Minggu, 22 Maret 2015

RESENSI BUKU LARASATI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Resensi Buku Larasati Karya Pramoedya Ananta Toer
                           
By : Bilqis Fitria Salsabiela

Larasati adalah sebuah roman Revolusi karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam budaya Lentera surat kabar Bintang Timur, 2 april 1960 s/d 17 mei 1960. Sebagai buku ‘Larasati’ diterbitkan oleh Penerbit Hasta Mitra. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Larasati; bintang film Ara yang terkenal, Ara meninggalkan pedalaman untuk pergi ke Jakarta di saat-saat keadaan tanah air yang masih genting akibat pendudukan NICA, Ara kemudian bertemu dengan seorang opsir yang memberinya tugas untuk mencari ajudannya yang hilang, Ara lalu meneruskan perjalanannya dengan kereta api dan disambut riuh para pemuda yang terbakar oleh semangat revolusi dan kekaguman mereka pada seorang Ara, salah satu prajurit front memberinya selendang merah sebagai tandamata. Di kantor stasiun para penumpang diturunkan untuk diperiksa, Sersan menanyainya dengan kasar dan kemudian seseorang berpakaian preman berlarian menuju kantor tersebut untuk menemui Ara. Dialah Mardjohan, dulunya seorang penyiar di masa pendudukan Jepang, disitu pula Ara bertemu atasan Mardjohan yang bernama Kolonel Surjo Sentono yang berniat meminta Ara bermain untuk propaganda Belanda, namun Ara menolak karena dia berada di pihak Republik. Surjo menyuruh Ara melihat-lihat penjara bersama Mardjohan diantar supirnya yang bernama Martabat. Selama di perjalanan, Mardjohan membujuk Ara untuk menyetujui ajakan Surjo Sentono, sementara diam-diam Martabat menguping pembicaraan mereka. Ara tetap menolak dan ketika tiba di penjara, keadaannya begitu memperhatinkan dan tak sengaja Ara bertemu dengan tahanan yang sedang sekarat; Ketut Suratna yang tak lain adalah ajudan si opsir itu. Ara kemudian melarikan diri dari penjara di bantu oleh Martabat. Dengan mobil, Martabat membawa Ara ke kampungnya, dari situ Ara kemudian mengetahui bahwa Tabat adalah pemuda yang sebenarnya memihak pada Republik. Di kampungnya itu Ara bertemu Kakek Mo dan istrinya serta Lasmidjah; ibunya yang bekerja untuk orang Arab bernama Jusman. Ketika melihat Ara, Jusman jatuh hati padanya dan ingin memilikinya. Sementara itu keberadaan Ara di kampungnya bisa membuat bahaya, Apalagi di kampung itu sering terjadi peperangan antar pemuda dengan pihak NICA. Ara dan Tabat sempat dicurigai pemuda sebagai mata-mata Belanda, namun Ara berhasil meyakinkan mereka bahwa dia memihak Republik dengan ikut berjuang bersama mereka. Pemimpin para pemuda itu mati muda dalam perang karena terkena percikan granat yang dilemparnya sendiri kearah musuh, keadaan menjadi semakin genting saja, Ara kemudian meminta Tabat untuk menyampaikan beritanya dan pesan tentang ajudan yang hilang itu pada opsir. Mereka kemudian berpisah. Ketika Ara berjalan-jalan, dia bertemu Chaidir; seorang penyair muda yang sangat berapi-api, tapi pertemuan mereka hanya singkat saja. Ara kembali ke kampung dan tak mau meninggalkan kampungnya, meskipun Lasmidjah sudah memintanya. Dan Jusman ternyata menggunakan caranya untuk mendapatkan Ara dengan menyuruh ibunya tidak pulang-pulang sehingga Ara terpaksa memenuhi keinginan Jusman untuk menjadikan Ara sebagai wanitanya, Jusman sangat tergila-gila pada Ara dan begitu mencintainya, namun Ara tidak, dia mencintai revolusi. Suatu hari Ara mendengar berita kematian Chaidir dan meminta Jusman membelikannya koran-koran untuk mengetahui berita tentang Chaidir. Jusman tertembak oleh pemuda, namun dia ternyata menepati janjinya untuk membeli koran-koran demi memenuhi permintaan Ara. Di saat Jusman tak ada, Achmad; seorang pemuda Arab merayu Ara untuk bersenang-senang dengannya, namun Ara menolak karena meskipun dia bukan istri Jusman, Ara tetap tidak mau mengikuti kemauan Achmad. Jusman datang dan terbakar cemburu, namun dia akhirnya sadar bahwa Ara tidak melakukan apa-apa dengan Achmad di rumahnya. Dia meminta maaf dan beberapa waktu berlalu, Ara mengidap sakit. Jusman mengajaknya untuk menikah, namun Ara menolak. Akhirnya Jusman pergi meninggalkan Ara. Waktu terus berlalu, sampai terjadi perundingan KMB dan akhirnya revolusi menang. Ara bertemu dengan Kapten Oding yang sudah lama dikenalnya dan sangat mencintainya. Kapten Oding kemudian mengajak Ara menikah. Dan Lasmidjah dapat tinggal bersama mereka.               
Keunggulan:
Karakter yang kuat khususnya tokoh utama; Larasati yang seorang wanita, pemain film yang tidak mau digunakan sebagai propaganda Belanda, meskipun dia tidak bisa menggunakan senjata, namun Ara mendampingi para pejuang dalam peperangan melawan NICA. Dia menggunakan caranya sendiri memberikan diri dan segalanya untuk kemenangan revolusi.
Kekurangan:
·         Pada hlmn 5 tertulis: Saburo Sakai, itu Letnan Kolonel Angkatan Laut Jepang, sahabat bekas perdana menteri dan memimpin suatu partai Sosialis itu yang giat menentang kolaborasi dengan Jepang! (Pembahasan : Sebagai pembaca, saya sempat bingung karena penulis bercerita pada masa tahun 1945-1950, akan muncul pertanyaan siapa bekas PM itu dan di tahun berapakah ini sedang terjadi? karena tercatat ada 2 PM yang pernah memimpin partai Sosialis, yaitu; Soetan Sjahrir yang memimpin Partai Sosialis (PARAS) dan Amir Sjarifuddin Harahap yang memimpin Partai Sosialis Indonesia (PARSI), keduanya kemudian bergabung di tahun 1945 menjadi Partai Sosialis (PS), kedua tokoh ini juga sama-sama menentang kerjasama dengan Jepang, Sjahrir dengan membuat gerakan bawah tanah, sementara Amir dipenjarakan Jepang. Sjahrir menjadi PM dari tahun 1945-1947 dan Amir menjadi PM dari tahun 1947-1948, jika cerita ini settingnya terjadi sekitar tahun 1947 atau 1948 di era PM Amir atau sesudahnya, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa maksud penulis adalah jelas Sjahrir sebagai mantan perdana menteri. Namun jika setting tahunnya sekitar tahun 1946 atau 1947 semestinya penulis tidak perlu mencantumkan kata ‘bekas perdana menteri’ tapi ‘perdana menteri’ saja untuk menegaskan bahwa saat itu Sjahrir sedang menjabat sebagai PM. Diceritakan juga bahwa ibukota telah pindah ke Jogjakarta (sejak 4 januari 1946), tapi tidak diberitahukan kalau cerita itu sedang di tahun berapa. Apakah cerita ini di tahun 46, 47 atau sesudahnya? Kurangnya penulis merinci kejadian tahun demi tahunnya dengan setting sejarah sehingga membuat saya sebagai pembaca kebingungan.
·    Pada hlmn 134 tertulis : Chaidir duduk di samping kepala redaksi majalah “Arena” di depan perdana menteri yang juga setinggi Chaidir, hanya gemuk dan tidak dekil, juga tidak bermata merah.
“Sandiwara?” kata perdana menteri, “Apa yang bisa diperbuat dengan sandiwara dalam masa orang tidak membutuhkan seni apapun juga sekarang ini?”
Dan Chaidir dengan berapi-api membela seakan-akan sandiwara itu dirinya sendiri.
Di hlmn 134 juga tertulis : Ia tatap pemuda itu kembali waktu pemuda itu bertanya, “Kau ada uang, Ara? Aku lapar.”
Di hlmn 136 tertulis :  “Mari kita temui Jassir, kritikus sastra kita. Sesudah itu, Uzman. Kau sudah kenal dia. Mereka sudah punya rombongan sandiwara amatir.”
Di hlmn 149 tertulis : Di sebuah pojok terdapat berita kecil “Penyair Chaidir meninggal” dan dibawahnya “Bekas, Perdana Menteri…berpidato pada upacara penguburannya.”
Di hlmn 154 tertulis :  Si perdana menteri dalam upacara penguburannya itu pun tidak menterjemahkan deru dan gelagak Revolusi ini. Nasib Revolusi! – dia tidak disebut-sebut orang lagi, biar pun dialah sumber segala-galanya ini.
Dari tulisan ini kita dapat menerka bahwa tokoh Chaidir yang penyair itu mirip dengan Chairil Anwar dari ciri fisik, watak dan kebiasaannya yang terdapat di hlmn 134 itu. Sementara di hlmn 154, ketika si penyair meninggal mantan PM menghadiri pemakamannya, sangat mirip dengan Chairil Anwar yang meninggal pada tanggal 29 April 1949 dan dikuburkan di TPU Karet. Sutan Sjahrir menghadiri pemakaman sastrawan ‘angkatan 45’ yang merupakan keponakannya dari Medan itu. Pada hlmn 136, kita mungkin dapat mengira-ngira juga bahwa Jassir adalah H.B. Jassin sebagai salah satu pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia. Disinilah menurut saya letak kelemahan penulis karena berusaha memasukan tokoh-tokoh yang pernah ada dan hidup di zaman itu dengan beberapa pandangan pribadinya, semestinya penulis bisa mengedepankan netralitas diantara keberagaman pandangan tentang sejarah di masa itu, misalnya juga, di hlmn 171 tertulis : Perundingan-perundingan di negeri Belanda tidak menimbulkan sesuatu perasaan agung di dalam hati mereka. Konperensi Meja Bundar! Disana-sini terdengar ejekan : itulah kalau orang cuma pura-pura revolusioner!...... Dari beberapa tulisannya ini, saya menyimpulkan bahwa penulis kental sekali memihak Barisan Perjuangan yang menginginkan Indonesia Merdeka 100%, namun perlu dicermati secara komprehensif bahwa kemenangan revolusi itu bukan hanya karena perang senjata melawan penjajah, tapi juga lewat perundingan-perundingan, dari mulai Linggajati sampai KMB. Perundingan ini diperlukan karena memang pada saat itu kapabilitas Indonesia terutama persenjataan dan jumlah tentara masih kalah dengan Belanda. Kedua jalan ini (peperangan dan perundingan) sebaiknya harus diapresiasi karena telah mengantarkan pada kemenangan revolusi. Saya juga tidak sependapat dengan penulis pada tulisan di hlmn 134 karena jika PM yang dimaksudkan itu Sjahrir, penilaian penulis kurang objektif. Sjahrir adalah seorang intelektual yang cinta pada seni dan malah sejak muda di AMS bersama kawan-kawannya sudah membentuk Teater Batovis dengan sandiwara-sandiwara yang menyemangati perjuangan melawan Belanda seperti: Zeer Vooruitstrevend. Sjahrir ketika di Belanda bersama Maria Ulfah suka menikmati sandiwara teater lewat ‘Volks Huizen’  atau juga ‘The Merchant of Venice’ yang dimainkan oleh anak-anak buruh dan memakai bahasa ‘volkstaal.’ Saat menjadi PM, Sjahrir berusaha membuat berbagai pagelaran seni agar membuka mata internasional bahwa Indonesia itu negara merdeka dan bisa memimpin sendiri. Dan pada hlmn 154, saya dapat menjawab kenapa Sjahrir tidak menerjemahkan deru dan gelagak revolusi padahal dia seolah menjadi magnet bagi para pemuda di zaman perjuangan kemerdekaan, karena Sjahrir tidak ingin semakin memanaskan hati para pemuda yang terbakar api revolusi. Semboyan “Merdeka atau Mati” dapat menjadi perangkap kejiwaan. Karena, selagi menyaksikan kemerdekaan belum sepenuhnya terwujud sedangkan kesempatan untuk mati belum juga tiba, maka para pemuda terombang-ambing dalam kebimbangan yang tak menentu. Ini semua terjadi karena, menurut Sjahrir, selama Jepang berkuasa di Indonesia, para pemuda kita hanya di latih untuk berbaris dan berkelahi, tapi tak pernah di latih untuk memimpin (Sutan Sjahrir, t.t.:37-8) (dikutip dari buku; Sutan Sjahrir; Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan.) Sjahrir mengajak pemuda untuk berpikir rasional dan menghadapi penjajah dengan menggunakan otak, bukan selalu dengan jalan peperangan, karena perang kita tidak akan selalu menang, jika kalah negara akan kehilangan banyak pemuda yang menjadi tulang punggungnya. Perundingan Linggajati bisa disebut kekalahan, tapi menginternasionalisasikan masalah Indonesia ke forum PBB dan dukungan dari Negara-negara lain yang menyatakan Indonesia sebagai negara merdeka adalah suatu kemenangan gemilang bagi Indonesia. Itulah yang banyak dilupakan orang dari jasa seorang Sjahrir. Setiap orang memang memiliki pendapatnya masing-masing dan saya sebagai pembaca tetap menghormati penulis dengan pandangannya itu, meskipun terdapat perbedaan perspektif diantara kami. Karena bagi saya, perbedaan adalah keragaman yang sebetulnya tidak perlu dipertentangkan.)

******    
  

Tidak ada komentar: