BOCAH PEMULUNG SAMPAH
BY: BILQIS FITRIA SALSABIELA
Saya
jadi ingat ketika berkunjung ke tempat kos teman saya yang tak jauh dari
kampusnya, saya melihat ada dua orang bocah pemulung yang sedang bertengkar
hebat, rupanya mereka memperebutkan sebuah gelas plastik mineral bekas yang ada
di tong sampah, salah satu dari mereka menemukan terlebih dulu, namun
sepertinya anak yang lain protes karena merasa bahwa tempat itu adalah daerah kawasannya
memulung sampah, dia ingin merebut gelas mineral bekas yang ditemukan anak itu.
Awalnya saya tak habis pikir kenapa mereka bertengkar begitu hebatnya hanya
karena sebuah gelas plastik mineral bekas, bukankah nominalnya pun tak kurang
dari lima ratus rupiah saja, itu pun kalau dalam keadaan yang masih dikemas
utuh dan dijual di pasaran. Namun saya segera sadar bahwa sampah-sampah
plastik itu merupakan alat pendulang rupiah untuk mereka.
Untung saja ada orang yang segera melerai
pertengkaran itu dan suasana pun menjadi tenang. Saya kembali dengan aktivitas
saya dengan teman saya untuk belajar bersama, kami sesekali membahas kejadian
tadi. Dan sepulang dari tempat kosnya
menuju rumah, saya melihat lagi salah satu anak pemulung yang bertengkar tadi,
dia sedang menyusuri setiap jalanan dan berhenti di tong-tong sampah yang di
lewatinya untuk memeriksa isi tong, saya memperhatikan bahwa sesekali dia
menggunakan tangannya sendiri untuk memungut sampah plastik di dalam tong
sampah itu, bahkan sesekali dia mengorek-ngorek isi tong sampah, meskipun ada
alat berupa stik besi yang biasa digunakan oleh para pemulung untuk mengambil
sampah plastik, namun rupanya kali ini tidak digunakannya. Saya menjadi
prihatin karena keadaan tong sampah yang kotor dan banyak kuman itu tidak
dihiraukan oleh si bocah pemulung sampah, dia mungkin sudah terbiasa dengan
keadaan yang seperti itu.
Saya
pun berpikir-pikir di dalam hati, setiap hari anak tersebut mencari sampah untuk
membantu ekonomi keluarganya. Alangkah sayangnya, anak sekecil itu yang
semestinya berada di sekolah untuk mendapatkan pendidikan, namun harus mencari
uang guna sesuap nasi, sore hari itu saja dia masih berada di jalanan untuk
mencari sampah-sampah plastik. Padahal seorang anak tidak seharusnya mencari
uang karena sesungguhnya itu menjadi tanggung jawab orangtua dan anak juga memiliki
hak untuk bermain dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depannya, si
bocah pemulung sampah ini telah kehilangan hak bermain dan belajarnya karena
harus mencari uang dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik ke dalam karung.
Saya tidak hanya melihat satu atau dua orang anak saja yang berprofesi sebagai pemulung, namun banyak anak yang terpaksa menjadi bocah pemulung sampah untuk membantu keluarganya, kebetulan juga sentra pengumpulan sampah memang tak jauh dari situ, dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik yang kemudian di setor kepada pengumpul untuk di daur ulang, mereka akan mendapatkan sejumlah uang, namun ada banyak hal yang hilang, anak-anak tersebut telah kehilangan hak bermain dan belajar, juga ancaman kesehatan karena setiap hari mereka bergelut dengan sampah-sampah yang bersahabat dengan kuman.
Saya tidak hanya melihat satu atau dua orang anak saja yang berprofesi sebagai pemulung, namun banyak anak yang terpaksa menjadi bocah pemulung sampah untuk membantu keluarganya, kebetulan juga sentra pengumpulan sampah memang tak jauh dari situ, dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik yang kemudian di setor kepada pengumpul untuk di daur ulang, mereka akan mendapatkan sejumlah uang, namun ada banyak hal yang hilang, anak-anak tersebut telah kehilangan hak bermain dan belajar, juga ancaman kesehatan karena setiap hari mereka bergelut dengan sampah-sampah yang bersahabat dengan kuman.
Sesuai
dengan ketentuan undang-undang, Anak-anak terlantar, seperti; para bocah
pemulung sampah itu dipelihara oleh Negara, semestinya permasalahan ini menjadi
salah satu fokus utama perhatian Pemerintah, namun hal ini masih terabaikan
sampai sekarang, padahal anak-anak yang tumbuh di jalanan dengan kehidupan yang
keras bisa berakibat buruk di masa depan, dampak negatifnya bisa menyebabkan terjadinya
kecemburuan sosial atau meningkatnya angka kriminalitas. Hal itu bukan hanya
menjadi masalah dan tanggung jawab pemerintah saja, seyogyanya kita juga bisa
memberikan sumbangsih untuk memecahkan masalah tersebut. Saya rasa pendidikan
bisa menjadi salah satu solusi pencegahan dari dampak-dampak negatif tersebut.
Pendidikan adalah hal yang paling
penting yang sangat diperlukan oleh mereka, mereka membutuhkan ilmu pengetahuan untuk membangun
masa depannya, dengan bekal pendidikan yang baik, mereka diharapkan akan bisa
mencapai cita-cita yang diinginkan.
Kemudian
saya berangan-angan, andai saya bisa membuat sekolah untuk para bocah pemulung sampah
itu dengan tenaga-tenaga sukarela yang bersedia menjadi pengajar. Karena para
bocah pemulung itu sudah selayaknya mendapatkan pendidikan yang sama dengan
anak-anak lain yang mampu mengenyam pendidikan di sekolah. Saya berpikir lebih
dalam lagi. Tenaga pengajarnya juga harus memiliki empati yang tinggi terhadap
keadaan para bocah pemulung sampah sehingga tingkat kesabaran sangat diperlukan
sekali dalam mendidik mereka, kesulitan demi kesulitan akan ditemui karena
mengajar bocah pemulung sampah itu mungkin lebih sulit daripada mengajar
anak-anak di sekolah yang biasa. Mereka sehari-hari berada di jalanan yang
terbiasa dengan kehidupan yang keras sehingga para pengajar senantiasa memahami
psikologis anak-anak tersebut. Mungkin juga akan sulit membujuk mereka untuk
sekolah karena mereka sudah terbiasa mencari uang, namun dengan metode
pendekatan persuasif yang dekat dengan dunia anak, diharapkan para bocah
pemulung sampah akan tertarik untuk belajar, apalagi tidak di pungut biaya apapun
alias gratis. Kemudian…Mengenai pelajaran yang perlu disampaikan di sekolah
pemulung selain keterampilan belajar dasar, seperti; membaca dan menulis untuk
memberantas tingkat buta huruf, adalah juga pendidikan kesehatan karena para
bocah pemulung ini setiap harinya bersentuhan dengan kuman, para pengajar harus
rajin memberikan pengarahan agar mereka memiliki kebiasaan untuk mencuci tangan
dengan bersih dan menggunakan alat pelindung diri agar terhindar dari
penyakit-penyakit yang bisa menyerang. Memang hal ini akan susah diterapkan,
namun jika terus-menerus diingatkan bisa tumbuh kesadaran dari diri mereka
untuk menjaga kesehatannya masing-masing karena kesehatan memang mahal
harganya, jika bocah pemulung sampah itu sakit tentu akan merugikan dirinya
sendiri karena si bocah harus berobat ke dokter yang membutuhkan biaya tak
sedikit, dia pun tidak bisa bekerja untuk beberapa waktu sampai keadaannya
pulih kembali.
Di
saat saya sibuk dengan pikiran ini dan itu tentang bocah pemulung sampah, teman
saya menelpon dan tiba-tiba membahas apa
yang ada di pikiran saya. Wah, alangkah kebetulan sekali, teman saya menceritakan
tentang kenalannya yang mendedikasikan diri untuk mengajar di sebuah sekolah
pemulung, membantu para bocah pemulung itu mengerti bacaan atau tulisan. Saya
jadi terharu, meskipun saya belum pernah bertemu dengannya namun timbul
kekaguman saya padanya, saya sendiri tidak berani dekat dengan bocah-bocah
pemulung sampah yang pernah saya lihat di jalanan, apalagi untuk mengajak
ngobrol atau bahkan mengajar mereka. Karena
tidak semua anak berperilaku lembut dan santun. Saya masih ingat waktu saya
naik angkot dan kebetulan saya sedang melihat ke jalan, pemandangannya itu
sungguh membuat saya harus mengelus dada beberapa kali. Ada dua anak jalanan
yang sedang berkelahi, salah satu anak mukanya dibenamkan dalam lubang jalan
yang rusak yang penuh dengan air sehabis hujan. Mengingat kejadian itu membuat
saya semakin kagum pada kenalan teman saya. Memang benar jika kita hanya
berpikir, namun tidak berbuat sesuatu, maka itu samasaja dengan sia-sia.
Mungkin saya tidak seberani kenalan teman saya itu, namun kita sebaiknya bisa
berbuat sesuatu semampu kita untuk membantu. Itulah yang membuat saya mulai mempunyai
kebiasaan untuk mengumpulkan botol-botol plastik bekas untuk diberikan kepada
pemulung. Semoga apa yang saya lakukan walaupun
sedikit dapat membantu, meskipun tidak sehebat apa yang telah dilakukan kenalan
teman saya itu.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar