Resensi Buku Larasati Karya Pramoedya Ananta Toer
By : Bilqis Fitria Salsabiela
Larasati adalah sebuah roman Revolusi karya
Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam
budaya Lentera surat kabar Bintang Timur, 2 april 1960 s/d 17 mei 1960. Sebagai
buku ‘Larasati’ diterbitkan oleh Penerbit Hasta Mitra. Tokoh utama dalam cerita
ini adalah Larasati; bintang film Ara yang terkenal, Ara meninggalkan pedalaman
untuk pergi ke Jakarta di saat-saat keadaan tanah air yang masih genting akibat
pendudukan NICA, Ara kemudian bertemu dengan seorang opsir yang memberinya
tugas untuk mencari ajudannya yang hilang, Ara lalu meneruskan perjalanannya
dengan kereta api dan disambut riuh para pemuda yang terbakar oleh semangat
revolusi dan kekaguman mereka pada seorang Ara, salah satu prajurit front memberinya selendang merah sebagai
tandamata. Di kantor stasiun para penumpang diturunkan untuk diperiksa, Sersan
menanyainya dengan kasar dan kemudian seseorang berpakaian preman berlarian
menuju kantor tersebut untuk menemui Ara. Dialah Mardjohan, dulunya seorang
penyiar di masa pendudukan Jepang, disitu pula Ara bertemu atasan Mardjohan
yang bernama Kolonel Surjo Sentono yang berniat meminta Ara bermain untuk
propaganda Belanda, namun Ara menolak karena dia berada di pihak Republik.
Surjo menyuruh Ara melihat-lihat penjara bersama Mardjohan diantar supirnya
yang bernama Martabat. Selama di perjalanan, Mardjohan membujuk Ara untuk
menyetujui ajakan Surjo Sentono, sementara diam-diam Martabat menguping
pembicaraan mereka. Ara tetap menolak dan ketika tiba di penjara, keadaannya begitu
memperhatinkan dan tak sengaja Ara bertemu dengan tahanan yang sedang sekarat;
Ketut Suratna yang tak lain adalah ajudan si opsir itu. Ara kemudian melarikan
diri dari penjara di bantu oleh Martabat. Dengan mobil, Martabat membawa Ara ke
kampungnya, dari situ Ara kemudian mengetahui bahwa Tabat adalah pemuda yang
sebenarnya memihak pada Republik. Di kampungnya itu Ara bertemu Kakek Mo dan
istrinya serta Lasmidjah; ibunya yang bekerja untuk orang Arab bernama Jusman.
Ketika melihat Ara, Jusman jatuh hati padanya dan ingin memilikinya. Sementara itu
keberadaan Ara di kampungnya bisa membuat bahaya, Apalagi di kampung itu sering
terjadi peperangan antar pemuda dengan pihak NICA. Ara dan Tabat sempat dicurigai
pemuda sebagai mata-mata Belanda, namun Ara berhasil meyakinkan mereka bahwa
dia memihak Republik dengan ikut berjuang bersama mereka. Pemimpin para pemuda
itu mati muda dalam perang karena terkena percikan granat yang dilemparnya
sendiri kearah musuh, keadaan menjadi semakin genting saja, Ara kemudian
meminta Tabat untuk menyampaikan beritanya dan pesan tentang ajudan yang hilang
itu pada opsir. Mereka kemudian berpisah. Ketika Ara berjalan-jalan, dia
bertemu Chaidir; seorang penyair muda yang sangat berapi-api, tapi pertemuan
mereka hanya singkat saja. Ara kembali ke kampung dan tak mau meninggalkan
kampungnya, meskipun Lasmidjah sudah memintanya. Dan Jusman ternyata
menggunakan caranya untuk mendapatkan Ara dengan menyuruh ibunya tidak
pulang-pulang sehingga Ara terpaksa memenuhi keinginan Jusman untuk menjadikan
Ara sebagai wanitanya, Jusman sangat tergila-gila pada Ara dan begitu mencintainya,
namun Ara tidak, dia mencintai revolusi. Suatu hari Ara mendengar berita
kematian Chaidir dan meminta Jusman membelikannya koran-koran untuk mengetahui
berita tentang Chaidir. Jusman tertembak oleh pemuda, namun dia ternyata menepati
janjinya untuk membeli koran-koran demi memenuhi permintaan Ara. Di saat Jusman
tak ada, Achmad; seorang pemuda Arab merayu Ara untuk bersenang-senang
dengannya, namun Ara menolak karena meskipun dia bukan istri Jusman, Ara tetap tidak
mau mengikuti kemauan Achmad. Jusman datang dan terbakar cemburu, namun dia
akhirnya sadar bahwa Ara tidak melakukan apa-apa dengan Achmad di rumahnya. Dia
meminta maaf dan beberapa waktu berlalu, Ara mengidap sakit. Jusman mengajaknya
untuk menikah, namun Ara menolak. Akhirnya Jusman pergi meninggalkan Ara. Waktu
terus berlalu, sampai terjadi perundingan KMB dan akhirnya revolusi menang. Ara
bertemu dengan Kapten Oding yang sudah lama dikenalnya dan sangat mencintainya.
Kapten Oding kemudian mengajak Ara menikah. Dan Lasmidjah dapat tinggal bersama
mereka.
Keunggulan:
Karakter yang kuat khususnya tokoh utama;
Larasati yang seorang wanita, pemain film yang tidak mau digunakan sebagai propaganda
Belanda, meskipun dia tidak bisa menggunakan senjata, namun Ara mendampingi para
pejuang dalam peperangan melawan NICA. Dia menggunakan caranya sendiri
memberikan diri dan segalanya untuk kemenangan revolusi.
Kekurangan:
·
Pada hlmn 5 tertulis: Saburo Sakai, itu
Letnan Kolonel Angkatan Laut Jepang, sahabat bekas perdana menteri dan
memimpin suatu partai Sosialis itu yang giat menentang kolaborasi dengan
Jepang! (Pembahasan : Sebagai pembaca, saya sempat bingung karena penulis
bercerita pada masa tahun 1945-1950, akan muncul pertanyaan siapa bekas PM itu
dan di tahun berapakah ini sedang terjadi? karena tercatat ada 2 PM yang pernah
memimpin partai Sosialis, yaitu; Soetan Sjahrir yang memimpin Partai Sosialis
(PARAS) dan Amir Sjarifuddin Harahap yang memimpin Partai Sosialis Indonesia
(PARSI), keduanya kemudian bergabung di tahun 1945 menjadi Partai Sosialis (PS),
kedua tokoh ini juga sama-sama menentang kerjasama dengan Jepang, Sjahrir
dengan membuat gerakan bawah tanah, sementara Amir dipenjarakan Jepang. Sjahrir
menjadi PM dari tahun 1945-1947 dan Amir menjadi PM dari tahun 1947-1948, jika
cerita ini settingnya terjadi sekitar tahun 1947 atau 1948 di era PM Amir atau
sesudahnya, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa maksud penulis adalah jelas Sjahrir
sebagai mantan perdana menteri. Namun jika setting tahunnya sekitar tahun 1946
atau 1947 semestinya penulis tidak perlu mencantumkan kata ‘bekas perdana
menteri’ tapi ‘perdana menteri’ saja untuk menegaskan bahwa saat itu Sjahrir
sedang menjabat sebagai PM. Diceritakan juga bahwa ibukota telah pindah ke
Jogjakarta (sejak 4 januari 1946), tapi tidak diberitahukan kalau cerita itu sedang
di tahun berapa. Apakah cerita ini di tahun 46, 47 atau sesudahnya? Kurangnya
penulis merinci kejadian tahun demi tahunnya dengan setting sejarah sehingga membuat
saya sebagai pembaca kebingungan.
· Pada hlmn 134 tertulis : Chaidir duduk
di samping kepala redaksi majalah “Arena” di depan perdana menteri yang juga
setinggi Chaidir, hanya gemuk dan tidak dekil, juga tidak bermata merah.
“Sandiwara?”
kata perdana menteri, “Apa yang bisa diperbuat dengan sandiwara dalam masa
orang tidak membutuhkan seni apapun juga sekarang ini?”
Dan
Chaidir dengan berapi-api membela seakan-akan sandiwara itu dirinya sendiri.
Di
hlmn 134 juga tertulis : Ia tatap pemuda itu kembali waktu pemuda itu bertanya,
“Kau ada uang, Ara? Aku lapar.”
Di
hlmn 136 tertulis : “Mari kita temui
Jassir, kritikus sastra kita. Sesudah itu, Uzman. Kau sudah kenal dia. Mereka
sudah punya rombongan sandiwara amatir.”
Di
hlmn 149 tertulis : Di sebuah pojok terdapat berita kecil “Penyair Chaidir
meninggal” dan dibawahnya “Bekas, Perdana Menteri…berpidato pada upacara
penguburannya.”
Di
hlmn 154 tertulis : Si perdana menteri
dalam upacara penguburannya itu pun tidak menterjemahkan deru dan gelagak
Revolusi ini. Nasib Revolusi! – dia tidak disebut-sebut orang lagi, biar pun
dialah sumber segala-galanya ini.
Dari
tulisan ini kita dapat menerka bahwa tokoh Chaidir yang penyair itu mirip
dengan Chairil Anwar dari ciri fisik, watak dan kebiasaannya yang terdapat di
hlmn 134 itu. Sementara di hlmn 154, ketika si penyair meninggal mantan PM
menghadiri pemakamannya, sangat mirip dengan Chairil Anwar yang meninggal pada
tanggal 29 April 1949 dan dikuburkan di TPU Karet. Sutan Sjahrir menghadiri
pemakaman sastrawan ‘angkatan 45’ yang merupakan keponakannya dari Medan itu. Pada
hlmn 136, kita mungkin dapat mengira-ngira juga bahwa Jassir adalah H.B. Jassin
sebagai salah
satu pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.
Disinilah
menurut saya letak kelemahan penulis karena berusaha memasukan tokoh-tokoh yang
pernah ada dan hidup di zaman itu dengan beberapa pandangan pribadinya,
semestinya penulis bisa mengedepankan netralitas diantara keberagaman pandangan
tentang sejarah di masa itu, misalnya juga, di hlmn 171 tertulis :
Perundingan-perundingan di negeri Belanda tidak menimbulkan sesuatu perasaan
agung di dalam hati mereka. Konperensi Meja Bundar! Disana-sini terdengar
ejekan : itulah kalau orang cuma pura-pura revolusioner!...... Dari beberapa
tulisannya ini, saya menyimpulkan bahwa penulis kental sekali memihak Barisan
Perjuangan yang menginginkan Indonesia Merdeka 100%, namun perlu dicermati
secara komprehensif bahwa kemenangan revolusi itu bukan hanya karena perang
senjata melawan penjajah, tapi juga lewat perundingan-perundingan, dari mulai
Linggajati sampai KMB. Perundingan ini diperlukan karena memang pada saat itu
kapabilitas Indonesia terutama persenjataan dan jumlah tentara masih kalah dengan
Belanda. Kedua jalan ini (peperangan dan perundingan) sebaiknya harus
diapresiasi karena telah mengantarkan pada kemenangan revolusi. Saya juga tidak
sependapat dengan penulis pada tulisan di hlmn 134 karena jika PM yang
dimaksudkan itu Sjahrir, penilaian penulis kurang objektif. Sjahrir adalah
seorang intelektual yang cinta pada seni dan malah sejak muda di AMS bersama
kawan-kawannya sudah membentuk Teater Batovis dengan sandiwara-sandiwara yang
menyemangati perjuangan melawan Belanda seperti: Zeer Vooruitstrevend. Sjahrir ketika di Belanda bersama Maria
Ulfah suka menikmati sandiwara teater lewat ‘Volks Huizen’ atau juga ‘The Merchant of Venice’ yang dimainkan
oleh anak-anak buruh dan memakai bahasa ‘volkstaal.’
Saat menjadi PM, Sjahrir berusaha membuat berbagai pagelaran seni agar membuka
mata internasional bahwa Indonesia itu negara merdeka dan bisa memimpin
sendiri. Dan pada hlmn 154, saya dapat menjawab kenapa Sjahrir tidak
menerjemahkan deru dan gelagak revolusi padahal dia seolah menjadi magnet bagi
para pemuda di zaman perjuangan kemerdekaan, karena Sjahrir tidak ingin semakin
memanaskan hati para pemuda yang terbakar api revolusi. Semboyan “Merdeka atau
Mati” dapat menjadi perangkap kejiwaan. Karena, selagi menyaksikan kemerdekaan
belum sepenuhnya terwujud sedangkan kesempatan untuk mati belum juga tiba, maka
para pemuda terombang-ambing dalam kebimbangan yang tak menentu. Ini semua terjadi
karena, menurut Sjahrir, selama Jepang berkuasa di Indonesia, para pemuda kita
hanya di latih untuk berbaris dan berkelahi, tapi tak pernah di latih untuk
memimpin (Sutan Sjahrir, t.t.:37-8) (dikutip dari buku; Sutan Sjahrir; Demokrat
Sejati, Pejuang Kemanusiaan.) Sjahrir mengajak pemuda untuk berpikir rasional
dan menghadapi penjajah dengan menggunakan otak, bukan selalu dengan jalan
peperangan, karena perang kita tidak akan selalu menang, jika kalah negara akan
kehilangan banyak pemuda yang menjadi tulang punggungnya. Perundingan
Linggajati bisa disebut kekalahan, tapi menginternasionalisasikan masalah
Indonesia ke forum PBB dan dukungan dari Negara-negara lain yang menyatakan
Indonesia sebagai negara merdeka adalah suatu kemenangan gemilang bagi Indonesia.
Itulah yang banyak dilupakan orang dari jasa seorang Sjahrir. Setiap orang
memang memiliki pendapatnya masing-masing dan saya sebagai pembaca tetap menghormati
penulis dengan pandangannya itu, meskipun terdapat perbedaan perspektif
diantara kami. Karena bagi saya, perbedaan adalah keragaman yang sebetulnya tidak
perlu dipertentangkan.)
******
Tidak ada komentar:
Posting Komentar