  yang paling penting yang sangat diperlukan oleh mereka, mereka membutuhkan ilmu pengetahuan untuk membangun masa depannya, dengan bekal pendidikan yang baik, mereka diharapkan akan bisa mencapai cita-cita yang diinginkan.
    Kemudian saya berangan-angan, andai saya bisa membuat sekolah untuk para bocah pemulung sampah itu dengan tenaga-tenaga sukarela yang bersedia menjadi pengajar. Karena para bocah pemulung itu sudah selayaknya mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak lain yang mampu mengenyam pendidikan di sekolah. Saya berpikir lebih dalam lagi. Tenaga pengajarnya juga harus memiliki empati yang tinggi terhadap keadaan para bocah pemulung sampah sehingga tingkat kesabaran sangat diperlukan sekali dalam mendidik mereka, kesulitan demi kesulitan akan ditemui karena mengajar bocah pemulung sampah itu mungkin lebih sulit daripada mengajar anak-anak di sekolah yang biasa. Mereka sehari-hari berada di jalanan yang terbiasa dengan kehidupan yang keras sehingga para pengajar senantiasa memahami psikologis anak-anak tersebut. Mungkin juga akan sulit membujuk mereka untuk sekolah karena mereka sudah terbiasa mencari uang, namun dengan metode pendekatan persuasif yang dekat dengan dunia anak, diharapkan para bocah pemulung sampah akan tertarik untuk belajar, apalagi tidak di pungut biaya apapun alias gratis. Kemudian…Mengenai pelajaran yang perlu disampaikan di sekolah pemulung selain keterampilan belajar dasar, seperti; membaca dan menulis untuk memberantas tingkat buta huruf, adalah juga pendidikan kesehatan karena para bocah pemulung ini setiap harinya bersentuhan dengan kuman, para pengajar harus rajin memberikan pengarahan agar mereka memiliki kebiasaan untuk mencuci tangan dengan bersih dan menggunakan alat pelindung diri agar terhindar dari penyakit-penyakit yang bisa menyerang. Memang hal ini akan susah diterapkan, namun jika terus-menerus diingatkan bisa tumbuh kesadaran dari diri mereka untuk menjaga kesehatannya masing-masing karena kesehatan memang mahal harganya, jika bocah pemulung sampah itu sakit tentu akan merugikan dirinya sendiri karena si bocah harus berobat ke dokter yang membutuhkan biaya tak sedikit, dia pun tidak bisa bekerja untuk beberapa waktu sampai keadaannya pulih kembali.
     Di saat saya sibuk dengan pikiran ini dan itu tentang bocah pemulung sampah, teman saya menelpon dan  tiba-tiba membahas apa yang ada di pikiran saya. Wah, alangkah kebetulan sekali, teman saya menceritakan tentang kenalannya yang mendedikasikan diri untuk mengajar di sebuah sekolah pemulung, membantu para bocah pemulung itu mengerti bacaan atau tulisan. Saya jadi terharu, meskipun saya belum pernah bertemu dengannya namun timbul kekaguman saya padanya, saya sendiri tidak berani dekat dengan bocah-bocah pemulung sampah yang pernah saya lihat di jalanan, apalagi untuk mengajak ngobrol atau bahkan mengajar mereka.  Karena tidak semua anak berperilaku lembut dan santun. Saya masih ingat waktu saya naik angkot dan kebetulan saya sedang melihat ke jalan, pemandangannya itu sungguh membuat saya harus mengelus dada beberapa kali. Ada dua anak jalanan yang sedang berkelahi, salah satu anak mukanya dibenamkan dalam lubang jalan yang rusak yang penuh dengan air sehabis hujan. Mengingat kejadian itu membuat saya semakin kagum pada kenalan teman saya. Memang benar jika kita hanya berpikir, namun tidak berbuat sesuatu, maka itu samasaja dengan sia-sia. Mungkin saya tidak seberani kenalan teman saya itu, namun kita sebaiknya bisa berbuat sesuatu semampu kita untuk membantu. Itulah yang membuat saya mulai mempunyai kebiasaan untuk mengumpulkan botol-botol plastik bekas untuk diberikan kepada pemulung.  Semoga apa yang saya lakukan walaupun sedikit dapat membantu, meskipun tidak sehebat apa yang telah dilakukan kenalan teman saya itu.        

*****

  

Tidak ada komentar: