Senin, 23 Maret 2015

CIRI-CIRI HAJI MABRUR

CIRI-CIRI HAJI MABRUR
OLEH : BILQIS FITRIA SALSABIELA

Sebelum menyebutkan ciri-ciri haji mabrur, terdapat beberapa istilah terkait dengan gelar haji, yakni; haji mabrur, haji makbul, dan haji mardud.
Haji mabrur adalah haji yang ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan diberikan hadiah, berupa; surga untuknya. Sedangkan haji makbul adalah haji yang ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan diberikan pahala yang berlimpah. Seorang haji mabrur sudah tentu adalah haji makbul, sementara seorang haji makbul belum tentu adalah haji mabrur. Beberapa sumber menyebutkan bahwa haji makbul samadengan haji mabrur. Dan haji mardud adalah haji yang ibadahnya ditolak oleh Allah SWT karena melakukan syirik, riya dan perbuatan tidak terpuji lainnya. Gelar-gelar tersebut hanya akan diberikan oleh Allah SWT karena Dia-lah Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Berikut ini adalah ciri-ciri haji mabrur, antara lain:  
  1. Haji dilakukan dengan niat Lillahi ta’ala bukan mengharapkan hal yang lain. Juga bukan untuk mendapatkan status sosial, gengsi atau ingin disebut haji oleh masyarakat. 
  2. Segala biaya dan nafkah beribadah haji berasal dari rejeki yang halal.
  3. Menjaga kebersihan hatinya dan menghilangkan segala bentuk kotoran hati, seperti; iri, dengki, amarah, dendam, dll.
  4. Melakukan serangkaian ibadah haji sesuai ketentuannya dan bersungguh-sungguh untuk mengharapkan keridhaan Allah SWT, dari awal manasik sampai selesai penyelenggaraan haji.
  5. Menghindari perselisihan dan pertengkaran dengan orang lain, perilakunya saling membantu, menasehati dan memaafkan jika terjadi kesalahan.
  6. Senantiasa menjaga lisan dan perbuatan yang tidak menyakiti hati orang lain.
  7. Meninggalkan berbagai kemaksiatan dan selalu mengingat akan akhirat.
  8. Selalu mengingat Allah SWT dengan memperbanyak baca Al Qur’an dan berdzikir.
  9. Melaksanakan pokok-pokok kebajikan yang terdapat pada penjelasan dalam Al’Qur’an di surat Al Baqarah (Sapi Betina) atau surat ke 2 ayat 177, yang artinya; "Bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa."
  10. Menunaikan nazarnya apabila ia bernazar karena barangsiapa bernazar untuk melakukan ketaatan kepada Allah, maka hendaknya dia menaati-Nya. Hal ini juga terdapat pada penjelasan dalam Al’Qur’an di surat Al Insaan (Manusia) atau surat ke 76 ayat ke 5-10, yang artinya:
  • Ayat 5 : Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Kafur ialah nama suatu mata air di surga yang airnya putih dan baunya sedap serta enak sekali rasanya.)
  • Ayat 6 : (yaitu) mata air (dalam surga) yang dari padanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.
  • Ayat 7 : Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata dimana-mana.
  • Ayat 8 : Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.
  • Ayat 9 : Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
  • Ayat 10 : Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang ( di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan. 
  • Demikian kupasan singkat mengenai ciri-ciri haji mabrur, semoga bermanfaat bagi para pembaca. J

INDIGO BUKAN KLENIK!

INDIGO BUKAN KLENIK!
BY : BILQIS FITRIA SALSABIELA

Saya rasa salah kaprah jika menilai bahwa anak-anak yang indigo sudah pasti memiliki kemampuan untuk melihat mahluk-mahluk gaib seperti yang marak ada di tayangan-tayangan televisi. Menurut saya…Anak indigo adalah anak yang memiliki sensitivitas atau kepekaan indera dan tingkat spriritualitas yang tinggi, kemampuan anak indigo itu berbeda-beda, jadi…Tidak semua anak indigo mempunyai kemampuan untuk melihat mahluk halus. Yang jelas anak indigo pasti dikaruniai kecerdasan yang tinggi, meskipun bukan dalam tingkatan yang paling tinggi.
Kecerdasan sesungguhnya terbagi dalam berbagai dimensi, seperti; dimensi seni, dimensi rasionalitas dan dimensi komunikasi. Seseorang yang memiliki kecerdasan dalam dimensi seni terlihat dari tingkat kreativitasnya yang sangat tinggi, sementara seseorang dengan kecerdasan dalam dimensi rasionalitas terlihat dalam kepiawaiannya menilai dan menyelesaikan masalah dengan mengunakan logika dan rasional, serta kecerdasan dalam dimensi komunikasi terlihat dari kemampuan seseorang dalam berkomunikasinya yang mahir.
Lalu…Bagaimana dengan anak indigo yang memiliki kecerdasan dalam dimensi yang berbeda-beda itu? Anak yang indigo terdeteksi dari auranya berwarna nila, namun kecerdasannya itu dapat dilihat dari bagaimana perilaku sehari-harinya. Anak Indigo dengan kecerdasan dalam dimensi seni terlihat begitu kreatif dan menikmati untuk menciptakan sesuatu. Jika seseorang yang berkreasi dalam menciptakan sebuah seni, dia akan mempergunakan lebih banyak otak kanannya untuk berimajinasi dan menuangkan imajinasi tersebut dalam membuat sebuah karya. Dan…Apakah anda mengetahui jika seorang ilmuwan, seperti; Albert Einstein sebenarnya adalah anak indigo? Einstein sebelum menciptakan teori relativitasnya melakukan aktivitas berimajinasi tingkat tinggi dengan menggunakan otak kanannya sebelum tercipta rumus-rumus tersebut. Sementara anak Indigo dengan dimensi rasionalitas jelas menonjol dalam segi logika ataupun ingatan yang tajam. Prestasi akademiknya pun sangat baik atau bisa dikategorikan juga sebagai anak jenius. Beberapa anak jenius di dunia ini juga ternyata adalah anak indigo. Dan yang terakhir…Anak indigo dengan dimensi komunikasi adalah anak yang mempunyai kemampuan berkomunikasi melebihi dimensi ruang dan waktu, banyak anak indigo yang memiliki kemampuan psikometri, precognition, clairvoyance, hypnosis dan bahkan telepati. Kemampuan berkomunikasi yang jelas-jelas berbeda dengan komunikasi orang biasa yang hal ini seringkali dinilai tidak masuk akal. Kemampuan ini dikarenakan oleh kepekaan perasaan anak indigo yang melebihi anak-anak lainnya, bisa dikatakan bahwa anak indigo memiliki indera keenam yang sangat tajam serta tingkat spiritualitas yang tinggi.
Indigo jelas bukan hal yang bersifat klenik, indigo adalah sebuah anugerah sekaligus ujian untuk anak yang dikaruniai kemampuan di atas rata-rata tersebut, sehingga diperlukan dukungan kuat dari orangtua dan lingkungannya karena hal ini tidaklah mudah bagi anak indigo. Misalnya; jika anda adalah seorang anak indigo dan anda melihat sesuatu yang belum terjadi saat ini, kemudian anda mengungkapkan persitiwa tersebut kepada orang lain, tidak sedikit orang yang akan percaya pada apa yang anda lihat atau rasakan. Bahkan anda bisa dicap memiliki kelainan psikologis atau gangguan jiwa karena mengungkapkan hal-hal yang aneh di luar logika dan rasional. Tentusaja orang lain tidak mudah memahami apa yang sudah dirasakan oleh anak indigo karena tidak mengalami sendiri kejadian demi kejadiannya. Itulah sebabnya anak-anak indigo harus mempunyai kesiapan mental dan bekal spiritualitas yang cukup. Jika seorang anak indigo merasakan adanya energi negatif yang besar, dia akan merasakan kesakitan yang luar biasa, padahal dia tidak sedang sakit. Jika dia terbentur dengan energi yang berlawanan dengannya, bisa saja dia berbuat ceroboh, seperti; menumpahkan sesuatu ketika melakukan pekerjaannya. Orang lain tentu tidak akan mengerti. Banyak anak indigo yang merasa tertekan dengan beratnya beban dalam pikiran dan perasaan, beban itu justru terkadang bukan merupakan masalahnya sendiri, tidak heran kalau banyak dari anak-anak indigo yang mengalami stress dan pernah melakukan percobaan bunuh diri akibat tidak tahan lagi menahan derita. Sekali lagi pendekatan spiritual sangat dibutuhkan bagi anak indigo dalam mengantisipasi hal ini. Mengenal Tuhan dan selalu mengingat-Nya adalah sebuah keharusan. Sesungguhnya di dalam anugerah yang besar terdapat cobaan yang berat dan di dalam cobaan yang berat terdapat anugerah yang besar. Disinilah diperlukannya kebijaksanaan hidup untuk menjadi seorang anak indigo.
Anak indigo memang rentan akan stress, misalnya; tanpa seseorang berbicara atau memberitahu  sebuah kejadian, anak indigo yang memiliki kemampuan menangkap gelombang dari benda hidup ataupun benda mati yang berkaitan akan mengetahui secara detail apa yang sedang terjadi tanpa melihat dan mendengar secara langsung kejadian tersebut, inilah kelebihan yang dimiliki oleh anak indigo karena dimensi komunikasinya jauh lebih luas. Namun jika yang terjadi lawan bicaranya itu berbohong mengenai kejadian sebenarnya, anak indigo bisa jadi hilang kepercayaan pada dirinya dan mengalami stress, sekali lagi kelebihan memang bisa menjadi kelemahan. Anda juga bisa membayangkannya bagaimana jika seorang anak indigo melihat sebuah peristiwa buruk akan terjadi di masa depan yang menimpa orang yang dikenalnya? Dan ternyata di kemudian hari memang terbukti seperti apa yang dilihatnya, pasti hal ini sangat berat untuk dihadapi karena anak indigo tersebut telah melihat kejadian itu sebelumnya. Informasi yang tepat seperti itu bukan berasal dari bisikan jin atau mahluk-mahluk gaib kepadanya. Hal ini adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Namun di samping kelebihan-kelebihan itu didalamnya terdapat penderitaan yang luar biasa. Mulai dari perasaan tersiksa dan tertekan karena telah melihat peristiwa sebelumnya, atau…bisa jadi sakit-sakit fisik, seperti; sakit kepala yang tak tertahankan, gangguan pencernaan, dll sampai pada perilaku-perilaku yang dinilai sangat aneh oleh lingkungan sekitarnya. Disinilah letaknya peranan dari orangtua dan sahabat yang sangat penting karena meskipun dengan banyak kelebihannya itu anak-anak indigo juga adalah manusia biasa yang sama dengan yang lain. Sekali lagi Indigo bukan sekedar kemampuan melihat mahluk halus atau hal-hal yang bersifat klenik.

*****

Minggu, 22 Maret 2015

RESENSI BUKU LARASATI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Resensi Buku Larasati Karya Pramoedya Ananta Toer
                           
By : Bilqis Fitria Salsabiela

Larasati adalah sebuah roman Revolusi karya Pramoedya Ananta Toer yang pertama kali terbit sebagai cerita bersambung dalam budaya Lentera surat kabar Bintang Timur, 2 april 1960 s/d 17 mei 1960. Sebagai buku ‘Larasati’ diterbitkan oleh Penerbit Hasta Mitra. Tokoh utama dalam cerita ini adalah Larasati; bintang film Ara yang terkenal, Ara meninggalkan pedalaman untuk pergi ke Jakarta di saat-saat keadaan tanah air yang masih genting akibat pendudukan NICA, Ara kemudian bertemu dengan seorang opsir yang memberinya tugas untuk mencari ajudannya yang hilang, Ara lalu meneruskan perjalanannya dengan kereta api dan disambut riuh para pemuda yang terbakar oleh semangat revolusi dan kekaguman mereka pada seorang Ara, salah satu prajurit front memberinya selendang merah sebagai tandamata. Di kantor stasiun para penumpang diturunkan untuk diperiksa, Sersan menanyainya dengan kasar dan kemudian seseorang berpakaian preman berlarian menuju kantor tersebut untuk menemui Ara. Dialah Mardjohan, dulunya seorang penyiar di masa pendudukan Jepang, disitu pula Ara bertemu atasan Mardjohan yang bernama Kolonel Surjo Sentono yang berniat meminta Ara bermain untuk propaganda Belanda, namun Ara menolak karena dia berada di pihak Republik. Surjo menyuruh Ara melihat-lihat penjara bersama Mardjohan diantar supirnya yang bernama Martabat. Selama di perjalanan, Mardjohan membujuk Ara untuk menyetujui ajakan Surjo Sentono, sementara diam-diam Martabat menguping pembicaraan mereka. Ara tetap menolak dan ketika tiba di penjara, keadaannya begitu memperhatinkan dan tak sengaja Ara bertemu dengan tahanan yang sedang sekarat; Ketut Suratna yang tak lain adalah ajudan si opsir itu. Ara kemudian melarikan diri dari penjara di bantu oleh Martabat. Dengan mobil, Martabat membawa Ara ke kampungnya, dari situ Ara kemudian mengetahui bahwa Tabat adalah pemuda yang sebenarnya memihak pada Republik. Di kampungnya itu Ara bertemu Kakek Mo dan istrinya serta Lasmidjah; ibunya yang bekerja untuk orang Arab bernama Jusman. Ketika melihat Ara, Jusman jatuh hati padanya dan ingin memilikinya. Sementara itu keberadaan Ara di kampungnya bisa membuat bahaya, Apalagi di kampung itu sering terjadi peperangan antar pemuda dengan pihak NICA. Ara dan Tabat sempat dicurigai pemuda sebagai mata-mata Belanda, namun Ara berhasil meyakinkan mereka bahwa dia memihak Republik dengan ikut berjuang bersama mereka. Pemimpin para pemuda itu mati muda dalam perang karena terkena percikan granat yang dilemparnya sendiri kearah musuh, keadaan menjadi semakin genting saja, Ara kemudian meminta Tabat untuk menyampaikan beritanya dan pesan tentang ajudan yang hilang itu pada opsir. Mereka kemudian berpisah. Ketika Ara berjalan-jalan, dia bertemu Chaidir; seorang penyair muda yang sangat berapi-api, tapi pertemuan mereka hanya singkat saja. Ara kembali ke kampung dan tak mau meninggalkan kampungnya, meskipun Lasmidjah sudah memintanya. Dan Jusman ternyata menggunakan caranya untuk mendapatkan Ara dengan menyuruh ibunya tidak pulang-pulang sehingga Ara terpaksa memenuhi keinginan Jusman untuk menjadikan Ara sebagai wanitanya, Jusman sangat tergila-gila pada Ara dan begitu mencintainya, namun Ara tidak, dia mencintai revolusi. Suatu hari Ara mendengar berita kematian Chaidir dan meminta Jusman membelikannya koran-koran untuk mengetahui berita tentang Chaidir. Jusman tertembak oleh pemuda, namun dia ternyata menepati janjinya untuk membeli koran-koran demi memenuhi permintaan Ara. Di saat Jusman tak ada, Achmad; seorang pemuda Arab merayu Ara untuk bersenang-senang dengannya, namun Ara menolak karena meskipun dia bukan istri Jusman, Ara tetap tidak mau mengikuti kemauan Achmad. Jusman datang dan terbakar cemburu, namun dia akhirnya sadar bahwa Ara tidak melakukan apa-apa dengan Achmad di rumahnya. Dia meminta maaf dan beberapa waktu berlalu, Ara mengidap sakit. Jusman mengajaknya untuk menikah, namun Ara menolak. Akhirnya Jusman pergi meninggalkan Ara. Waktu terus berlalu, sampai terjadi perundingan KMB dan akhirnya revolusi menang. Ara bertemu dengan Kapten Oding yang sudah lama dikenalnya dan sangat mencintainya. Kapten Oding kemudian mengajak Ara menikah. Dan Lasmidjah dapat tinggal bersama mereka.               
Keunggulan:
Karakter yang kuat khususnya tokoh utama; Larasati yang seorang wanita, pemain film yang tidak mau digunakan sebagai propaganda Belanda, meskipun dia tidak bisa menggunakan senjata, namun Ara mendampingi para pejuang dalam peperangan melawan NICA. Dia menggunakan caranya sendiri memberikan diri dan segalanya untuk kemenangan revolusi.
Kekurangan:
·         Pada hlmn 5 tertulis: Saburo Sakai, itu Letnan Kolonel Angkatan Laut Jepang, sahabat bekas perdana menteri dan memimpin suatu partai Sosialis itu yang giat menentang kolaborasi dengan Jepang! (Pembahasan : Sebagai pembaca, saya sempat bingung karena penulis bercerita pada masa tahun 1945-1950, akan muncul pertanyaan siapa bekas PM itu dan di tahun berapakah ini sedang terjadi? karena tercatat ada 2 PM yang pernah memimpin partai Sosialis, yaitu; Soetan Sjahrir yang memimpin Partai Sosialis (PARAS) dan Amir Sjarifuddin Harahap yang memimpin Partai Sosialis Indonesia (PARSI), keduanya kemudian bergabung di tahun 1945 menjadi Partai Sosialis (PS), kedua tokoh ini juga sama-sama menentang kerjasama dengan Jepang, Sjahrir dengan membuat gerakan bawah tanah, sementara Amir dipenjarakan Jepang. Sjahrir menjadi PM dari tahun 1945-1947 dan Amir menjadi PM dari tahun 1947-1948, jika cerita ini settingnya terjadi sekitar tahun 1947 atau 1948 di era PM Amir atau sesudahnya, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa maksud penulis adalah jelas Sjahrir sebagai mantan perdana menteri. Namun jika setting tahunnya sekitar tahun 1946 atau 1947 semestinya penulis tidak perlu mencantumkan kata ‘bekas perdana menteri’ tapi ‘perdana menteri’ saja untuk menegaskan bahwa saat itu Sjahrir sedang menjabat sebagai PM. Diceritakan juga bahwa ibukota telah pindah ke Jogjakarta (sejak 4 januari 1946), tapi tidak diberitahukan kalau cerita itu sedang di tahun berapa. Apakah cerita ini di tahun 46, 47 atau sesudahnya? Kurangnya penulis merinci kejadian tahun demi tahunnya dengan setting sejarah sehingga membuat saya sebagai pembaca kebingungan.
·    Pada hlmn 134 tertulis : Chaidir duduk di samping kepala redaksi majalah “Arena” di depan perdana menteri yang juga setinggi Chaidir, hanya gemuk dan tidak dekil, juga tidak bermata merah.
“Sandiwara?” kata perdana menteri, “Apa yang bisa diperbuat dengan sandiwara dalam masa orang tidak membutuhkan seni apapun juga sekarang ini?”
Dan Chaidir dengan berapi-api membela seakan-akan sandiwara itu dirinya sendiri.
Di hlmn 134 juga tertulis : Ia tatap pemuda itu kembali waktu pemuda itu bertanya, “Kau ada uang, Ara? Aku lapar.”
Di hlmn 136 tertulis :  “Mari kita temui Jassir, kritikus sastra kita. Sesudah itu, Uzman. Kau sudah kenal dia. Mereka sudah punya rombongan sandiwara amatir.”
Di hlmn 149 tertulis : Di sebuah pojok terdapat berita kecil “Penyair Chaidir meninggal” dan dibawahnya “Bekas, Perdana Menteri…berpidato pada upacara penguburannya.”
Di hlmn 154 tertulis :  Si perdana menteri dalam upacara penguburannya itu pun tidak menterjemahkan deru dan gelagak Revolusi ini. Nasib Revolusi! – dia tidak disebut-sebut orang lagi, biar pun dialah sumber segala-galanya ini.
Dari tulisan ini kita dapat menerka bahwa tokoh Chaidir yang penyair itu mirip dengan Chairil Anwar dari ciri fisik, watak dan kebiasaannya yang terdapat di hlmn 134 itu. Sementara di hlmn 154, ketika si penyair meninggal mantan PM menghadiri pemakamannya, sangat mirip dengan Chairil Anwar yang meninggal pada tanggal 29 April 1949 dan dikuburkan di TPU Karet. Sutan Sjahrir menghadiri pemakaman sastrawan ‘angkatan 45’ yang merupakan keponakannya dari Medan itu. Pada hlmn 136, kita mungkin dapat mengira-ngira juga bahwa Jassir adalah H.B. Jassin sebagai salah satu pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia. Disinilah menurut saya letak kelemahan penulis karena berusaha memasukan tokoh-tokoh yang pernah ada dan hidup di zaman itu dengan beberapa pandangan pribadinya, semestinya penulis bisa mengedepankan netralitas diantara keberagaman pandangan tentang sejarah di masa itu, misalnya juga, di hlmn 171 tertulis : Perundingan-perundingan di negeri Belanda tidak menimbulkan sesuatu perasaan agung di dalam hati mereka. Konperensi Meja Bundar! Disana-sini terdengar ejekan : itulah kalau orang cuma pura-pura revolusioner!...... Dari beberapa tulisannya ini, saya menyimpulkan bahwa penulis kental sekali memihak Barisan Perjuangan yang menginginkan Indonesia Merdeka 100%, namun perlu dicermati secara komprehensif bahwa kemenangan revolusi itu bukan hanya karena perang senjata melawan penjajah, tapi juga lewat perundingan-perundingan, dari mulai Linggajati sampai KMB. Perundingan ini diperlukan karena memang pada saat itu kapabilitas Indonesia terutama persenjataan dan jumlah tentara masih kalah dengan Belanda. Kedua jalan ini (peperangan dan perundingan) sebaiknya harus diapresiasi karena telah mengantarkan pada kemenangan revolusi. Saya juga tidak sependapat dengan penulis pada tulisan di hlmn 134 karena jika PM yang dimaksudkan itu Sjahrir, penilaian penulis kurang objektif. Sjahrir adalah seorang intelektual yang cinta pada seni dan malah sejak muda di AMS bersama kawan-kawannya sudah membentuk Teater Batovis dengan sandiwara-sandiwara yang menyemangati perjuangan melawan Belanda seperti: Zeer Vooruitstrevend. Sjahrir ketika di Belanda bersama Maria Ulfah suka menikmati sandiwara teater lewat ‘Volks Huizen’  atau juga ‘The Merchant of Venice’ yang dimainkan oleh anak-anak buruh dan memakai bahasa ‘volkstaal.’ Saat menjadi PM, Sjahrir berusaha membuat berbagai pagelaran seni agar membuka mata internasional bahwa Indonesia itu negara merdeka dan bisa memimpin sendiri. Dan pada hlmn 154, saya dapat menjawab kenapa Sjahrir tidak menerjemahkan deru dan gelagak revolusi padahal dia seolah menjadi magnet bagi para pemuda di zaman perjuangan kemerdekaan, karena Sjahrir tidak ingin semakin memanaskan hati para pemuda yang terbakar api revolusi. Semboyan “Merdeka atau Mati” dapat menjadi perangkap kejiwaan. Karena, selagi menyaksikan kemerdekaan belum sepenuhnya terwujud sedangkan kesempatan untuk mati belum juga tiba, maka para pemuda terombang-ambing dalam kebimbangan yang tak menentu. Ini semua terjadi karena, menurut Sjahrir, selama Jepang berkuasa di Indonesia, para pemuda kita hanya di latih untuk berbaris dan berkelahi, tapi tak pernah di latih untuk memimpin (Sutan Sjahrir, t.t.:37-8) (dikutip dari buku; Sutan Sjahrir; Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan.) Sjahrir mengajak pemuda untuk berpikir rasional dan menghadapi penjajah dengan menggunakan otak, bukan selalu dengan jalan peperangan, karena perang kita tidak akan selalu menang, jika kalah negara akan kehilangan banyak pemuda yang menjadi tulang punggungnya. Perundingan Linggajati bisa disebut kekalahan, tapi menginternasionalisasikan masalah Indonesia ke forum PBB dan dukungan dari Negara-negara lain yang menyatakan Indonesia sebagai negara merdeka adalah suatu kemenangan gemilang bagi Indonesia. Itulah yang banyak dilupakan orang dari jasa seorang Sjahrir. Setiap orang memang memiliki pendapatnya masing-masing dan saya sebagai pembaca tetap menghormati penulis dengan pandangannya itu, meskipun terdapat perbedaan perspektif diantara kami. Karena bagi saya, perbedaan adalah keragaman yang sebetulnya tidak perlu dipertentangkan.)

******    
  

REVIEW BUKU HADRATUSSYAIKH HASYIM ASY'ARI

   Saya ingin sedikit mereview buku yang pernah saya baca tentang salah satu tokoh idola saya, yakni; Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari alias kakek dari Gusdur yang terkenal sebagai ulama NU yang moderat.
Judul buku: Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari; Moderasi, Keumatan dan Kebangsaan karya Zuhairi Misrawi.
    Buku ini ditulis oleh Zuhairi Misrawi dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Isi buku ini  diawali dengan kata pengantar yang ditulis oleh K.H.Salahuddin Wahid sebagai cucu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, dan DR.H.Nadirsyah Hosen, LLM, M.A. (Hons.), Ph.D sebagai dosen senior pada Fakultas Hukum, Universitas Wollongong dan Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) Australia-New Zealand, kemudian diteruskan dengan pendahuluan dan isi. Poin-poin yang disampaikan dalam buku ini  antara lain: Kyai Hasyim adalah sosok ulama yang berada di garda terdepan dalam melakukan pemberdayaan umat dan menggugah kesadaran kolektif agar tidak mudah bertekuk lutut di hadapan penjajah. Beliau juga telah menginspirasi banyak pihak agar berjihad dalam ranah pendidikan umat dan menjadikan paham Ahlusunnah wal Jamaah sebagai salah satu fondasi untuk pengembangan umat. Kyai Hasyim dalam khazanahnya mengajak kita untuk melihat sejarah islam secara holistik, tidak hanya pada petikan sejarah mutakhir, tapi juga pada masa kejayaan intelektualisme islam yang telah menjadikan islam sebagai agama ilmu dan kemajuan, agama peradaban dan keadaban. Kyai Hasyim telah mampu mencetak kalangan moderat yang cenderung toleran dan adil dalam melihat persoalan dari berbagai aspek, muslim moderat adalah toleransi dalam konteks persaudaraan kemanusiaan, membentangkan kembali khasanah moderasi islam. Organisasi yang didirikannya, yakni; Nahdlatul Ulama (NU) mempunyai kultur intelektualisme yang bersifat dinamis dan konstektual. Cara pandang ala ushul fiqh telah memungkinkan NU berperan lebih besar dalam isu-isu yang bersifat mondial, seperti demokrasi dan HAM. 
·     Bagian 1 dalam buku ini bertemakan tentang ulama peduli umat dan bangsa, garis besar isinya antara lain: Kyai Hasyim sebagai ulama nasionalis, hidupnya dipersembahkan untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Peran Kyai Hasyim dalam kemerdekaan tidaklah diragukan. Sejarah mencatat, ia berjibaku melawan penjajah dan tak mau bertekuk letut pada kehendak mereka. Beliau juga melihat perbedaan sebagai rahmat Tuhan. Dan perbedaan merupakan hal yang sudah niscaya dalam khazanah islam. Islam dipandang sebagai agama yang memberikan petunjuk dan membimbing umat dalam kebajikan dan kesabaran. Beliau merupakan seorang sosok ulama yang paripurna, yang tidak mewarisi paham keagamaan yang bertentangan dengan nilai-nilai kearifan lokal, kebangsaan dan keadaban. Beliau sangat menitikberatkan perihal pentingnya ulama sebagai sosok yang harus melestarikan nilai-nilai profetik, askestisisme dan intelektualisme. Beliau tidak hanya merupakan seorang pendidik, tetapi juga seorang pemimpin yang mengerti betul bagaimana sistem pendidikan dan kepemimpinan harus berjalan secara sinergis sehingga antara yang satu dan yang lain tidak saling menegasikan. NU sebagai organisasi yang didirikannya menjadi salah satu alat untuk membangun kekuatan yang lebih besar di kalangan umat islam pada umumnya dan para alim ulama pada khususnya. Kyai Hasyim selalu berusaha membina umat dengan baik, Beliau memimpin dengan menggunakan keteladanan dan totalitas dalam pengabdian. Hidupnya dihabiskan untuk membina umat melalui pesantren. Dalam komitmen kebangsaannya juga jelas terlihat dari memberikan fatwa untuk melawan penjajah, melarang naik hajji dengan Kapal Belanda dan Beliau pun menolak menerima bintang kehormatan dari Ratu Belanda Wilhelmina. Dalam karya-karyanya, Kyai Hasyim mampu meletakkan islam dalam bingkainya yang bersifat universal, yang mampu berdialog dan beradaptasi dengan realitas sosial sesuai dengan zamannya. Umat islam haruslah mempunyai pemahaman yang bersifat komprehensif terhadap ajarannya. Dari pemahaman yang mendalam tersebut, akan dilahirkan sebuah pemikiran yang bersifat konstruktif.
·    Bab 2 bertemakan tentang pemikiran-pemikiran moderat yang garis besar isinya antara lain:  Paham keagamaan Nahdlatul Ulama yang mana mengikuti ijtihad-ijtihad para ulama terdahulu yang sudah diakui integritasnya merupakan sebuah keniscayaan, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai kemampuan berijtihad. Semakin jelas paham yang telah diyakini oleh Kyai Hasyim yaitu agar kita tidak mudah memperlakukan orang lain sebagai bid’ah atau sesat. Ahlusunnah wal Jamaah memang menawarkan gagasan besar agar islam menjadi agama yang mampu menyerap khazanah masa lalu, di samping tidak kehilangan nuansa kekiniannya. Kompatibilitas antara nilai-nilai universal islam dan kearifan lokal merupakan perpaduan yang menjadikan corak islam menjadi semakin ramah, sejuk dan toleran. Yang terpenting dari semua, pemahaman keislaman tidak kehilangan corak kedalaman akademis dan rasionalitasnya. Kyai Hasyim juga mengajarkan untuk mencintai Nabi Muhammad SAW. Menurut Kyai Hasyim, setiap Muslim sejatinya menjadikan cinta kepada Nabi sebagai landasan yang kuat dalam keberagaman mereka. Cinta ini merupakan jalan menuju kemenangan, baik di dunia maupun akhirat. Pesan Beliau adalah bahwasanya seorang Muslim diperintahkan agar mengisi hari-harinya dengan pikiran yang jernih untuk melakukan kebajikan, kedua, memperbanyak zikir untuk mengingat nabi, ketiga, mencintai orang-orang yang dicintai oleh Muhammad SAW, yaitu; para keluarga, ahlulbait, para sahabat, baik muhajirin maupun ansar, keempat, meninggalkan hal-hal yang dibenci dan dilarang Tuhan, kelima, gemar membaca Al-Qur’an, memahami isi dan berakhlak sebagaimana akhlak yang dianjurkan Al-Qur’an, keenam, mencintai sesama sebagaimana diteladankan oleh Muhammad SAW. Dan salah satu yang khas dari keberislaman Muslim di Tanah Air adalah wajah ramah dan toleran dari islam, wajah islam yang dapat menghargai kebhinekaan dan menebarkan kedamaian. Dalam cinta akan lahir kehendak untuk merangkul, bukan untuk memukul. Sementara dalam kesabaran akan terbangun kesiapan mental untuk saling mengisi dan menyempurnakan. Dalam memandang ilmu, Kyai Hasyim dalam kitabnya menegaskan bahwa jalan orang-orang yang berilmu lebih mulia daripada jalan orang-orang yang menjadi martir. Ilmu akan menjadi obor bagi kehidupan. Ilmu akan menyelamatkan umat dari keterpurukan dan ketertinggalan. Sebaliknya, terorisme hanya akan meninggalkan nestapa, luka dan kesedihan yang amat mendalam bagi korban dan keluarganya. Beliau juga mengajurkan pelajar harus memiliki moralitas tinggi dan pembelajaran. Moralitas pelajar dan pembelajaran menurut Kyai Hasyim ini, pertama. Seorang pembelajar harus membersihkan hati dari segala keburukan, dengki dan akhlak buruk. Kedua, seorang pembelajar harus mempunyai niat yang tulus dalam mencari ilmu, ketiga, seorang pembelajar hendaknya mengisi masa mudanya dengan ilmu sebanyak-banyaknya. Keempat, seorang pelajar sejatinya harus menerima keadaan yang serba penuh keterbatasan, apa adanya dan tidak mewah merupakan sumber dari ilmu dari kearifan. Kelima, seorang pelajar harus menata dan membagi waktu dengan sebaik-baiknya, keenam, seorang pelajar harus bisa mengatur makanan dan minuman. Ketujuh, seorang pembelajar sejatinya menampakkan sikap asketis dan penuh kehati-hatian, kedelapan, seorang pelajar mesti memperhatikan makanan yang dapat menyebabkan lamban dalam berpikir dan malas, kesembilan, seorang pelajar mesti mengatur ritme tidur, kesepuluh, seorang pelajar harus meninggalkan pergaulan yang tidak bermanfaat. Dari segi persaudaraan dan toleransi, Kyai Hasyim memandang agar setiap umat mempedomani persaudaran, toleransi dan kebersamaan. Jangan sampai perbedaan menjadi jalan lapang bagi perpecahan. Perbedaan harus dilihat sebagai rahmat dan yang terpenting adalah meneguhkan spirit kemaslahatan umat. Islam memang pada hakikatnya adalah perdamaian dan keselamatan. Penyerahan diri secara total kepada Tuhan harus mampu membangun toleransi yang kuat sehingga agama tidak dibajak untuk kepentingan kelompok tertentu yang kadang kala mengabsahkan kekerasan. Toleransi menjadi suatu keniscayaan terutama dalam masyarakat prural. Ingatlah, demokrasi tanpa toleransi akan melahirkan tatanan politik yang otoritarianistis. Sedangkan toleransi tanpa demokrasi akan melahirkan pseudo-toleransi, yaitu toleransi yang rentan menimbulkan konflik-konflik komunal.
·    Bagian 3 bertemakan tentang gerakan sosial keagamaan moderat yang garis besar isinya antara lain: Menguraikan mengenai proses Nahdlatul Ulama sebagai gerbong muslim moderat yang memiliki agenda untuk mencapai masyarakat muslim yang moderat. Di bagian akhir disertakan juga lampiran yang berupa karya-karya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari seperti; Mukaddimah Qanun asasi Nahdlatul Ulama, Risalah tentang pentingnya bermahzab pada imam yang empat dan 40 hadis prinsip-prinsip Nahdlatul Ulama.Jika saya boleh mengomentari keunggulan dari buku ini menurut saya; Dari segi cover buku cukup menarik karena menampilkan gambar Kyai Hasyim sehingga pembaca bisa langsung mengetahui bahwa isi buku itu pasti menceritakan tentang biografi dan kisah seorang tokoh Pendiri NU yang merupakan ulama moderat yang sangat berpengaruh hingga saat ini. Selain itu...Dari segi isi buku juga menarik, misalnya; mengupas tentang kemoderatan dari pandangan-pandangan sang ulama dalam menyikapi berbagai persoalan hidup, sikap dan budi pekerti tokoh tersebut yang sangat mulia disertai juga kiat-kiat menjadi pelajar yang baik sehingga pembaca bisa langsung mendapatkan manfaat setelah membaca buku ini. Penuturan bahasa yang digunakan dalam tulisan juga literer dan menunjukkan intelektualitas penulisnya.  Jika boleh saya memberi masukan tentang buku ini, seperti disebutkan pada halaman 82-83, Kyai Hasyim mempunyai pergaulan luas. Ia dikenal akrab dengan K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) dan H.Oemar Said Tjokroaminoto (Sarekat Islam) dan Ahmad Surkati (Al-Irsyad). Semestinya hal ini dapat penulis gali lebih dalam lagi sebagai salah satu  keunggulan yang dimiliki sang tokoh, hal ini bisa menjadi bukti bahwa tokoh tersebut memang sangat moderat karena meskipun terdapat berbagai perbedaan, misalnya: antara NU dengan Muhammadiyah atau yang lain, namun para pelopor organisasi tersebut akrab dan saling menghormati perbedaan yang ada. Jika ini dilakukan oleh penulis, tentunya para pembaca sedikit banyak tergugah dalam menilai persoalan yang sekarang ini banyak terjadi, bahwa perbedaan itu tidak perlu diperuncing dan dipertentangkan karena toh para pelopornya saja bisa bersahabat dengan baik. Namun saya sebagai pembaca pun memaklumi agaknya hal ini sulit dipaparkan karena memang susah untuk mendapatkan kisah-kisah mengenai fakta sejarah yang sudah lama sekali berlalu. Dan jika dipersilahkan untuk meralat beberapa kata dalam buku ini yang salah ketik, saya menemukan;  Pada halaman 183 baris 7, kata ‘bajik’ seharusnya ditulis ‘bijak.’ Dan pada halaman 199 baris 1, kata ‘memengaruhi’ lebih enak jika ditulis ‘mempengaruhi.’ Sekian tulisan saya semoga bisa bermanfaat. (By: Bilqis Fitria Salsabiela)

Sabtu, 21 Maret 2015

BOCAH PEMULUNG SAMPAH

BOCAH PEMULUNG SAMPAH

BY: BILQIS FITRIA SALSABIELA

    Saya jadi ingat ketika berkunjung ke tempat kos teman saya yang tak jauh dari kampusnya, saya melihat ada dua orang bocah pemulung yang sedang bertengkar hebat, rupanya mereka memperebutkan sebuah gelas plastik mineral bekas yang ada di tong sampah, salah satu dari mereka menemukan terlebih dulu, namun sepertinya anak yang lain protes karena merasa bahwa tempat itu adalah daerah kawasannya memulung sampah, dia ingin merebut gelas mineral bekas yang ditemukan anak itu. Awalnya saya tak habis pikir kenapa mereka bertengkar begitu hebatnya hanya karena sebuah gelas plastik mineral bekas, bukankah nominalnya pun tak kurang dari lima ratus rupiah saja, itu pun kalau dalam keadaan yang masih dikemas utuh dan dijual di pasaran. Namun saya segera sadar bahwa sampah-sampah plastik itu merupakan alat pendulang rupiah untuk mereka.
           Untung saja ada orang yang segera melerai pertengkaran itu dan suasana pun menjadi tenang. Saya kembali dengan aktivitas saya dengan teman saya untuk belajar bersama, kami sesekali membahas kejadian tadi.  Dan sepulang dari tempat kosnya menuju rumah, saya melihat lagi salah satu anak pemulung yang bertengkar tadi, dia sedang menyusuri setiap jalanan dan berhenti di tong-tong sampah yang di lewatinya untuk memeriksa isi tong, saya memperhatikan bahwa sesekali dia menggunakan tangannya sendiri untuk memungut sampah plastik di dalam tong sampah itu, bahkan sesekali dia mengorek-ngorek isi tong sampah, meskipun ada alat berupa stik besi yang biasa digunakan oleh para pemulung untuk mengambil sampah plastik, namun rupanya kali ini tidak digunakannya. Saya menjadi prihatin karena keadaan tong sampah yang kotor dan banyak kuman itu tidak dihiraukan oleh si bocah pemulung sampah, dia mungkin sudah terbiasa dengan keadaan yang seperti itu.
    Saya pun berpikir-pikir di dalam hati, setiap hari anak tersebut mencari sampah untuk membantu ekonomi keluarganya. Alangkah sayangnya, anak sekecil itu yang semestinya berada di sekolah untuk mendapatkan pendidikan, namun harus mencari uang guna sesuap nasi, sore hari itu saja dia masih berada di jalanan untuk mencari sampah-sampah plastik. Padahal seorang anak tidak seharusnya mencari uang karena sesungguhnya itu menjadi tanggung jawab orangtua dan anak juga memiliki hak untuk bermain dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk masa depannya, si bocah pemulung sampah ini telah kehilangan hak bermain dan belajarnya karena harus mencari uang dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik ke dalam karung.
           Saya tidak hanya melihat satu atau dua orang anak saja yang berprofesi sebagai pemulung, namun banyak anak yang terpaksa menjadi bocah pemulung sampah untuk membantu keluarganya, kebetulan juga sentra pengumpulan sampah memang tak jauh dari situ, dengan mengumpulkan sampah-sampah plastik yang kemudian di setor kepada pengumpul untuk di daur ulang, mereka akan mendapatkan sejumlah uang, namun ada banyak hal yang hilang, anak-anak  tersebut telah kehilangan hak bermain dan belajar, juga ancaman kesehatan karena setiap hari mereka bergelut dengan sampah-sampah yang bersahabat dengan kuman.
    Sesuai dengan ketentuan undang-undang, Anak-anak terlantar, seperti; para bocah pemulung sampah itu dipelihara oleh Negara, semestinya permasalahan ini menjadi salah satu fokus utama perhatian Pemerintah, namun hal ini masih terabaikan sampai sekarang, padahal anak-anak yang tumbuh di jalanan dengan kehidupan yang keras bisa berakibat buruk di masa depan, dampak negatifnya bisa menyebabkan terjadinya kecemburuan sosial atau meningkatnya angka kriminalitas. Hal itu bukan hanya menjadi masalah dan tanggung jawab pemerintah saja, seyogyanya kita juga bisa memberikan sumbangsih untuk memecahkan masalah tersebut. Saya rasa pendidikan bisa menjadi salah satu solusi pencegahan dari dampak-dampak negatif tersebut. Pendidikan adalah hal  yang paling penting yang sangat diperlukan oleh mereka, mereka membutuhkan ilmu pengetahuan untuk membangun masa depannya, dengan bekal pendidikan yang baik, mereka diharapkan akan bisa mencapai cita-cita yang diinginkan.
    Kemudian saya berangan-angan, andai saya bisa membuat sekolah untuk para bocah pemulung sampah itu dengan tenaga-tenaga sukarela yang bersedia menjadi pengajar. Karena para bocah pemulung itu sudah selayaknya mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak-anak lain yang mampu mengenyam pendidikan di sekolah. Saya berpikir lebih dalam lagi. Tenaga pengajarnya juga harus memiliki empati yang tinggi terhadap keadaan para bocah pemulung sampah sehingga tingkat kesabaran sangat diperlukan sekali dalam mendidik mereka, kesulitan demi kesulitan akan ditemui karena mengajar bocah pemulung sampah itu mungkin lebih sulit daripada mengajar anak-anak di sekolah yang biasa. Mereka sehari-hari berada di jalanan yang terbiasa dengan kehidupan yang keras sehingga para pengajar senantiasa memahami psikologis anak-anak tersebut. Mungkin juga akan sulit membujuk mereka untuk sekolah karena mereka sudah terbiasa mencari uang, namun dengan metode pendekatan persuasif yang dekat dengan dunia anak, diharapkan para bocah pemulung sampah akan tertarik untuk belajar, apalagi tidak di pungut biaya apapun alias gratis. Kemudian…Mengenai pelajaran yang perlu disampaikan di sekolah pemulung selain keterampilan belajar dasar, seperti; membaca dan menulis untuk memberantas tingkat buta huruf, adalah juga pendidikan kesehatan karena para bocah pemulung ini setiap harinya bersentuhan dengan kuman, para pengajar harus rajin memberikan pengarahan agar mereka memiliki kebiasaan untuk mencuci tangan dengan bersih dan menggunakan alat pelindung diri agar terhindar dari penyakit-penyakit yang bisa menyerang. Memang hal ini akan susah diterapkan, namun jika terus-menerus diingatkan bisa tumbuh kesadaran dari diri mereka untuk menjaga kesehatannya masing-masing karena kesehatan memang mahal harganya, jika bocah pemulung sampah itu sakit tentu akan merugikan dirinya sendiri karena si bocah harus berobat ke dokter yang membutuhkan biaya tak sedikit, dia pun tidak bisa bekerja untuk beberapa waktu sampai keadaannya pulih kembali.
     Di saat saya sibuk dengan pikiran ini dan itu tentang bocah pemulung sampah, teman saya menelpon dan  tiba-tiba membahas apa yang ada di pikiran saya. Wah, alangkah kebetulan sekali, teman saya menceritakan tentang kenalannya yang mendedikasikan diri untuk mengajar di sebuah sekolah pemulung, membantu para bocah pemulung itu mengerti bacaan atau tulisan. Saya jadi terharu, meskipun saya belum pernah bertemu dengannya namun timbul kekaguman saya padanya, saya sendiri tidak berani dekat dengan bocah-bocah pemulung sampah yang pernah saya lihat di jalanan, apalagi untuk mengajak ngobrol atau bahkan mengajar mereka.  Karena tidak semua anak berperilaku lembut dan santun. Saya masih ingat waktu saya naik angkot dan kebetulan saya sedang melihat ke jalan, pemandangannya itu sungguh membuat saya harus mengelus dada beberapa kali. Ada dua anak jalanan yang sedang berkelahi, salah satu anak mukanya dibenamkan dalam lubang jalan yang rusak yang penuh dengan air sehabis hujan. Mengingat kejadian itu membuat saya semakin kagum pada kenalan teman saya. Memang benar jika kita hanya berpikir, namun tidak berbuat sesuatu, maka itu samasaja dengan sia-sia. Mungkin saya tidak seberani kenalan teman saya itu, namun kita sebaiknya bisa berbuat sesuatu semampu kita untuk membantu. Itulah yang membuat saya mulai mempunyai kebiasaan untuk mengumpulkan botol-botol plastik bekas untuk diberikan kepada pemulung.  Semoga apa yang saya lakukan walaupun sedikit dapat membantu, meskipun tidak sehebat apa yang telah dilakukan kenalan teman saya itu.        

*****

  

SELAMAT ULANG TAHUN, SJAHRIR!

Selamat ulang tahun, sJAHRIR!

BY: BILQIS FITRIA SALSABIELA

 Sutan Sjahrir adalah sosok yang telah terlupakan, padahal Beliau merupakan Nahkoda Republik Indonesia dan Perdana Menteri yang pertama, Menteri Dalam Negeri dan Luar Negeri serta penasehat Presiden, selain itu di masa hidupnya Beliau telah mendedikasikan diri sebagai pedagog sejati, pokrol bambu dan pejuang bagi kemanusiaan.
       Di masa kemerdekaan Republik Indonesia, Sjahrir bagaikan sebuah magnet yang memiliki kekuatan magis dalam menyuntikkan kesegaran-kesegaran berpikir para pemuda, Sjahrir tidak memanaskan gejolak hati pemuda yang mudah sekali terbakar dengan retorika, Sjahrir berhasil menciptakan sebuah kosmologi cara berpikir yang sangat matang dan moderat untuk mencapai suatu tujuan yang rasional. Sjahrir rupanya sangat menyadari bahwa saat muda, api idealisme anak muda sangat tinggi membara seolah-olah mampu mengubah dunia dalam sekejap, meskipun sebenarnya hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sjahrir sanggup menggiring para pemuda pada kematangan berpolitik. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa pengaruh Sjahrir melekat kuat saat dari dulu bahkan sampai saat ini. Para pemuda dari berbagai kalangan di masa perjuangan melawan Jepang baik kelompok Menteng 31, Prapatan 10 atau kelompok pemuda lainnya akan datang berbondong-bondong pada Sjahrir. Sjahrir dan para pemuda memang terkadang memiliki perbedaan pendapat, namun perbedaan mereka dapat dipersatukan oleh satu tujuan yang sama, yakni; kemerdekaan bagi Indonesia. Pengaruhnya memang tak lekas hilang di telan perubahan zaman, sampai saat ini masih ada anak-anak muda yang berpatron pada Sjahrir.
      Meresapi kisah Sjahrir yang manis sekaligus dramatis, dapat kita ambil banyak hikmahnya dari kehidupan Beliau, misalnya; Sjahrir sebagai seorang Negarawan sanggup berjembar hati untuk tidak menyimpan dendam pada lawan-lawan politiknya atau bahkan orang yang telah menganiayanya. Ketika Sjahrir dipukul matanya dengan pistol oleh seorang Ambon, Sjahrir buru-buru mencegah tersebarnya berita tersebut demi persatuan bangsa, Sjahrir tidak ingin adanya perpecahan di antara bangsa sendiri. Sangat ironis dengan keadaan saat ini dimana para politisi negeri ini mempunyai sifat tropenkolder yang telah membudaya, yakni; sifat cepat marah dan tersinggung yang menyulut pada permusuhan dan friksi. Penyakit ini telah menjangkit dari atas sampai ke bawah. Itulah bedanya karakter intelektualitas Sjahrir yang mampu menekan seluruh amarahnya agar tidak tercipta perselisihan yang dapat memecahkan karang persatuan bangsa.
          Sjahrir juga adalah seseorang yang tidak berambisi terhadap kursi kekuasaan. Beliau menjadi Perdana Menteri karena sebuah tanggung jawab besar yang harus dipikulnya ketika saat itu Sekutu sebagai pemenang perang mengharuskan Indonesia berunding dengan Belanda, sementara Belanda enggan berunding dengan Sukarno dan Hatta yang dianggap sebagai kolaborator Jepang sehingga diperlukan posisi Perdana Menteri yang sosoknya netral, maka Sjahrir terpilih dan meskipun banyak pihak mengatakan bahwa Sjahrir lemah karena hasil Perjanjian Linggajati di tahun 1946 hanya mengakui tiga daerah saja; Sumatra, Jawa dan Madura, namun saat itu kekompakan Pemerintah Sukarno-Hatta-Sjahrir terlihat begitu jelas, dan apabila ditilik secara cermat mengenai jalan perundingan yang diambil PM.Sjahrir. Itu sebenarnya adalah pilihan yang paling rasional di kala kapabilitas Indonesia yang sangat jauh dibandingkan Belanda. Berpolitik tanpa ambisi akan jabatan dan kursi, alangkah ironisnya dengan keadaan saat ini yang berbanding seratus delapan puluh derajat. Bagi Sjahrir, politik adalah sebuah panggilan, seorang State-man harus bisa melayani rakyatnya, mencintainya dan mengedepankan kepentingan Negara di atas segalanya.
 Sjahrir mampu memberi arah perjuangan yang benar di masa revolusi kemerdekaaan. Prestasi gemilang yang dicetak Sjahrir di masa pemerintahannya yang cukup singkat itu (1945-1947) adalah berhasil meyakinkan banyak negara untuk mengakui kedaulatan Indonesia, seperti: India, Mesir dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Sjahrir yang terkenal cerdik juga melakukan strategi kancilnya dengan mengirimkan 500.000 ton beras yang di tahun 1946 terdapat surplus padi, Sjahrir berhasil menembus blockade Belanda dan mengirim beras ke India yang saat itu terkena bencana kelaparan. Tindakan Sjahrir ini menarik simpati India dan bahkan dunia Internasional, prestasi cemerlang lainnya yang diukir oleh Sjahrir adalah mampu menginternasionalisasikan masalah Indonesia di Dewan Keamanan PBB sehingga pihak Belanda telak dipermalukan oleh pihak Indonesia.
  Sjahrir juga terkenal dengan sifatnya yang humanis dan altruisme, Beliau pernah mengangkat anak-anak Banda menjadi anak angkatnya, Sjahrir mengajari mereka cara memandikan bayi, memasak dan menjahitkan sendiri pakaian untuk anak-anaknya. Sjahrir adalah seorang guru yang baik, bukan untuk anak-anak angkatnya saja, namun untuk anak-anak yang berada di tempat pengasingan, yang tidak memiliki kesempatan belajar di sekolah-sekolah formal. Beliau memang raja anak-anak, Sjahrir tidak pernah memarahi mereka, Sjahrir mengajari mereka dengan penuh semangat kebangsaan dan menanamkan rasa cinta pada tanah air, yakni; Indonesia.
  Jejak perjuangannya sudah dimulai sejak di AMS, Beliau telah belajar berpolitik sedari muda, Sjahrir mendirikan ‘Sekolah Rakyat’ bersama kawan-kawannya untuk memberantas buta huruf, menanamkan kecintaan rakyat terhadap tanah air dan kesadaran melawan feodalisme Belanda. Beliau dan kawan-kawannya membentuk kelompok teater yang dinamai ‘Batovis’ dan bersama beberapa kawannya, Beliau menjadi penulis skenario teaternya itu yang berisikan tema-tema perjuangan dan sosial untuk menyalakan api semangat perjuangan bagi kemerdekaan Indonesia.
    Di Negeri Belanda, Sjahrir bergabung dengan Perhimpunan Indonesia dan juga bekerja untuk organisasi buruh internasional. Sjahrir kembali ke Indonesia untuk memimpin PNI-Pendidikan sebelum Hatta datang. Ketika vergarded verbod diberlakukan pada organisasi mereka, Sjahrir dan Hatta dibuang ke Boven Digul, sebuah tempat pengasingan yang sangat liar, namun Sjahrir dengan tabah menjalani pembuangannya dan disana pula Beliau menjadi pengajar untuk anak-anak orang yang di beslit tersebut.
     Setahun kemudian, Sjahrir dan Hatta dipindahkan ke Banda Neira, Sjahrir pun menjadi pembela hukum bagi orang-orang yang terkena kasus hukum dan ketidakadilan, Beliau dengan cerdik meminta veteran KNIL sebagai penyambung lidahnya, kecerdasan Sjahrir juga terbukti dengan berhasil menyelesaikan masalah anak-anak muda di Banda yang suka berkelahi hanya karena permainan olahraga mereka kalah dari tim lawannya, Sjahrir dan masyarakat setempat akhirnya menemukan solusi terbaik untuk mengumpulkan para jago antar kampung ke dalam satu tim gabungan sehingga semua orang tidak punya alasan lagi untuk bermusuhan. Selain itu, Sjahrir juga mempunyai cara cerdik untuk memonopoli hasil kebun dan sayuran dari kapal yang datang, kemudian menjualnya di Koperasi, hasilnya dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.
       Itulah sekelumit kisah hidup seorang Sutan Sjahrir yang namanya semakin tenggelam dan terlupakan. Namun jasa-jasanya akan selalu tertoreh dalam tinta sejarah dan tak akan lekang di telan waktu. Selamat ulang tahun, Sjahrir! (05 Maret 1909).

*****