PROBLEMATIKA HATI DAN OBATNYA
Saya meringkaskan isi buku tentang
problematika hati yakni; buku yang berjudul ‘Rahasia Keajaiban Hati dari Imam
Ghazali,’ dan buku yang berjudul ‘Hati; Kedudukan, Keadaan, Penyakit dan
Pengobatannya dari Al Ustadz Ahmad Izzuddin Al Bayanuniy’ beserta buku-buku
lainnya yang menjadi acuan, berikut ini saya sajikan intisari yang saya buat
secara sederhana;
1. Iman
adalah ujaran dengan lisan, mengakui kebenarannya dengan hati dan
mengamalkannya dengan anggota badan. Iman diucapkan dan diyakinkan oleh hati
yang menjadi pemimpin bagi seluruh anggota badan untuk melakukan perbuatan atau
tindakan.
2. Rahmat
Allah SWT hanya mendekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan. Maka lakukan tolong-menolong
dalam melakukan kebaikan, apabila kebaikan dibalas dengan kejahatan,
berbuatbaik sajalah karena yang akan membalas kejahatan hanyalah kuasa Allah.
3. Syetan
selalu akan menggoda hati manusia kapanpun juga. Ketika manusia berbuat
sesuatu, maka yang ada didalam dirinya adalah bisikan syetan dengan syetan,
ataukah pertentangan antara bisikan syetan dengan malaikat. Jika dia berbuat
baik, maka yang menang adalah malaikat dan jika dia berbuat kejahatan maka yang
menang adalah syetan.
4. Di
dalam diri manusia terdapat bisikan syetan dan hawa nafsu yang diibaratkan
sebagai babi dan anjing. Yang keduanya akan memenangkan syetan dengan
bisikan-bisikannya.
5. Janganlah
taat pada babi – syahwat karena akan timbul sifat-sifat; tebal muka, kejahatan,
menghambur-hamburkan, kikir, riya’,
suka membuka tabir rahasia, suka berkelakar, melakukan hal yang sia-sia, rakus,
serakah, ambil muka, hasud, dengki, gembira melihat kesusahan orang lain.
6. Janganlah
taat pada anjing – amarah karena akan timbul sifat-sifat ; tahawwur atau ngawur, pengorbanan yang sia-sia, sombong, suka memuji
dirinya sendiri, suka membangkitkan kemarahan orang lain, merasa besar diri,
mengagumi dirinya sendiri, suka mengejek orang lain, suka meremehkan orang
lain, suka menghina orang lain, keinginan jahat, keinginan berbuat zhalim dll.
7. Manusia
hendaknya senantiasa dapat menahan hawa nafsu dan menjaga syahwat perut dengan
cara berpuasa menahan lapar serta menjaga ucapan dan sikap agar tidak
menyakitkan orang lain.
8. Manusia
hendaknya senantiasa menjaga lidah karena dari Abu Hurairoh ra, dia pernah
mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar
mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke
dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat.” Artinya bahwa
ucapan harus dijaga dengan benar, jangan berujar tanpa ‘tabayyun’ atau tanpa berpikir panjang karena akan bisa menjadi
penyebab murka Allah.
9. Dalam
menjaga lidah, hindarilah ghibah
(menceritakan seseorang tentang hal yang tidak disukainya), namimah (menyebarkan berita yang
menimbulkan kekacauan antara manusia), dusta (berbohong mengenai sesuatu hal), umpatan-umpatan.
Ucapkan hal-hal yang baik dan bermanfaat saja.
10. Hati hendaknya senantiasa dijaga dari berbagai
macam kotoran hati yang dapat mencemari sinar keimanan, seperti; Kufur, Jahl, Hubbur riasah, Khaufudz dzammi
wat Ta’yiir, Habbul Mad-hi wats Tsanaa’, I’tiqoodul Bid’I, ittibaa’ul Hawa,
Riya’, Thuulul Amal, Thama’, Kibr, Ujub, Hasud, Hiqd, Asysyamaatah, Saling
memusuhi, Al Jubn, Tahawwur, Ghadr,
Khianat, Khulful Wa’d, Su’uzhzhon, Tathoyyur, Bakhil dan kikir, Israaf dan tabdzir, Hubbul Maal, Malas,
Ajalah, Taswif, Waqohah, Jaza’, Kufur nikmat, Sukht, Bergantung pada selain
Allah, Mencintai orang fasik, Membenci ulama dan orang saleh, Lancang terhadap
Allah, Putus asa dari rahmat Allah, Takut kehilangan sesuatu yang berkenaan
dengan dunia, Al Mudahanah, Senang
terhadap sesuatu, tapi takut berpisah, Menentang dan sombong terhadap
kebenaran, Kemunafikan, Terus-menerus dalam maksiat, dll.
11. Kufur atau
kekafiran yang disebabkan oleh kebodohan, kesombongan manusia terhadap keagungan
Allah SWT atau istikhfaf (menganggap
remeh) terhadap apa yang diwajibkan, seperti; Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
Obatnya dengan mensucikan hati dan merendahkan diri sebagai manusia dihadapan
Tuhan.
12. Jahl atau
kebodohan, obatnya belajar dan menuntut ilmu, oleh karena itu islam mewajibkan untuk menuntut ilmu agar bisa memerangi
kebodohan.
13. Hubbur Riasah atau
mencintai kepemimpinan dirinya. Obatnya adalah menyadari bahwa setiap manusia
pasti memiliki kekurangan dan kelemahan serta merendahkan diri.
14. Khaufudz Dzammi wat Ta’yiir
atau takut celaan dan hinaan. Jika kita dihina oleh orang lain, berpikirlah tentang
dua hal, apakah orang yang menghina itu telah berbaik hati menunjukkan
kelemahan kita agar kita segera memperbaikinya ataukah dia telah berbohong yang
menyebabkan anda terhina? Jika ia bohong, maka celaannya tidak akan
membahayakan anda, justru dialah dalam keadaan yang bahaya karena mengumbar
fitnah.
15. Hubbul Mad-hi wats Tsanaa’
atau senang dipuji atau disanjung. Obatnya adalah bahwa setiap sanjungan itu
bisa menjerumuskan, orang bisa tertipu oleh pujian manusia dengan apa yang
sebenarnya tidak dimilikinya adalah bak orang miskin yang senang mendengar
ucapan yang mengatakan bahwa dirinya kaya. Maka belajarlah untuk mengetahui
hakikat diri sendiri agar tidak mudah tertipu dengan pujian orang.
16. I’tiqoodul Bid’I
atau meyakini bid’ah. Obatnya adalah
berkeyakinan pada kebenaran mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
17. Ittubaa’ul
Hawa
atau mengikuti hawa nafsu, obatnya adalah mencurahkan diri sekuat tenaga untuk
mengikuti apa yang datang dari Allah Ta’ala dan Sunnah Rasul.
18. Riya’
atau suka pamer, obatnya menyembunyikan perbuatan yang condong ditampakkan oleh
jiwa, kecuali perbuatan yang mesti tampak, seperti; shalat berjamaah, shalat jumat
dan mengeluarkan zakat.
19. Thuulul Amal atau
panjang angan-angan. Obatnya adalah mengingat mati dan sadar bahwa kematian itu
datangnya tiba-tiba.
20. Kibr atau
sombong, obatnya adalah merendahkan diri dengan bersikap rendah hati. Karena
dalam hadist syarief disebutkan; “Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya
ada kesombongan seberat dzarrah pun.”
21. Ujub atau
merasa bangga, obatnya adalah mengetahui
akibat-akibat yang ditimbulkannya, ujub menyebabkan
kesombongan dalam diri, ujub
menyebabkan seseorang melupakan dosa, ujub
menyebabkan orang lupa terhadap nikmat Allah, ujub merupakan penyebab menganggap diri suci, ujub membuat orang merasa aman dari siksa Allah Ta’ala.
22. Hasud
atau dengki. Obatnya adalah mengetahui akibat yang ditimbulkan dengki, yakni
merusak ketaatan dan sinar keimanan, melapangkan jalan untuk melakukan maksiat,
seperti ghibah, dusta dan namimah, tidak akan mendapat syafaat Nabi, kesedihan selalu ada pada
orang yang mendengki. Setelah memahami hal ini, obatilah dengan ilmu agama dan
amalan yang akan menjauhkan dari sifat dengki tersebut.
23. Hiqd
atau iri. Obatnya adalah samadengan Hasud karena iri adalah salah satu sebab
terjadinya hasud.
24. Asysyamaatah
atau gembira dengan musibah yang menimpa orang lain sehingga obatnya adalah istighfar atau meminta ampunan Allah dan
mendoakan kebaikan bagi orang tersebut.
25. Saling
memusuhi sesama muslim, obatnya adalah bersalaman atau berdamai, namun apabila
kita mengetahui sifat muslim yang dimusuhi ini tidak baik, menjauhlah darinya
dan pilihlah teman yang baik agar dapat
menularkan kebaikan-kebaikannya kepada kita.
26. Al Jubn
atau penakut. Berdoalah sebagaimana Rasul berdoa tentang hal ini, “Allahumma,
Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa takut dan kikir, dan aku
berlindung kepadamu dari usia lanjut (pikun), dan aku berlindung kepadaMu dari
fitnah dunia serta aku berlindung kepadaMu dari fitnah (siksa) kubur.”
(HR.Bukhari)
27. Tahawwur atau
kasar hati. Obatnya adalah menahan marah, mengingat betapa buruknya rupa ketika
kita sedang marah, belajarlah untuk hilm atau lemah lembut. Mengingat betapa
banyak faedah yang diambil apabila kita mampu menahan amarah, seperti;
disiapkan surga, dipilihkan bidadari yang cantik di surga dan pahala yang
besar.
28. Ghadr atau
melanggar janji, ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur. Obatnya adalah obatilah
penyebabnya dan tepatilah janji yang dibuat.
29. Khianat
ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur serta sifat orang munafik. Obatnya adalah obatilah
penyebabnya dan belajarlah untuk menjadi amanah.
30. Khulful Wa’d
atau ingkar janji ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur serta sifat orang munafik.
Obatnya adalah obatilah penyebabnya dan tepatilah janji-janji yang sudah
dibuat.
31. Su’uzhon
atau buruk sangka terhadap Allah Ta’ala dan orang-orang beriman. Obatnya dengan
cara menjauhi prasangka karena sesungguhnya prasangka itu sebohong-bohongnya
perkataan, berbaiksangkalah walaupun salah, itu lebih baik daripada berburuk
sangka padahal itu benar.
32. Bakhil dan
kikir kepada diri sendiri dan orang lain, obatnya dengan bersadaqoh dengan niat
Lillahi Ta’ala.
33. Israaf atau
boros dan tabdzir atau mubadzir, obatnya dengan belajar bersikap hemat.
34. Hubbul Maal
atau cinta harta, obatnya dengan merenungkan betapa tercelanya sifat bakhil dan orang-orang yang bakhil serta terpujinya kedermawaan dan
orang-orang yang dermawan.
35. Malas,
obatnya dengan giat berusaha dan berteman dengan orang yang giat berusaha agar
dapat menularkan sifat baiknya itu.
36. Ajalah
atau tergesa-gesa, obatnya adalah mengingat bahwa sikap perlahan-lahan dengan
berbagai pertimbangan yang baik merupakan suatu keutamaan.
37. Taswif atau
selalu hanya berkata “akan” dalam amal-amal kebajikannya. Obatnya dengan
menyegerakan untuk berbuat baik.
38. Waqohah
atau tidak tahu malu. Obatnya belajar untuk menahan diri dan meninggalkannya
untuk menghindari cercaan.
39. Kufur Nikmat
atau menutupi dan menyembunyikan nikmat. Obatnya dengan mengingat-ingat nikmat
Allah yang tak terhitung banyaknya.
40. Sukht atau
tidak rela. Obatnya adalah menyadari bahwa Allah telah membagi-bagikan
ketetapan-Nya dengan adil sehingga di dalam diri cepat atau lambat timbul rasa
ikhlas.
41. Bergantung
pada Selain Allah. Obatnya adalah menambah keyakinan bahwa satu-satunya
pertolongan datangnya hanya dari Allah.
42. Mencintai
orang fasik, obatnya dengan cara
menjauhi apa yang dicintanya dan mendekatkan diri pada Allah agar mampu
menghilangkan rasa cintanya pada orang yang fasik.
43. Membenci
ulama dan orang saleh, obatnya dengan cara mengetahui keutamaan mereka dan
berusaha mendekatinya sampai hilang rasa benci tersebut.
44. Lancang
terhadap Allah Ta’ala dan merasa aman dari azabnya, obatnya dengan menyadari
hakikat takut adalah getaran dalam hati yang terjadi atas dasar perkiraan
mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi. Sehingga kita mengingat dosa-dosa dan
kedahsyatan siksa Allah pada hari kiamat.
45. Putus
asa, obatnya adalah mengingat-ingat keutamaan Allah sehingga timbul rasa
harapan atau ro’ja.
46. Takut
kehilangan sesuatu berkenaan dengan dunia dan bersedih karenanya. Obatnya
dengan mengingat kehinaan dunia.
47. Al Mudahanah
atau berdiam diri ketika melihat kemaksiatan. Obatnya dengan belajar untuk
berani menghadapi kemunkaran.
48. Senang
kepada sesuatu, tapi takut berpisah. Obatnya mengingat bahwa segala sesuatu di
dunia akan fana.
49. Menentang
dan sombong terhadap kebenaran, obatnya berusaha sekuat tenaga untuk patuh
terhadap kebenaran.
50. Kemunafikan,
obatilah penyebab manusia itu menjadi munafik. Jangan berdusta, jangan ingkar
janji dan berkhianat.
51. Terus-menerus
dalam maksiat, obatnya kembali ke jalan yang lurus dan bertaubat.
52. Dalam
membersihkan kotoran hati, maka lakukanlah pengobatannya dengan
bersungguh-sungguh dan mendekatlah pada orang-orang yang sudah nampak
kebersihan hatinya sehingga kita bisa semakin belajar membersihkan hati dari
kotoran-kotorannya.
Isi petuah-petuah tersebut di atas
sangat bijak dan menyejukkan hati. Tapi--Secara pribadi rasanya masih terasa
sulit untuk mengimplementasikan dalam perbuatan dan perilaku sehari-hari dengan
sempurna. Namun kita sebisa mungkin harus terus berusaha membersihkan hati kita
dari kotoran-kotoran yang melekat, yang dapat memburamkan sinar keimanan yang
ada di dalam diri kita. Semoga bacaan ini bisa memberi manfaat kepada para
pembaca. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar