Sebuah Cerpen yang dibuat agar mengenyangkan otak pembaca untuk berpikir, teka-teki yang dapat dipecahkan dengan membaca kembali lembaran sejarah masa lampau. Semoga dapat membuka cakrawala pengetahuan bagi para pembaca. :)
TEKA-TEKI
KOTA PINTAR
OLEH
: BILQIS FITRIA SALSABIELA
Petra membuka perlahan kamar
Kakek, dia terperanjat bukan main ketika melihat ke sekeliling kamar yang sudah
berantakkan seperti kapal pecah, sementara batang hidung Sang Kakek tidak
ditemukannya. Jantung Petra berdetak semakin kencang, dia cepat-cepat berlari
ke kamar atas untuk memberitahu kedua saudaranya; Nayla dan Reno.
“Ayo, kita telpon
polisi!” usul Nayla dengan nada panik.
Reno segera melarang, “Jangan!
Nanti kita akan dimarahi oleh Om dan Tante, kita harus mencarinya dulu, siapa
tahu kita bisa menemukan Kakek.”
“Benar, aku setuju dengan
Reno, Om dan Tante Sudarsono pasti marah besar jika mereka tahu Kakek hilang lagi. Kamu masih ingat kan
pesan tadi siang?” Kata Petra mengingatkan.
Mereka kemudian
teringat pada pesan Om dan Tante Sudarsono sebelum meninggalkan rumah siang
tadi.
“Kalian harus menjaga
Kakek selama kami pergi ke Jerman. Urusan bisnis kali ini sangat mendadak dan
penting sekali, Om harap kalian bisa kami andalkan!“ kata Om Sudarsono kepada
keponakan-keponakannya itu.
“Siap, Om!” jawab para
keponakannya serempak.
“Kalian harus
benar-benar sabar merawat Kakek yang sudah pikun dan suka bertingkah yang
aneh-aneh.” Kata Tante Sudarsono mewanti-wanti.
Ketiga keponakannya itu
mengangguk tanda mengerti. Beberapa saat kemudian, Om dan Tante Sudarsono pun
meninggalkan rumah. Setelah Om dan Tante mereka pergi, Petra, Nayla dan Reno
malah ramai berselisih mulut. Mereka sebenarnya tak suka kalau disuruh menjaga
Kakek.
“Reno, sana kamu saja
yang menjaga Kakek!” perintah Petra kepada adik bungsunya.
Reno memprotes keras
kakak sulungnya itu, “Aku tidak mau, Kak! Biar Kak Nayla saja yang mengurus
Kakek, dia kan anak perempuan biasanya sangat telaten seperti perawat.” Tunjuk
Reno pada Nayla; kakak perempuannya.
“Perawat juga banyak
yang laki-laki, kamu saja yang merawat Kakek, kamu kan cucu kesayangan Kakek.”
Kata Nayla sambil bersungut-sungut.
Rupanya tak ada satupun yang mau mengalah.
Petra akhirnya membuat suatu kesepakatan bersama.
“Baiklah, hari ini aku
akan menjaga Kakek, besok adalah bagian Nayla dan keesokannya lagi adalah
bagian Reno.” Kata Petra memberi solusi ketika semuanya tak mau menjaga Kakek.
Kedua saudaranya pun setuju dengan usulan Petra.
Meskipun Petra yang
memberi ide, namun sebenarnya Petra samasekali tidak suka dengan tugasnya ini,
pasti kedua saudaranya juga merasakan hal yang sama, tidak ada yang suka pada
Kakek semenjak Kakek menjadi pikun. Kakek bukan hanya lupa pada cucu-cucunya,
tapi—Kakek juga bahkan sudah lupa pada namanya sendiri. Kakek pernah membuat
kesal Petra karena dulu Kakek sempat keluar rumah tanpa sepengetahuan, semua
penghuni rumah langsung menyalahkan Petra, terutama Om Sudarsono yang terkenal
sangat galak. Semua langsung menjadi sasaran amarahnya, terutama Petra yang
dianggap lalai menjaga Kakek. Saat itu semuanya
menjadi sangat panik dan mencari Kakek kemana-mana, untung saja ada seorang
warga yang menemukan Kakek dan langsung mengantarkan Kakek pulang ke rumah.
Kejadian hilangnya
Kakek berulang kembali hari ini. Dan mereka tentu tidak ingin lagi dimarahi
oleh Paman mereka yang bertempramen tinggi itu.
“Gawat! Aku tidak menemukan Kakek dimana-mana,
sudah kucari di dalam, di luar rumah, bahkan di jalan-jalan dekat sini juga
Kakek tidak ada,” kata Petra pada Reno dengan raut wajah yang cemas.
“Kak, aku juga tidak
menemukannya….” Ucap Reno setengah putus asa.
Nayla tiba-tiba
berteriak keras, “Kak Petra…Reno, cepat kesini!”
Reno dan Petra pun mendekati
Nayla yang saat itu sedang merapikan kamar Kakek yang berantakkan. “Ada apa?” Tanya mereka hampir
bersamaan.
“Kak Petra! Aku
menemukan secarik kertas ini di dekat tempat tidur Kakek,” kata Nayla sebari
melap keringat yang sudah mengucur deras, dia terlihat begitu tegang. “Coba
baca isinya yang sungguh sangat aneh ini...” Ucapnya sambil menyodorkan kertas
itu ke tangan Petra.
Petra memeriksanya
dengan teliti. Dia kemudian membaca dengan keras agar dapat didengar oleh semua.
“Isi tulisan dalam kertas ini adalah: Kakek
kalian disandera. Preanger > THR> ri1-1> bersama.” kata Petra
sambil menyerngitkan dahi, tanda sedang berpikir keras. “Ini sungguh aneh,
apakah Kakek diculik? Jika Kakek diculik, kenapa kertas ancamannya hanya
secarik kecil kertas? Biasanya kertas seperti ini di film-film detektif adalah
kertas petunjuk untuk memecahkan misteri, kita seolah diminta untuk menjawab
teka-teki atas hilangnya Kakek saat ini.”
“Kalau memang ini
sebuah kertas petunjuk untuk menemukan Kakek, kita harus segera memecahkan
teka-teki ini!” Kata Nayla yang kemudian segera membuka laptopnya untuk mencari
informasi terkait dengan kata-kata asing dalam kertas petunjuk yang mereka
temukan. “Dari sumber Wikipedia, aku
menemukan kata PREANGER itu berasal dari Bahasa Belanda yang artinya;
Parahyangan atau Priangan, yakni; daerah kebudayaan Sunda di Jawa Barat yang
luasnya mencakup wilayah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung,
Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Berarti…Ini terkait dengan kota-kota itu. Sementara
THS…Apa artinya?”
“Petunjuk-petunjuk ini
berindikasi general menuju spesifik.
Preanger adalah sebuah wilayah atau tempat, THS mungkin merujuk pada tempat
yang lebih khusus lagi.” kata Petra
memberi analisis cerdasnya.
Reno membuka suaranya,
“Dan…Petunjuk THS ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan petunjuk selanjutnya,
yakni; RI1-1,” Dia berpikir dengan cepat sebelum memaparkan analisanya. “Aku
rasa aku sudah mengerti, THS adalah nama sebuah tempat pendidikan yang
melahirkan RI1-1 karena petunjuk sebelumnya itu PREANGER untuk sebutan Priangan
di masa Kolonial Belanda.”
“Maksudnya?” Tanya
Nayla masih belum mengerti.
“Kakak pasti tahu, kan?
RI1 adalah sebutan orang nomer satu di Indonesia, jadi…RI1-1 adalah Presiden Indonesia
yang pertama, yakni; Ir.Soekarno yang dahulunya bersekolah di THS atau Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang didirikan pada tahun
1920 di Kota Kembang.” Paparnya dengan
penuh semangat. Reno memang yang paling muda, namun dia dikenal oleh
saudara-saudaranya itu dengan julukan ‘Ensiklopedia Berjalan’ karena memiliki
pengetahuan yang sangat luas. Oleh sebab itu pula, Kakek dulu
mengistimewakannya sebagai cucu kesayangan, tentunya masa-masa itu terjadi
sebelum kepikunan merenggut ingatan Kakek. Bagi mereka, Kakek kini seperti orang asing
saja, hal inilah yang menjauhkan mereka dengan Kakek.
“Lalu…Apa makna BERSAMA
itu? Masih tidak jelas…” kata Petra menjadi bingung.
“Aku tahu!” teriak
Nayla kegirangan. “Tanda panah ini menunjuk pada subjek akhir yang dituju, tentang
kota dan tokoh, ini adalah sebuah teka-teki kota pintar, kita menebak kota atau
tempat dengan cara yang pintar. Mula-mula PREANGER yang cakupan wilayahnya cukup
luas, kemudian menyempit pada THS atau yang sekarang dikenal dengan ITB, ini
berarti menyangkut Kota Bandung di masa Belanda, dan tentang tokoh itu adalah
Ir.Sukarno. Jadi…yang BERSAMA RI1-1 memimpin Republik, yaitu; Muhammad Hatta;
Wapres RI yang pertama.“
“Selanjutnya apa? Haruskah
kita mengumpulkan biografi kedua tokoh tersebut?” kata Reno dengan raut bimbang.
Petra memberi komando,
“Harus! Karena ini sepertinya menyangkut petunjuk untuk menemukan Kakek,
sebelum Om dan Tante Sudarsono kembali dari Jerman, tiga hari lagi dari
sekarang.” Kata Petra dengan tegas, dia menghela nafas panjang sebelum
meneruskan kata-katanya. “Jika kita tidak bisa menemukan Kakek sampai sore
nanti, kita harus lapor polisi dan kita juga harus siap dimarahi Om Sudarsono
setelah Om pulang nanti.”
“Iya benar, kalau
begitu kita jangan membuang-buang waktu lagi, mungkin kita bisa mendapat jawaban
di Perpustakaan, semua yang berhubungan dengan bacaan dan riset sejarah ada
disana. Ayo…Kita kesana!” ajak Nayla pada Petra dan Reno.
Dengan hati was-was dan takut, mereka segera
meluncur ke Perpustakaan Kampus untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang
kedua tokoh proklamator itu. Mereka masuk ke dalam perpustakaan dan membaca
buku-buku sejarah, meskipun mereka bingung bagaimana caranya untuk memecahkan
teka-teki aneh ini. Sementara waktu semakin berlalu dengan cepat.
“Soekarno dan Hatta
adalah proklamator kemerdekaan Indonesia, presiden dan wakil presiden pertama
Indonesia, namun…Apa korelasinya dengan kasus hilangnya Kakek? Kalau tidak ada
petunjuk lagi, maka tidak akan ada jawaban dari kasus ini karena petunjuknya
masih absurd. Tidak jelas…” Kata Reno
dengan nada putus asa.
Di tengah keputusasaan,
terdengar bunyi sebuah buku yang tak jauh dari mereka dijatuhkan oleh seseorang
dengan sengaja. Mereka mendekati rak buku dan menemukan kembali sebuah kertas
petunjuk yang baru.
“Seseorang telah sengaja
melakukan ini dan seolah-olah ingin bermain teka-teki dengan kita.
Jangan-jangan dia adalah penculik Kakek!” Kata Petra sambil memungut kertas
petunjuk baru dengan tangan bergetar karena gugup.
“Kita lapor polisi
saja!” kata Nayla ketakutan.
“Jangan! Untuk menjaga
keselamatan Kakek, kita jangan melibatkan polisi dulu.” saran Petra yang
kemudian membaca kertas petunjuk baru. “KAKEK KALIAN DISANDERA. BERSAMA > NETHERLAND > BOVENDIGUL
> BANDA NEIRA > SS.”
“Ini mungkin petunjuk
kedua, petunjuk sebelumnya berakhir dengan BERSAMA, yakni; Soekarno yang
bersama Hatta. Dan sekarang….” Gumam Nayla sambil berpikir-pikir. “Petunjuk
kedua ini pun sepertinya mengenai kota dan tokoh, NETHERLAND adalah sebutan
Negara Belanda, BOVENDIGUL adalah sebutan Tanah Merah di Papua, dan…BANDA NEIRA
adalah sebuah kota indah yang terletak di Sulawesi yang terkenal dengan
produksi pala.”
Reno membuat kesimpulan
singkat, “Analisaku adalah….Seorang tokoh yang bersama-sama jawaban petunjuk
sebelumnya,”
“Maksudmu…Yang bersama Muhammad Hatta di
tempat-tempat yang disebutkan itu?” tanya Petra dengan nada ragu-ragu.
Reno tersenyum simpul,
“Iya Kak, bukankah seorang tokoh yang bersama-sama Muhammad Hatta di
Perhimpunan Indonesia adalah Sutan Sjahrir? Sjahrir juga bersama-sama Hatta di
dalam mengembangkan organisasi bernama PNI-Pendidikan sepulangnya dari Belanda,
Sjahrir dan Hatta sama-sama mengalami pembuangan di BovenDigul (1935) dan Banda
Neira (1936-1942). Di masa kemerdekaan, Sjahrir dan Hatta sama-sama memerintah
Republik, Sjahrir menjadi Perdana Menteri di tahun 1945-1947 dan di masa itu Hatta
menjadi wakil presiden. Keduanya kebetulan sama-sama berdarah minang. Ini
adalah arti BERSAMA yang kedua,”
“Jadi…SS adalah inisial
dari Sutan Sjahrir, ini jawaban dari teka-teki petunjuk kedua,” kata Petra
menyimpulkan. “Tapi—Kasus ini tetap belum selesai. Masih tidak jelas arahnya. Coba
kita cari tahu tentang Sutan Sjahrir di perpustakaan ini?”
“Iya, lagipula tokoh
perjuangan ini tidak terlalu dikenal dibandingkan Soekarno dan Hatta padahal
mereka dulu disebut sebagai Tiga Serangkai pada masa revolusi kemerdekaan
Republik Indonesia.” Kata Nayla sambil mengetik kata ‘Sutan Sjahrir’ di layar
komputer perpustakaan dan menemukan tiga judul buku yang berbeda terkait dengan
Sjahrir.
“Sekarang yang mesti
kita lakukan adalah masing-masing harus menemukan buku-buku yang menyangkut
Sutan Sjahrir.” Kata Petra memberi komando pada adik-adiknya.
Di perpustakaan itu, mereka
pun berpencar untuk mencari buku-buku yang mengupas tokoh pahlawan kemerdekaan
bernama Sutan Sjahrir yang masih terasa asing di telinga.
Reno tiba-tiba
memanggil kedua kakaknya, “Kak Petra…Kak Nayla, di dalam buku tentang Sjahrir ini
aku menemukan sebuah petunjuk baru!”
Dari tangan adiknya, Nayla
kemudian membaca secarik kertas itu, “KAKEK KALIAN DISANDERA. BERSAMA > AMS BANDUNG > KOTA BERINTAN > 150845.”
“Apa ini?” Tanya Petra
dengan tanda tanya yang besar di dalam otaknya. “Benar-benar membingungkan, aku
tahu KOTA BERINTAN adalah julukan dari Kota Cirebon, tapi…AMS BANDUNG dan angka
150845 itu apa maksudnya?”
“Coba kita pikir….Jika
petunjuk pertama terkait dengan jawaban di petunjuk kedua, mungkin petunjuk
kedua terkait dengan jawaban untuk petunjuk ketiga.” Kata Nayla berkomentar.
“Betul juga Nayla,
berarti…Jawaban teka-teki ini adalah tokoh yang bersama Sutan Sjahrir di AMS
BANDUNG dan berkaitan dengan KOTA BERINTAN serta angka 150845. Siapakah tokoh
itu?” ucap Petra menyimpulkan.
Reno menambahkan dengan
analisanya, “Jika petunjuk pertama; THS adalah nama sekolah teknik di Bandung,
maka AMS BANDUNG bisa jadi mengacu pada sebuah tempat pendidikan, yang dimaksud
mungkin…Algemeene Middelbare School yang juga ada yang di Kota Bandung. Kebetulan
Sutan Sjahrir dulu bersekolah di AMS ini
dengan jurusan sastra klasik. Jadi…Seorang tokoh yang bersama Sjahrir menempuh
pendidikan di AMS BANDUNG dan pernah tinggal di Cirebon yang julukannya adalah KOTA
BERINTAN itu siapa?”
“Jika kita belajar sejarah, Sjahrir melakukan
penandatanganan perjanjian Linggadjati antara Pihak Indonesia dan Pihak Belanda
di tahun 1946, di kota Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Mungkin tokoh tersebut
ada bersama Sjahrir pada saat itu.” Kata Petra memberi jawaban.
Reno tidak setuju, dia berargumen, “Aku rasa petunjuk
ini tidak mengarah pada Kota Kuningan,
tapi—Kota Cirebon itu sendiri. Karena rekan Sjahrir dalam Perjanjian Linggadjati
itu; Amir Sjarifuddin tidak pernah bersekolah di AMS Bandung, selepas belajar
di ELS, study-nya langsung ke Belanda.
Lalu…Ini juga mengenai 150845. Sebuah angka misterius yang akan menjadi jawaban
dari teka-teki ketiga ini.”
“Benar, tapi—Aku sudah pusing dengan
angka-angka di materi kuliah, jangan ditambah pusing lagi dengan memikirkan
teka-teki dari angka ini. Ayo, kita lapor polisi saja! Aku sudah menyerah.”
kata Nayla memberi usulan.
“Baiklah, perpustakaan ini juga akan segera
tutup, kita harus pulang!” kata Petra diikuti adik-adiknya meninggalkan gedung
perpustakaan. Mereka pun bergegas menuju mobil untuk segera pulang ke rumah.
Sebelum mereka sampai
ke mobil yang berada di tempat parkiran. Tiba-tiba saja dari kejauhan ada
seseorang yang sengaja melemparkan kertas dengan menggunakan ketapel. Kertas
itu tepat mengenai badan Petra dan dengan sigap Petra memungut kertas tersebut.
“KAKEK KALIAN
DISANDERA. 150845 > TUGU > KEP.RS > S > JERMAN.” kata Petra membacakan isi kertas itu, “Jelas-jelas dari tadi si
penculik sudah mempermainkan kita dengan kertas teka-teki kota pintar. Coba aku
analisa…Angka 150845 berkaitan dengan TUGU, mungkin sebuah tugu di Kota
Cirebon, biasanya tugu ditujukan untuk memperingati kejadian atau peristiwa
besar. Sementara…Kep biasanya adalah singkatan untuk Kepala, RS umumnya adalah
singkatan dari Rumah Sakit, apakah maksud KEP.RS ini adalah…Kepala Rumah Sakit.
Lalu…S dan Jerman itu apa?”
Reno berpikir sebentar,
kemudian tersenyum. “Aku jadi ingat, dulu sebelum Kakek menderita kepikunan
yang parah, Kakek pernah bercerita pada kita tentang kisah di zaman revolusi
kemerdekaan, Kakek menceritakan sejarah proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia, aku masih ingat pada cerita itu, ada seorang dokter yang dikenal Sutan
Sjahrir sebagai kepala rumah sakit, tokoh itulah yang sudah membacakan teks
proklamasi versi Sjahrir di depan sebuah tugu di Kota Cirebon tepatnya di depan alun-alun Kejaksan, dua hari sebelum tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Jadi…150845 maksudnya adalah di tanggal 15 Agustus 1945. Namanya merupakan
kunci jawaban dari teka-teki ini. Dia adalah tersangka utama seluruh rentetan peristiwa
hilangnya Kakek.”
“Lalu…Apa hubungan
tokoh itu dengan Jerman? Kurasa sangat jauh dan malah tidak ada korelasinya
samasekali karena Indonesia tidak pernah dijajah oleh Jerman.” kata Petra masih
tidak mengerti.
Reno tertawa dengan
kencang. “Kak Petra, ini hanyalah sebuah permainan teka-teki, kita tidak akan bisa menjawab teka-teki ini jika kita tidak belajar dan membaca buku-buku sejarah, dan...S yang
dimaksudkan dalam teka-teki terakhir ini adalah sebuah inisial nama dari tokoh tersebut, teman AMS Sjahrir
yang merupakan dokter dan Kepala Rumah Sakit di Kota Cirebon serta menjadi
pembaca proklamasi yang lebih cepat dua hari dibandingkan dengan di Jakarta, 15
agustus 1945. Dia adalah dokter Sudarsono. Pelaku penculikan Kakek dan pembuat
teka-teki kota pintar itupun bernama sama dengan tokoh itu. ”
“Jadi…maksudmu…Pelakunya
adalah Om Sudarsono? Bukankah dia sedang pergi ke Jerman bersama Tante?” Tanya Nayla
penuh keraguan.
“Jerman...Mungkin
maksudnya…Jejeran Matraman, pasti Kakek ada di rumah Tante Sandra di Jalan Matraman.
Sedari awal kalimat teka-teki yang selalu diulang sebagai penekanan adalah;
KAKEK KALIAN DISANDERA, maksudnya…Kakek kalian di Sandra. Lebih tepatnya
lagi…Kakek kalian ada di Tante Sandra.” kata Reno seraya melebarkan tawanya
yang renyah.
Tiba-tiba saja Om dan
Tante Sudarsono muncul dari balik pepohonan. Paman mereka pun berkata, “Iya
anak-anak, Om dan Tante yang sudah merencanakannya, tentusaja ini semua
memiliki tujuan, pertama….Agar kalian kembali belajar sejarah, terutama sejarah
perjuangan bangsa Indonesia. Kedua dan menjadi yang terpenting….Kalian seharusnya
bisa menyayangi Kakek kalian seperti dulu, Om dan Tante sudah tahu perilaku
kalian yang kurang baik selama ini, kalian sering menelantarkan Kakek, padahal sewaktu
kalian masih kecil-kecil, Kakek sangat menyayangi dan merawat kalian semua dengan
sangat baik.”
Petra, Nayla dan Reno
tertunduk malu, menyesali perbuatan mereka yang sudah mengabaikan Kakek.
Om Sudarsono
melanjutkan kisahnya tentang Kakek. “Mungkin seperti pepatah Schiller…Hidup
yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan, jangan disia-siakan dengan
gampangnya. Kalau kalian mengerti artinya, hidup itu penuh perjuangan. Dulu
keluarga Kakek miskin, berkat kerja keras Kakek di masa mudanya, Om dan kalian
semua bisa merasakan hidup yang serba enak seperti sekarang ini, lalu…Kenapa
kalian menyia-nyiakan Kakek yang sudah berjuang untuk kita semua? Kalian sudah
lupa pada Kakek dan malah sibuk sendiri.”
“Kakek sudah lupa pada kami, Kakek
terasa asing bagi kami…” ucap Reno berterus-terang. Dia merasa Kakek sudah
tidak menyayanginya lagi, padahal dahulu Reno merupakan cucu kesayangan Kakek
yang paling dibanggakan olehnya.
“Ini
bukan salah Kakek. Kepikunan sudah menghapus semua ingatan Kakek. Namun kita
jangan sampai menjauhinya, justru Kakek sangat membutuhkan perhatian kita.”
Kata Tante Sudarsono memberi wejangan kepada para keponakannya.
Om
Sudarsono menambahkan, “Kami melihat kalian kurang perhatian pada Kakek, maka
kami membuat rencana ini. Sebenarnya Kakek sejak pagi sudah dibawa ke rumah
Tante Sandra di Matraman, ternyata tak ada satupun yang menyadari akan hal itu
karena kalian berada di kamar atas terus, kalian sibuk dengan kegiatan kalian
masing-masing, sampai ketika kami pura-pura pergi pun, kalian tak memperhatikan
Kakek yang sebenarnya sudah tidak ada di kamarnya.”
Anak-anak merasa malu dan mengakui
kesalahannya. “Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi, kami akan merawat
Kakek dengan baik, kami ingin memberi Kakek kasih sayang, meskipun Kakek sudah
tak ingat siapa-siapa lagi. Kakek adalah tetap menjadi Kakek terbaik untuk kami
semua. “ kata Petra, Nayla dan Reno serempak.
Rupanya teka-teki kota
pintar hanyalah siasat semata, sebuah teka-teki kota dan tokoh yang
diselesaikan dengan cara yang pintar, dan pada akhirnya semua orang menjadi
senang.
***TAMAT***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar