Sabtu, 25 April 2015

CERPEN TEKA-TEKI KOTA PINTAR

Sebuah Cerpen yang dibuat agar mengenyangkan otak pembaca untuk berpikir, teka-teki yang dapat dipecahkan dengan membaca kembali lembaran sejarah masa lampau. Semoga dapat membuka cakrawala pengetahuan bagi para pembaca. :)

TEKA-TEKI KOTA PINTAR
OLEH : BILQIS FITRIA SALSABIELA
Petra membuka perlahan kamar Kakek, dia terperanjat bukan main ketika melihat ke sekeliling kamar yang sudah berantakkan seperti kapal pecah, sementara batang hidung Sang Kakek tidak ditemukannya. Jantung Petra berdetak semakin kencang, dia cepat-cepat berlari ke kamar atas untuk memberitahu kedua saudaranya; Nayla dan Reno.
“Ayo, kita telpon polisi!” usul Nayla dengan nada panik.
Reno segera melarang, “Jangan! Nanti kita akan dimarahi oleh Om dan Tante, kita harus mencarinya dulu, siapa tahu kita bisa menemukan Kakek.”
“Benar, aku setuju dengan Reno, Om dan Tante Sudarsono pasti marah besar jika mereka  tahu Kakek hilang lagi. Kamu masih ingat kan pesan tadi siang?” Kata Petra mengingatkan.
Mereka kemudian teringat pada pesan Om dan Tante Sudarsono sebelum meninggalkan rumah siang tadi.
“Kalian harus menjaga Kakek selama kami pergi ke Jerman. Urusan bisnis kali ini sangat mendadak dan penting sekali, Om harap kalian bisa kami andalkan!“ kata Om Sudarsono kepada keponakan-keponakannya itu.
“Siap, Om!” jawab para keponakannya serempak.
“Kalian harus benar-benar sabar merawat Kakek yang sudah pikun dan suka bertingkah yang aneh-aneh.” Kata Tante Sudarsono mewanti-wanti.
Ketiga keponakannya itu mengangguk tanda mengerti. Beberapa saat kemudian, Om dan Tante Sudarsono pun meninggalkan rumah. Setelah Om dan Tante mereka pergi, Petra, Nayla dan Reno malah ramai berselisih mulut. Mereka sebenarnya tak suka kalau disuruh menjaga Kakek.
“Reno, sana kamu saja yang menjaga Kakek!” perintah Petra kepada adik bungsunya.
Reno memprotes keras kakak sulungnya itu, “Aku tidak mau, Kak! Biar Kak Nayla saja yang mengurus Kakek, dia kan anak perempuan biasanya sangat telaten seperti perawat.” Tunjuk Reno pada Nayla; kakak perempuannya.
“Perawat juga banyak yang laki-laki, kamu saja yang merawat Kakek, kamu kan cucu kesayangan Kakek.” Kata Nayla sambil bersungut-sungut.
 Rupanya tak ada satupun yang mau mengalah. Petra akhirnya membuat suatu kesepakatan  bersama.
“Baiklah, hari ini aku akan menjaga Kakek, besok adalah bagian Nayla dan keesokannya lagi adalah bagian Reno.” Kata Petra memberi solusi ketika semuanya tak mau menjaga Kakek. Kedua saudaranya pun setuju dengan usulan Petra.
Meskipun Petra yang memberi ide, namun sebenarnya Petra samasekali tidak suka dengan tugasnya ini, pasti kedua saudaranya juga merasakan hal yang sama, tidak ada yang suka pada Kakek semenjak Kakek menjadi pikun. Kakek bukan hanya lupa pada cucu-cucunya, tapi—Kakek juga bahkan sudah lupa pada namanya sendiri. Kakek pernah membuat kesal Petra karena dulu Kakek sempat keluar rumah tanpa sepengetahuan, semua penghuni rumah langsung menyalahkan Petra, terutama Om Sudarsono yang terkenal sangat galak. Semua langsung menjadi sasaran amarahnya, terutama Petra yang dianggap lalai menjaga Kakek. Saat itu  semuanya menjadi sangat panik dan mencari Kakek kemana-mana, untung saja ada seorang warga yang menemukan Kakek dan langsung mengantarkan Kakek pulang ke rumah.
Kejadian hilangnya Kakek berulang kembali hari ini. Dan mereka tentu tidak ingin lagi dimarahi oleh Paman mereka yang bertempramen tinggi itu.  
 “Gawat! Aku tidak menemukan Kakek dimana-mana, sudah kucari di dalam, di luar rumah, bahkan di jalan-jalan dekat sini juga Kakek tidak ada,” kata Petra pada Reno dengan raut wajah yang cemas.
“Kak, aku juga tidak menemukannya….” Ucap Reno setengah putus asa.
Nayla tiba-tiba berteriak keras, “Kak Petra…Reno, cepat kesini!”
Reno dan Petra pun mendekati Nayla yang saat itu sedang merapikan kamar Kakek yang  berantakkan. “Ada apa?” Tanya mereka hampir bersamaan.
“Kak Petra! Aku menemukan secarik kertas ini di dekat tempat tidur Kakek,” kata Nayla sebari melap keringat yang sudah mengucur deras, dia terlihat begitu tegang. “Coba baca isinya yang sungguh sangat aneh ini...” Ucapnya sambil menyodorkan kertas itu ke tangan Petra.
Petra memeriksanya dengan teliti. Dia kemudian membaca dengan keras agar dapat didengar oleh semua. “Isi tulisan dalam kertas ini adalah: Kakek kalian disandera.  Preanger > THR> ri1-1> bersama.” kata Petra sambil menyerngitkan dahi, tanda sedang berpikir keras. “Ini sungguh aneh, apakah Kakek diculik? Jika Kakek diculik, kenapa kertas ancamannya hanya secarik kecil kertas? Biasanya kertas seperti ini di film-film detektif adalah kertas petunjuk untuk memecahkan misteri, kita seolah diminta untuk menjawab teka-teki atas hilangnya Kakek saat ini.”
“Kalau memang ini sebuah kertas petunjuk untuk menemukan Kakek, kita harus segera memecahkan teka-teki ini!” Kata Nayla yang kemudian segera membuka laptopnya untuk mencari informasi terkait dengan kata-kata asing dalam kertas petunjuk yang mereka temukan.  “Dari sumber Wikipedia, aku menemukan kata PREANGER itu berasal dari Bahasa Belanda yang artinya; Parahyangan atau Priangan, yakni; daerah kebudayaan Sunda di Jawa Barat yang luasnya mencakup wilayah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Berarti…Ini terkait dengan kota-kota itu. Sementara THS…Apa artinya?”
“Petunjuk-petunjuk ini berindikasi general menuju spesifik. Preanger adalah sebuah wilayah atau tempat, THS mungkin merujuk pada tempat yang lebih khusus lagi.”  kata Petra memberi analisis cerdasnya.
Reno membuka suaranya, “Dan…Petunjuk THS ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan petunjuk selanjutnya, yakni; RI1-1,” Dia berpikir dengan cepat sebelum memaparkan analisanya. “Aku rasa aku sudah mengerti, THS adalah nama sebuah tempat pendidikan yang melahirkan RI1-1 karena petunjuk sebelumnya itu PREANGER untuk sebutan Priangan di masa Kolonial Belanda.”
“Maksudnya?” Tanya Nayla masih belum mengerti.
“Kakak pasti tahu, kan? RI1 adalah sebutan orang nomer satu di Indonesia, jadi…RI1-1 adalah Presiden Indonesia yang pertama, yakni; Ir.Soekarno yang dahulunya bersekolah di THS atau Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang didirikan pada tahun 1920 di Kota Kembang.”  Paparnya dengan penuh semangat. Reno memang yang paling muda, namun dia dikenal oleh saudara-saudaranya itu dengan julukan ‘Ensiklopedia Berjalan’ karena memiliki pengetahuan yang sangat luas. Oleh sebab itu pula, Kakek dulu mengistimewakannya sebagai cucu kesayangan, tentunya masa-masa itu terjadi sebelum kepikunan merenggut ingatan Kakek.  Bagi mereka, Kakek kini seperti orang asing saja, hal inilah yang menjauhkan mereka dengan Kakek.
“Lalu…Apa makna BERSAMA itu? Masih tidak jelas…” kata Petra menjadi bingung.
“Aku tahu!” teriak Nayla kegirangan. “Tanda panah ini menunjuk pada subjek akhir yang dituju, tentang kota dan tokoh, ini adalah sebuah teka-teki kota pintar, kita menebak kota atau tempat dengan cara yang pintar. Mula-mula PREANGER yang cakupan wilayahnya cukup luas, kemudian menyempit pada THS atau yang sekarang dikenal dengan ITB, ini berarti menyangkut Kota Bandung di masa Belanda, dan tentang tokoh itu adalah Ir.Sukarno. Jadi…yang BERSAMA RI1-1 memimpin Republik, yaitu; Muhammad Hatta; Wapres RI yang pertama.“
“Selanjutnya apa? Haruskah kita mengumpulkan biografi kedua tokoh tersebut?” kata Reno dengan raut bimbang.
Petra memberi komando, “Harus! Karena ini sepertinya menyangkut petunjuk untuk menemukan Kakek, sebelum Om dan Tante Sudarsono kembali dari Jerman, tiga hari lagi dari sekarang.” Kata Petra dengan tegas, dia menghela nafas panjang sebelum meneruskan kata-katanya. “Jika kita tidak bisa menemukan Kakek sampai sore nanti, kita harus lapor polisi dan kita juga harus siap dimarahi Om Sudarsono setelah Om pulang nanti.”
“Iya benar, kalau begitu kita jangan membuang-buang waktu lagi, mungkin kita bisa mendapat jawaban di Perpustakaan, semua yang berhubungan dengan bacaan dan riset sejarah ada disana. Ayo…Kita kesana!” ajak Nayla pada Petra dan Reno.
 Dengan hati was-was dan takut, mereka segera meluncur ke Perpustakaan Kampus untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang kedua tokoh proklamator itu. Mereka masuk ke dalam perpustakaan dan membaca buku-buku sejarah, meskipun mereka bingung bagaimana caranya untuk memecahkan teka-teki aneh ini. Sementara waktu semakin berlalu dengan cepat.
“Soekarno dan Hatta adalah proklamator kemerdekaan Indonesia, presiden dan wakil presiden pertama Indonesia, namun…Apa korelasinya dengan kasus hilangnya Kakek? Kalau tidak ada petunjuk lagi, maka tidak akan ada jawaban dari kasus ini karena petunjuknya masih absurd. Tidak jelas…” Kata Reno dengan nada putus asa.
Di tengah keputusasaan, terdengar bunyi sebuah buku yang tak jauh dari mereka dijatuhkan oleh seseorang dengan sengaja. Mereka mendekati rak buku dan menemukan kembali sebuah kertas petunjuk yang baru.
“Seseorang telah sengaja melakukan ini dan seolah-olah ingin bermain teka-teki dengan kita. Jangan-jangan dia adalah penculik Kakek!” Kata Petra sambil memungut kertas petunjuk baru dengan tangan bergetar karena gugup.
“Kita lapor polisi saja!” kata Nayla ketakutan.
“Jangan! Untuk menjaga keselamatan Kakek, kita jangan melibatkan polisi dulu.” saran Petra yang kemudian membaca kertas petunjuk baru. “KAKEK KALIAN DISANDERA. BERSAMA >        NETHERLAND  >    BOVENDIGUL  >    BANDA NEIRA   >    SS.” 
“Ini mungkin petunjuk kedua, petunjuk sebelumnya berakhir dengan BERSAMA, yakni; Soekarno yang bersama Hatta. Dan sekarang….” Gumam Nayla sambil berpikir-pikir. “Petunjuk kedua ini pun sepertinya mengenai kota dan tokoh, NETHERLAND adalah sebutan Negara Belanda, BOVENDIGUL adalah sebutan Tanah Merah di Papua, dan…BANDA NEIRA adalah sebuah kota indah yang terletak di Sulawesi yang terkenal dengan produksi pala.”
Reno membuat kesimpulan singkat, “Analisaku adalah….Seorang tokoh yang bersama-sama jawaban petunjuk sebelumnya,”
 “Maksudmu…Yang bersama Muhammad Hatta di tempat-tempat yang disebutkan itu?” tanya Petra dengan nada ragu-ragu.
Reno tersenyum simpul, “Iya Kak, bukankah seorang tokoh yang bersama-sama Muhammad Hatta di Perhimpunan Indonesia adalah Sutan Sjahrir? Sjahrir juga bersama-sama Hatta di dalam mengembangkan organisasi bernama PNI-Pendidikan sepulangnya dari Belanda, Sjahrir dan Hatta sama-sama mengalami pembuangan di BovenDigul (1935) dan Banda Neira (1936-1942). Di masa kemerdekaan, Sjahrir dan Hatta sama-sama memerintah Republik, Sjahrir menjadi Perdana Menteri di tahun 1945-1947 dan di masa itu Hatta menjadi wakil presiden. Keduanya kebetulan sama-sama berdarah minang. Ini adalah arti BERSAMA yang kedua,”                             
“Jadi…SS adalah inisial dari Sutan Sjahrir, ini jawaban dari teka-teki petunjuk kedua,” kata Petra menyimpulkan. “Tapi—Kasus ini tetap belum selesai. Masih tidak jelas arahnya. Coba kita cari tahu tentang Sutan Sjahrir di perpustakaan ini?”
“Iya, lagipula tokoh perjuangan ini tidak terlalu dikenal dibandingkan Soekarno dan Hatta padahal mereka dulu disebut sebagai Tiga Serangkai pada masa revolusi kemerdekaan Republik Indonesia.” Kata Nayla sambil mengetik kata ‘Sutan Sjahrir’ di layar komputer perpustakaan dan menemukan tiga judul buku yang berbeda terkait dengan Sjahrir.  
“Sekarang yang mesti kita lakukan adalah masing-masing harus menemukan buku-buku yang menyangkut Sutan Sjahrir.” Kata Petra memberi komando pada adik-adiknya.
Di perpustakaan itu, mereka pun berpencar untuk mencari buku-buku yang mengupas tokoh pahlawan kemerdekaan bernama Sutan Sjahrir yang masih terasa asing di telinga.
Reno tiba-tiba memanggil kedua kakaknya, “Kak Petra…Kak Nayla, di dalam buku tentang Sjahrir ini aku menemukan sebuah petunjuk baru!”
Dari tangan adiknya, Nayla kemudian membaca secarik kertas itu, “KAKEK KALIAN DISANDERA. BERSAMA    >  AMS BANDUNG    >   KOTA BERINTAN  >    150845.”
“Apa ini?” Tanya Petra dengan tanda tanya yang besar di dalam otaknya. “Benar-benar membingungkan, aku tahu KOTA BERINTAN adalah julukan dari Kota Cirebon, tapi…AMS BANDUNG dan angka 150845 itu apa maksudnya?”  
“Coba kita pikir….Jika petunjuk pertama terkait dengan jawaban di petunjuk kedua, mungkin petunjuk kedua terkait dengan jawaban untuk petunjuk ketiga.” Kata Nayla berkomentar.
“Betul juga Nayla, berarti…Jawaban teka-teki ini adalah tokoh yang bersama Sutan Sjahrir di AMS BANDUNG dan berkaitan dengan KOTA BERINTAN serta angka 150845. Siapakah tokoh itu?” ucap Petra menyimpulkan.
Reno menambahkan dengan analisanya, “Jika petunjuk pertama; THS adalah nama sekolah teknik di Bandung, maka AMS BANDUNG bisa jadi mengacu pada sebuah tempat pendidikan, yang dimaksud mungkin…Algemeene Middelbare School yang juga ada yang di Kota Bandung. Kebetulan Sutan Sjahrir dulu bersekolah di AMS ini dengan jurusan sastra klasik. Jadi…Seorang tokoh yang bersama Sjahrir menempuh pendidikan di AMS BANDUNG dan pernah tinggal di Cirebon yang julukannya adalah KOTA BERINTAN itu siapa?”
“Jika kita belajar sejarah, Sjahrir melakukan penandatanganan perjanjian Linggadjati antara Pihak Indonesia dan Pihak Belanda di tahun 1946, di kota Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Mungkin tokoh tersebut ada bersama Sjahrir pada saat itu.” Kata Petra memberi jawaban.
Reno tidak setuju, dia berargumen, “Aku rasa petunjuk ini tidak mengarah pada Kota  Kuningan, tapi—Kota Cirebon itu sendiri. Karena rekan Sjahrir dalam Perjanjian Linggadjati itu; Amir Sjarifuddin tidak pernah bersekolah di AMS Bandung, selepas belajar di ELS, study-nya langsung ke Belanda. Lalu…Ini juga mengenai 150845. Sebuah angka misterius yang akan menjadi jawaban dari teka-teki ketiga ini.”
“Benar, tapi—Aku sudah pusing dengan angka-angka di materi kuliah, jangan ditambah pusing lagi dengan memikirkan teka-teki dari angka ini. Ayo, kita lapor polisi saja! Aku sudah menyerah.” kata Nayla memberi usulan.
“Baiklah, perpustakaan ini juga akan segera tutup, kita harus pulang!” kata Petra diikuti adik-adiknya meninggalkan gedung perpustakaan. Mereka pun bergegas menuju mobil untuk segera pulang ke rumah.
Sebelum mereka sampai ke mobil yang berada di tempat parkiran. Tiba-tiba saja dari kejauhan ada seseorang yang sengaja melemparkan kertas dengan menggunakan ketapel. Kertas itu tepat mengenai badan Petra dan dengan sigap Petra memungut kertas tersebut. 
“KAKEK KALIAN DISANDERA. 150845   >    TUGU   >    KEP.RS    >    S   >  JERMAN.” kata Petra membacakan isi kertas itu, “Jelas-jelas dari tadi si penculik sudah mempermainkan kita dengan kertas teka-teki kota pintar. Coba aku analisa…Angka 150845 berkaitan dengan TUGU, mungkin sebuah tugu di Kota Cirebon, biasanya tugu ditujukan untuk memperingati kejadian atau peristiwa besar. Sementara…Kep biasanya adalah singkatan untuk Kepala, RS umumnya adalah singkatan dari Rumah Sakit, apakah maksud KEP.RS ini adalah…Kepala Rumah Sakit. Lalu…S dan Jerman itu apa?”         
Reno berpikir sebentar, kemudian tersenyum. “Aku jadi ingat, dulu sebelum Kakek menderita kepikunan yang parah, Kakek pernah bercerita pada kita tentang kisah di zaman revolusi kemerdekaan, Kakek menceritakan sejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, aku masih ingat pada cerita itu, ada seorang dokter yang dikenal Sutan Sjahrir sebagai kepala rumah sakit, tokoh itulah yang sudah membacakan teks proklamasi versi Sjahrir di depan sebuah tugu di Kota Cirebon tepatnya di depan alun-alun Kejaksan, dua hari sebelum tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Jadi…150845 maksudnya adalah di tanggal 15 Agustus 1945. Namanya merupakan kunci jawaban dari teka-teki ini. Dia adalah tersangka utama seluruh rentetan peristiwa hilangnya Kakek.”
“Lalu…Apa hubungan tokoh itu dengan Jerman? Kurasa sangat jauh dan malah tidak ada korelasinya samasekali karena Indonesia tidak pernah dijajah oleh Jerman.” kata Petra masih tidak mengerti.
Reno tertawa dengan kencang. “Kak Petra, ini hanyalah sebuah permainan teka-teki, kita tidak akan bisa menjawab teka-teki ini jika kita tidak belajar dan membaca buku-buku sejarah, dan...S yang dimaksudkan dalam teka-teki terakhir ini adalah sebuah inisial nama dari tokoh tersebut, teman AMS Sjahrir yang merupakan dokter dan Kepala Rumah Sakit di Kota Cirebon serta menjadi pembaca proklamasi yang lebih cepat dua hari dibandingkan dengan di Jakarta, 15 agustus 1945. Dia adalah dokter Sudarsono. Pelaku penculikan Kakek dan pembuat teka-teki kota pintar itupun bernama sama dengan tokoh itu. ”
“Jadi…maksudmu…Pelakunya adalah Om Sudarsono? Bukankah dia sedang pergi ke Jerman bersama Tante?” Tanya Nayla penuh keraguan.
“Jerman...Mungkin maksudnya…Jejeran Matraman, pasti Kakek ada di rumah Tante Sandra di Jalan Matraman. Sedari awal kalimat teka-teki yang selalu diulang sebagai penekanan adalah; KAKEK KALIAN DISANDERA, maksudnya…Kakek kalian di Sandra. Lebih tepatnya lagi…Kakek kalian ada di Tante Sandra.” kata Reno seraya melebarkan tawanya yang renyah.
Tiba-tiba saja Om dan Tante Sudarsono muncul dari balik pepohonan. Paman mereka pun berkata, “Iya anak-anak, Om dan Tante yang sudah merencanakannya, tentusaja ini semua memiliki tujuan, pertama….Agar kalian kembali belajar sejarah, terutama sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kedua dan menjadi yang terpenting….Kalian seharusnya bisa menyayangi Kakek kalian seperti dulu, Om dan Tante sudah tahu perilaku kalian yang kurang baik selama ini, kalian sering menelantarkan Kakek, padahal sewaktu kalian masih kecil-kecil, Kakek sangat menyayangi dan merawat kalian semua dengan sangat baik.”
Petra, Nayla dan Reno tertunduk malu, menyesali perbuatan mereka yang sudah mengabaikan Kakek.
Om Sudarsono melanjutkan kisahnya tentang Kakek. “Mungkin seperti pepatah Schiller…Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan, jangan disia-siakan dengan gampangnya. Kalau kalian mengerti artinya, hidup itu penuh perjuangan. Dulu keluarga Kakek miskin, berkat kerja keras Kakek di masa mudanya, Om dan kalian semua bisa merasakan hidup yang serba enak seperti sekarang ini, lalu…Kenapa kalian menyia-nyiakan Kakek yang sudah berjuang untuk kita semua? Kalian sudah lupa pada Kakek dan malah sibuk sendiri.”
            “Kakek sudah lupa pada kami, Kakek terasa asing bagi kami…” ucap Reno berterus-terang. Dia merasa Kakek sudah tidak menyayanginya lagi, padahal dahulu Reno merupakan cucu kesayangan Kakek yang paling dibanggakan olehnya.
            “Ini bukan salah Kakek. Kepikunan sudah menghapus semua ingatan Kakek. Namun kita jangan sampai menjauhinya, justru Kakek sangat membutuhkan perhatian kita.” Kata Tante Sudarsono memberi wejangan kepada para keponakannya.  
            Om Sudarsono menambahkan, “Kami melihat kalian kurang perhatian pada Kakek, maka kami membuat rencana ini. Sebenarnya Kakek sejak pagi sudah dibawa ke rumah Tante Sandra di Matraman, ternyata tak ada satupun yang menyadari akan hal itu karena kalian berada di kamar atas terus, kalian sibuk dengan kegiatan kalian masing-masing, sampai ketika kami pura-pura pergi pun, kalian tak memperhatikan Kakek yang sebenarnya sudah tidak ada di kamarnya.”
            Anak-anak merasa malu dan mengakui kesalahannya. “Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi, kami akan merawat Kakek dengan baik, kami ingin memberi Kakek kasih sayang, meskipun Kakek sudah tak ingat siapa-siapa lagi. Kakek adalah tetap menjadi Kakek terbaik untuk kami semua. “ kata Petra, Nayla dan Reno serempak.
Rupanya teka-teki kota pintar hanyalah siasat semata, sebuah teka-teki kota dan tokoh yang diselesaikan dengan cara yang pintar, dan pada akhirnya semua orang menjadi senang.
***TAMAT***

Tidak ada komentar: