Sabtu, 25 April 2015

CERPEN TEKA-TEKI KOTA PINTAR

Sebuah Cerpen yang dibuat agar mengenyangkan otak pembaca untuk berpikir, teka-teki yang dapat dipecahkan dengan membaca kembali lembaran sejarah masa lampau. Semoga dapat membuka cakrawala pengetahuan bagi para pembaca. :)

TEKA-TEKI KOTA PINTAR
OLEH : BILQIS FITRIA SALSABIELA
Petra membuka perlahan kamar Kakek, dia terperanjat bukan main ketika melihat ke sekeliling kamar yang sudah berantakkan seperti kapal pecah, sementara batang hidung Sang Kakek tidak ditemukannya. Jantung Petra berdetak semakin kencang, dia cepat-cepat berlari ke kamar atas untuk memberitahu kedua saudaranya; Nayla dan Reno.
“Ayo, kita telpon polisi!” usul Nayla dengan nada panik.
Reno segera melarang, “Jangan! Nanti kita akan dimarahi oleh Om dan Tante, kita harus mencarinya dulu, siapa tahu kita bisa menemukan Kakek.”
“Benar, aku setuju dengan Reno, Om dan Tante Sudarsono pasti marah besar jika mereka  tahu Kakek hilang lagi. Kamu masih ingat kan pesan tadi siang?” Kata Petra mengingatkan.
Mereka kemudian teringat pada pesan Om dan Tante Sudarsono sebelum meninggalkan rumah siang tadi.
“Kalian harus menjaga Kakek selama kami pergi ke Jerman. Urusan bisnis kali ini sangat mendadak dan penting sekali, Om harap kalian bisa kami andalkan!“ kata Om Sudarsono kepada keponakan-keponakannya itu.
“Siap, Om!” jawab para keponakannya serempak.
“Kalian harus benar-benar sabar merawat Kakek yang sudah pikun dan suka bertingkah yang aneh-aneh.” Kata Tante Sudarsono mewanti-wanti.
Ketiga keponakannya itu mengangguk tanda mengerti. Beberapa saat kemudian, Om dan Tante Sudarsono pun meninggalkan rumah. Setelah Om dan Tante mereka pergi, Petra, Nayla dan Reno malah ramai berselisih mulut. Mereka sebenarnya tak suka kalau disuruh menjaga Kakek.
“Reno, sana kamu saja yang menjaga Kakek!” perintah Petra kepada adik bungsunya.
Reno memprotes keras kakak sulungnya itu, “Aku tidak mau, Kak! Biar Kak Nayla saja yang mengurus Kakek, dia kan anak perempuan biasanya sangat telaten seperti perawat.” Tunjuk Reno pada Nayla; kakak perempuannya.
“Perawat juga banyak yang laki-laki, kamu saja yang merawat Kakek, kamu kan cucu kesayangan Kakek.” Kata Nayla sambil bersungut-sungut.
 Rupanya tak ada satupun yang mau mengalah. Petra akhirnya membuat suatu kesepakatan  bersama.
“Baiklah, hari ini aku akan menjaga Kakek, besok adalah bagian Nayla dan keesokannya lagi adalah bagian Reno.” Kata Petra memberi solusi ketika semuanya tak mau menjaga Kakek. Kedua saudaranya pun setuju dengan usulan Petra.
Meskipun Petra yang memberi ide, namun sebenarnya Petra samasekali tidak suka dengan tugasnya ini, pasti kedua saudaranya juga merasakan hal yang sama, tidak ada yang suka pada Kakek semenjak Kakek menjadi pikun. Kakek bukan hanya lupa pada cucu-cucunya, tapi—Kakek juga bahkan sudah lupa pada namanya sendiri. Kakek pernah membuat kesal Petra karena dulu Kakek sempat keluar rumah tanpa sepengetahuan, semua penghuni rumah langsung menyalahkan Petra, terutama Om Sudarsono yang terkenal sangat galak. Semua langsung menjadi sasaran amarahnya, terutama Petra yang dianggap lalai menjaga Kakek. Saat itu  semuanya menjadi sangat panik dan mencari Kakek kemana-mana, untung saja ada seorang warga yang menemukan Kakek dan langsung mengantarkan Kakek pulang ke rumah.
Kejadian hilangnya Kakek berulang kembali hari ini. Dan mereka tentu tidak ingin lagi dimarahi oleh Paman mereka yang bertempramen tinggi itu.  
 “Gawat! Aku tidak menemukan Kakek dimana-mana, sudah kucari di dalam, di luar rumah, bahkan di jalan-jalan dekat sini juga Kakek tidak ada,” kata Petra pada Reno dengan raut wajah yang cemas.
“Kak, aku juga tidak menemukannya….” Ucap Reno setengah putus asa.
Nayla tiba-tiba berteriak keras, “Kak Petra…Reno, cepat kesini!”
Reno dan Petra pun mendekati Nayla yang saat itu sedang merapikan kamar Kakek yang  berantakkan. “Ada apa?” Tanya mereka hampir bersamaan.
“Kak Petra! Aku menemukan secarik kertas ini di dekat tempat tidur Kakek,” kata Nayla sebari melap keringat yang sudah mengucur deras, dia terlihat begitu tegang. “Coba baca isinya yang sungguh sangat aneh ini...” Ucapnya sambil menyodorkan kertas itu ke tangan Petra.
Petra memeriksanya dengan teliti. Dia kemudian membaca dengan keras agar dapat didengar oleh semua. “Isi tulisan dalam kertas ini adalah: Kakek kalian disandera.  Preanger > THR> ri1-1> bersama.” kata Petra sambil menyerngitkan dahi, tanda sedang berpikir keras. “Ini sungguh aneh, apakah Kakek diculik? Jika Kakek diculik, kenapa kertas ancamannya hanya secarik kecil kertas? Biasanya kertas seperti ini di film-film detektif adalah kertas petunjuk untuk memecahkan misteri, kita seolah diminta untuk menjawab teka-teki atas hilangnya Kakek saat ini.”
“Kalau memang ini sebuah kertas petunjuk untuk menemukan Kakek, kita harus segera memecahkan teka-teki ini!” Kata Nayla yang kemudian segera membuka laptopnya untuk mencari informasi terkait dengan kata-kata asing dalam kertas petunjuk yang mereka temukan.  “Dari sumber Wikipedia, aku menemukan kata PREANGER itu berasal dari Bahasa Belanda yang artinya; Parahyangan atau Priangan, yakni; daerah kebudayaan Sunda di Jawa Barat yang luasnya mencakup wilayah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Berarti…Ini terkait dengan kota-kota itu. Sementara THS…Apa artinya?”
“Petunjuk-petunjuk ini berindikasi general menuju spesifik. Preanger adalah sebuah wilayah atau tempat, THS mungkin merujuk pada tempat yang lebih khusus lagi.”  kata Petra memberi analisis cerdasnya.
Reno membuka suaranya, “Dan…Petunjuk THS ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan petunjuk selanjutnya, yakni; RI1-1,” Dia berpikir dengan cepat sebelum memaparkan analisanya. “Aku rasa aku sudah mengerti, THS adalah nama sebuah tempat pendidikan yang melahirkan RI1-1 karena petunjuk sebelumnya itu PREANGER untuk sebutan Priangan di masa Kolonial Belanda.”
“Maksudnya?” Tanya Nayla masih belum mengerti.
“Kakak pasti tahu, kan? RI1 adalah sebutan orang nomer satu di Indonesia, jadi…RI1-1 adalah Presiden Indonesia yang pertama, yakni; Ir.Soekarno yang dahulunya bersekolah di THS atau Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang didirikan pada tahun 1920 di Kota Kembang.”  Paparnya dengan penuh semangat. Reno memang yang paling muda, namun dia dikenal oleh saudara-saudaranya itu dengan julukan ‘Ensiklopedia Berjalan’ karena memiliki pengetahuan yang sangat luas. Oleh sebab itu pula, Kakek dulu mengistimewakannya sebagai cucu kesayangan, tentunya masa-masa itu terjadi sebelum kepikunan merenggut ingatan Kakek.  Bagi mereka, Kakek kini seperti orang asing saja, hal inilah yang menjauhkan mereka dengan Kakek.
“Lalu…Apa makna BERSAMA itu? Masih tidak jelas…” kata Petra menjadi bingung.
“Aku tahu!” teriak Nayla kegirangan. “Tanda panah ini menunjuk pada subjek akhir yang dituju, tentang kota dan tokoh, ini adalah sebuah teka-teki kota pintar, kita menebak kota atau tempat dengan cara yang pintar. Mula-mula PREANGER yang cakupan wilayahnya cukup luas, kemudian menyempit pada THS atau yang sekarang dikenal dengan ITB, ini berarti menyangkut Kota Bandung di masa Belanda, dan tentang tokoh itu adalah Ir.Sukarno. Jadi…yang BERSAMA RI1-1 memimpin Republik, yaitu; Muhammad Hatta; Wapres RI yang pertama.“
“Selanjutnya apa? Haruskah kita mengumpulkan biografi kedua tokoh tersebut?” kata Reno dengan raut bimbang.
Petra memberi komando, “Harus! Karena ini sepertinya menyangkut petunjuk untuk menemukan Kakek, sebelum Om dan Tante Sudarsono kembali dari Jerman, tiga hari lagi dari sekarang.” Kata Petra dengan tegas, dia menghela nafas panjang sebelum meneruskan kata-katanya. “Jika kita tidak bisa menemukan Kakek sampai sore nanti, kita harus lapor polisi dan kita juga harus siap dimarahi Om Sudarsono setelah Om pulang nanti.”
“Iya benar, kalau begitu kita jangan membuang-buang waktu lagi, mungkin kita bisa mendapat jawaban di Perpustakaan, semua yang berhubungan dengan bacaan dan riset sejarah ada disana. Ayo…Kita kesana!” ajak Nayla pada Petra dan Reno.
 Dengan hati was-was dan takut, mereka segera meluncur ke Perpustakaan Kampus untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang kedua tokoh proklamator itu. Mereka masuk ke dalam perpustakaan dan membaca buku-buku sejarah, meskipun mereka bingung bagaimana caranya untuk memecahkan teka-teki aneh ini. Sementara waktu semakin berlalu dengan cepat.
“Soekarno dan Hatta adalah proklamator kemerdekaan Indonesia, presiden dan wakil presiden pertama Indonesia, namun…Apa korelasinya dengan kasus hilangnya Kakek? Kalau tidak ada petunjuk lagi, maka tidak akan ada jawaban dari kasus ini karena petunjuknya masih absurd. Tidak jelas…” Kata Reno dengan nada putus asa.
Di tengah keputusasaan, terdengar bunyi sebuah buku yang tak jauh dari mereka dijatuhkan oleh seseorang dengan sengaja. Mereka mendekati rak buku dan menemukan kembali sebuah kertas petunjuk yang baru.
“Seseorang telah sengaja melakukan ini dan seolah-olah ingin bermain teka-teki dengan kita. Jangan-jangan dia adalah penculik Kakek!” Kata Petra sambil memungut kertas petunjuk baru dengan tangan bergetar karena gugup.
“Kita lapor polisi saja!” kata Nayla ketakutan.
“Jangan! Untuk menjaga keselamatan Kakek, kita jangan melibatkan polisi dulu.” saran Petra yang kemudian membaca kertas petunjuk baru. “KAKEK KALIAN DISANDERA. BERSAMA >        NETHERLAND  >    BOVENDIGUL  >    BANDA NEIRA   >    SS.” 
“Ini mungkin petunjuk kedua, petunjuk sebelumnya berakhir dengan BERSAMA, yakni; Soekarno yang bersama Hatta. Dan sekarang….” Gumam Nayla sambil berpikir-pikir. “Petunjuk kedua ini pun sepertinya mengenai kota dan tokoh, NETHERLAND adalah sebutan Negara Belanda, BOVENDIGUL adalah sebutan Tanah Merah di Papua, dan…BANDA NEIRA adalah sebuah kota indah yang terletak di Sulawesi yang terkenal dengan produksi pala.”
Reno membuat kesimpulan singkat, “Analisaku adalah….Seorang tokoh yang bersama-sama jawaban petunjuk sebelumnya,”
 “Maksudmu…Yang bersama Muhammad Hatta di tempat-tempat yang disebutkan itu?” tanya Petra dengan nada ragu-ragu.
Reno tersenyum simpul, “Iya Kak, bukankah seorang tokoh yang bersama-sama Muhammad Hatta di Perhimpunan Indonesia adalah Sutan Sjahrir? Sjahrir juga bersama-sama Hatta di dalam mengembangkan organisasi bernama PNI-Pendidikan sepulangnya dari Belanda, Sjahrir dan Hatta sama-sama mengalami pembuangan di BovenDigul (1935) dan Banda Neira (1936-1942). Di masa kemerdekaan, Sjahrir dan Hatta sama-sama memerintah Republik, Sjahrir menjadi Perdana Menteri di tahun 1945-1947 dan di masa itu Hatta menjadi wakil presiden. Keduanya kebetulan sama-sama berdarah minang. Ini adalah arti BERSAMA yang kedua,”                             
“Jadi…SS adalah inisial dari Sutan Sjahrir, ini jawaban dari teka-teki petunjuk kedua,” kata Petra menyimpulkan. “Tapi—Kasus ini tetap belum selesai. Masih tidak jelas arahnya. Coba kita cari tahu tentang Sutan Sjahrir di perpustakaan ini?”
“Iya, lagipula tokoh perjuangan ini tidak terlalu dikenal dibandingkan Soekarno dan Hatta padahal mereka dulu disebut sebagai Tiga Serangkai pada masa revolusi kemerdekaan Republik Indonesia.” Kata Nayla sambil mengetik kata ‘Sutan Sjahrir’ di layar komputer perpustakaan dan menemukan tiga judul buku yang berbeda terkait dengan Sjahrir.  
“Sekarang yang mesti kita lakukan adalah masing-masing harus menemukan buku-buku yang menyangkut Sutan Sjahrir.” Kata Petra memberi komando pada adik-adiknya.
Di perpustakaan itu, mereka pun berpencar untuk mencari buku-buku yang mengupas tokoh pahlawan kemerdekaan bernama Sutan Sjahrir yang masih terasa asing di telinga.
Reno tiba-tiba memanggil kedua kakaknya, “Kak Petra…Kak Nayla, di dalam buku tentang Sjahrir ini aku menemukan sebuah petunjuk baru!”
Dari tangan adiknya, Nayla kemudian membaca secarik kertas itu, “KAKEK KALIAN DISANDERA. BERSAMA    >  AMS BANDUNG    >   KOTA BERINTAN  >    150845.”
“Apa ini?” Tanya Petra dengan tanda tanya yang besar di dalam otaknya. “Benar-benar membingungkan, aku tahu KOTA BERINTAN adalah julukan dari Kota Cirebon, tapi…AMS BANDUNG dan angka 150845 itu apa maksudnya?”  
“Coba kita pikir….Jika petunjuk pertama terkait dengan jawaban di petunjuk kedua, mungkin petunjuk kedua terkait dengan jawaban untuk petunjuk ketiga.” Kata Nayla berkomentar.
“Betul juga Nayla, berarti…Jawaban teka-teki ini adalah tokoh yang bersama Sutan Sjahrir di AMS BANDUNG dan berkaitan dengan KOTA BERINTAN serta angka 150845. Siapakah tokoh itu?” ucap Petra menyimpulkan.
Reno menambahkan dengan analisanya, “Jika petunjuk pertama; THS adalah nama sekolah teknik di Bandung, maka AMS BANDUNG bisa jadi mengacu pada sebuah tempat pendidikan, yang dimaksud mungkin…Algemeene Middelbare School yang juga ada yang di Kota Bandung. Kebetulan Sutan Sjahrir dulu bersekolah di AMS ini dengan jurusan sastra klasik. Jadi…Seorang tokoh yang bersama Sjahrir menempuh pendidikan di AMS BANDUNG dan pernah tinggal di Cirebon yang julukannya adalah KOTA BERINTAN itu siapa?”
“Jika kita belajar sejarah, Sjahrir melakukan penandatanganan perjanjian Linggadjati antara Pihak Indonesia dan Pihak Belanda di tahun 1946, di kota Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Mungkin tokoh tersebut ada bersama Sjahrir pada saat itu.” Kata Petra memberi jawaban.
Reno tidak setuju, dia berargumen, “Aku rasa petunjuk ini tidak mengarah pada Kota  Kuningan, tapi—Kota Cirebon itu sendiri. Karena rekan Sjahrir dalam Perjanjian Linggadjati itu; Amir Sjarifuddin tidak pernah bersekolah di AMS Bandung, selepas belajar di ELS, study-nya langsung ke Belanda. Lalu…Ini juga mengenai 150845. Sebuah angka misterius yang akan menjadi jawaban dari teka-teki ketiga ini.”
“Benar, tapi—Aku sudah pusing dengan angka-angka di materi kuliah, jangan ditambah pusing lagi dengan memikirkan teka-teki dari angka ini. Ayo, kita lapor polisi saja! Aku sudah menyerah.” kata Nayla memberi usulan.
“Baiklah, perpustakaan ini juga akan segera tutup, kita harus pulang!” kata Petra diikuti adik-adiknya meninggalkan gedung perpustakaan. Mereka pun bergegas menuju mobil untuk segera pulang ke rumah.
Sebelum mereka sampai ke mobil yang berada di tempat parkiran. Tiba-tiba saja dari kejauhan ada seseorang yang sengaja melemparkan kertas dengan menggunakan ketapel. Kertas itu tepat mengenai badan Petra dan dengan sigap Petra memungut kertas tersebut. 
“KAKEK KALIAN DISANDERA. 150845   >    TUGU   >    KEP.RS    >    S   >  JERMAN.” kata Petra membacakan isi kertas itu, “Jelas-jelas dari tadi si penculik sudah mempermainkan kita dengan kertas teka-teki kota pintar. Coba aku analisa…Angka 150845 berkaitan dengan TUGU, mungkin sebuah tugu di Kota Cirebon, biasanya tugu ditujukan untuk memperingati kejadian atau peristiwa besar. Sementara…Kep biasanya adalah singkatan untuk Kepala, RS umumnya adalah singkatan dari Rumah Sakit, apakah maksud KEP.RS ini adalah…Kepala Rumah Sakit. Lalu…S dan Jerman itu apa?”         
Reno berpikir sebentar, kemudian tersenyum. “Aku jadi ingat, dulu sebelum Kakek menderita kepikunan yang parah, Kakek pernah bercerita pada kita tentang kisah di zaman revolusi kemerdekaan, Kakek menceritakan sejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, aku masih ingat pada cerita itu, ada seorang dokter yang dikenal Sutan Sjahrir sebagai kepala rumah sakit, tokoh itulah yang sudah membacakan teks proklamasi versi Sjahrir di depan sebuah tugu di Kota Cirebon tepatnya di depan alun-alun Kejaksan, dua hari sebelum tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Jadi…150845 maksudnya adalah di tanggal 15 Agustus 1945. Namanya merupakan kunci jawaban dari teka-teki ini. Dia adalah tersangka utama seluruh rentetan peristiwa hilangnya Kakek.”
“Lalu…Apa hubungan tokoh itu dengan Jerman? Kurasa sangat jauh dan malah tidak ada korelasinya samasekali karena Indonesia tidak pernah dijajah oleh Jerman.” kata Petra masih tidak mengerti.
Reno tertawa dengan kencang. “Kak Petra, ini hanyalah sebuah permainan teka-teki, kita tidak akan bisa menjawab teka-teki ini jika kita tidak belajar dan membaca buku-buku sejarah, dan...S yang dimaksudkan dalam teka-teki terakhir ini adalah sebuah inisial nama dari tokoh tersebut, teman AMS Sjahrir yang merupakan dokter dan Kepala Rumah Sakit di Kota Cirebon serta menjadi pembaca proklamasi yang lebih cepat dua hari dibandingkan dengan di Jakarta, 15 agustus 1945. Dia adalah dokter Sudarsono. Pelaku penculikan Kakek dan pembuat teka-teki kota pintar itupun bernama sama dengan tokoh itu. ”
“Jadi…maksudmu…Pelakunya adalah Om Sudarsono? Bukankah dia sedang pergi ke Jerman bersama Tante?” Tanya Nayla penuh keraguan.
“Jerman...Mungkin maksudnya…Jejeran Matraman, pasti Kakek ada di rumah Tante Sandra di Jalan Matraman. Sedari awal kalimat teka-teki yang selalu diulang sebagai penekanan adalah; KAKEK KALIAN DISANDERA, maksudnya…Kakek kalian di Sandra. Lebih tepatnya lagi…Kakek kalian ada di Tante Sandra.” kata Reno seraya melebarkan tawanya yang renyah.
Tiba-tiba saja Om dan Tante Sudarsono muncul dari balik pepohonan. Paman mereka pun berkata, “Iya anak-anak, Om dan Tante yang sudah merencanakannya, tentusaja ini semua memiliki tujuan, pertama….Agar kalian kembali belajar sejarah, terutama sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kedua dan menjadi yang terpenting….Kalian seharusnya bisa menyayangi Kakek kalian seperti dulu, Om dan Tante sudah tahu perilaku kalian yang kurang baik selama ini, kalian sering menelantarkan Kakek, padahal sewaktu kalian masih kecil-kecil, Kakek sangat menyayangi dan merawat kalian semua dengan sangat baik.”
Petra, Nayla dan Reno tertunduk malu, menyesali perbuatan mereka yang sudah mengabaikan Kakek.
Om Sudarsono melanjutkan kisahnya tentang Kakek. “Mungkin seperti pepatah Schiller…Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan, jangan disia-siakan dengan gampangnya. Kalau kalian mengerti artinya, hidup itu penuh perjuangan. Dulu keluarga Kakek miskin, berkat kerja keras Kakek di masa mudanya, Om dan kalian semua bisa merasakan hidup yang serba enak seperti sekarang ini, lalu…Kenapa kalian menyia-nyiakan Kakek yang sudah berjuang untuk kita semua? Kalian sudah lupa pada Kakek dan malah sibuk sendiri.”
            “Kakek sudah lupa pada kami, Kakek terasa asing bagi kami…” ucap Reno berterus-terang. Dia merasa Kakek sudah tidak menyayanginya lagi, padahal dahulu Reno merupakan cucu kesayangan Kakek yang paling dibanggakan olehnya.
            “Ini bukan salah Kakek. Kepikunan sudah menghapus semua ingatan Kakek. Namun kita jangan sampai menjauhinya, justru Kakek sangat membutuhkan perhatian kita.” Kata Tante Sudarsono memberi wejangan kepada para keponakannya.  
            Om Sudarsono menambahkan, “Kami melihat kalian kurang perhatian pada Kakek, maka kami membuat rencana ini. Sebenarnya Kakek sejak pagi sudah dibawa ke rumah Tante Sandra di Matraman, ternyata tak ada satupun yang menyadari akan hal itu karena kalian berada di kamar atas terus, kalian sibuk dengan kegiatan kalian masing-masing, sampai ketika kami pura-pura pergi pun, kalian tak memperhatikan Kakek yang sebenarnya sudah tidak ada di kamarnya.”
            Anak-anak merasa malu dan mengakui kesalahannya. “Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi, kami akan merawat Kakek dengan baik, kami ingin memberi Kakek kasih sayang, meskipun Kakek sudah tak ingat siapa-siapa lagi. Kakek adalah tetap menjadi Kakek terbaik untuk kami semua. “ kata Petra, Nayla dan Reno serempak.
Rupanya teka-teki kota pintar hanyalah siasat semata, sebuah teka-teki kota dan tokoh yang diselesaikan dengan cara yang pintar, dan pada akhirnya semua orang menjadi senang.
***TAMAT***

Minggu, 05 April 2015

KRITIK SASTRA 'ANAK SEMUA BANGSA' KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Kritik Sastra ‘Anak Semua Bangsa’ karya Pramoedya Ananta Toer
By : Bilqis Fitria Salsabiela
Kali ini saya membuat tulisan mengenai kritik sastra versi saya sendiri pada sebuah karya dari Pramoedya Ananta Toer yang berjudul 'Anak Semua Bangsa.' Pramoedya Ananta Toer adalah sosok penulis yang sangat piawai memadu kata demi kata dengan begitu indahnya. Itulah sebabnya sejak remaja, saya sudah tertarik untuk membaca buku-bukunya itu. Sebagai seorang Maestro dunia sastra, Pak Pram mampu menyajikan keutuhan cerita sehingga kita seolah dibawanya ke sebuah nuansa baru, kita seakan-akan mengenali suasana di dalam cerita, meskipun sesungguhnya kita tidak pernah merasai hidup di zaman itu. Dengan keindahannya bercerita, Pak Pram sanggup mempermainkan emosi para pembaca untuk hanyut ke dalam tuturan cerita yang disajikan. Selanjutnya, hal yang ingin saya kritisi adalah menyangkut isi dan teknik penulisan karya menarik ini;
·         Isi novel ‘Anak Semua Bangsa’ sungguh mengesankan dengan paparan sejarah yang melukiskan keadaan zaman, namun ada beberapa poin yang ingin saya kritik, yakni:
·         Novel ini menyuguhkan tokoh-tokoh dari berbagai bangsa, seperti: Jean Marais yang berasal dari Perancis, Kommer yang berasal dari Belanda, Khouw Ah Soe yang berasal dari Cina, dll. Namun Pak Pram terasa kurang mendalami bagaimana karakter spesipik sebagai Orang Perancis, Orang Belanda dan Orang Cina sehingga tidak digalinya secara sempurna dalam penokohannya itu.   
·         Pembabakan dalam novel tersebut menurut saya terasa kurang sistematik, Pak Pram tidak menyajikan cerita runutnya dari A ke Z, tapi dari A ke D baru ke B, sehingga kita melompat-melompat untuk mengikuti alur pemikirannya. Saya mengerti akan hal itu karena sebagai penulis, penulis akan lebih mudah untuk menuangkan ide yang langsung saja melintas di otaknya untuk meneruskan cerita. Namun terasa lebih menyenangkan bagi pembaca bila mengisahkan sebuah cerita dengan urutan runut, bukan terasa meloncat di beberapa bab.
·         Pada hlmn 225 dalam novelnya, Pak Pram mengangkat point of view Minke sebagai tokoh utama yang sedang bercerita, tertulis:
“Camat itu mati?” Nyai bertanya rusuh.
“Tak ada yang tahu sampai sekarang.”
“Tuan tidak berterus terang,” Mama mendesak.
Dalam tulisannya ini sekilas membuat kebimbangan karena tokoh utama bernama Minke biasa memanggil Nyai Ontosoroh dengan sebutan ‘Mama,’ sementara tokoh lain memanggil dengan sebutan ‘Nyai’. Semestinya kata ‘Nyai’ dapat diganti dengan ‘Mama’ untuk mempertegas bahwa yang bercerita adalah Minke karena beberapa bagian dalam novel ini ada tokoh lain yang juga bercerita.
·         Pada bab 2 berisikan tentang surat-surat Panji Darman sebaiknya diceritakan khusus di bab tersebut saja, tidak di tambah dengan bagaimana perasaan Minke sebagai suami Annelies dan Nyai Ontosoroh sebagai ibu. Kedua hal ini semestinya dipaparkan tersendiri pada bab selanjutnya karena bisa menjadi titik kulminasi perasaan mereka yang dapat menyentuh para pembaca ketika Annelies diceritakan meninggal dunia.             
·         Puncak konflik yakni; menghadapi Ir.Maurits Mellema terasa kurang seru, semestinya bisa menjadi titik penghabisan bab yang paling menarik.
·         Teknik penulisan memang bergantung pada selera dari sang penulis dalam memilih diksi atau mungkin gaya menulisnya, beberapa point yang ingin saya kritik, antara lain:
·         Saya menemukan penulisan kata yang menurut saya masih belum sesuai dengan kaidah penulisan Bahasa Indonesia yang sempurna, mungkin karena karya ini memang dibuat di zaman dahulu. Misalnya; saya menemukan kata yang seharusnya di pisah menjadi dua bagian, seperti: pada hlmn 2 ‘titiktolak’ seharusnya dipisahkan menjadi ‘titik tolak.’ hlmn 5 ‘meja tulis.’ hlmn 15 ‘iba hati,’ ‘lemah hati,’ hlmn 22, 123, 220, 230, 231, 239, 242, 258, 277, 278, 280, 281, 327, 335, 353 dan 383 ‘Tuan muda,’ hlmn 23, 24, 25, 26, 27, 30, 31 dan 33 ‘juru rawat,’ hlmn 31, 80, 107, 118 dan 133  ‘sampai hati,’ hlmn 34, 77, 233, 248, 331 dan 397 ‘rumah sakit,’ hlmn 45 dan 105 ‘rumah tangga,’ hlmn 47 dan 245 ‘senang hati,’ hlmn 51, 189 dan 386 ‘berat hati,’ hlmn 54, 89, 177, 181, 186, 291, 362 dan 371 ‘rendah hati,’ hlmn 55, 121, 176,  191, 230, 239, 246 dan 247 ‘kurang ajar,’ hlmn 56 dan 298 ‘buta huruf,’ hlmn 58, 122, 279, 351, 370 dan 376 ‘latar belakang,’ hlmn 58 ‘senja hari,’ hlmn 59 ‘kata hati,’ dan ‘isi hatimu,’  hlmn 59 dan 123 ‘seni lukis,’ hlmn 61 ‘ruang duduk,’ hlmn 65, 77 dan 348 ‘rendah diri,’ hlmn 68 ‘geli hatinya,’  hlmn 70 ‘tuan rumah,’ hlmn 56 dan 72 ‘baik hati,’ hlmn 73, 107, 240 dan 251 ‘malam hari,’ hlmn 73, 139 dan 326 ‘makan malam,’ hlmn 73, 87, 134, 135 dan 159 ‘ruang tamu,’ hlmn 75, 224 dan 289 ‘juru warta,’  hlmn 81 dan 290 ‘siang hari,’ hlmn 82 ‘kerja paksa,’ hlmn 84, 272 dan 295 ‘kemudian hari,’ hlmn 87 ‘kamar kecil,’ hlmn 92, 285, 322, 358 dan 396  ‘ke mana’ semestinya disatukan menjadi ‘kemana,’ hlmn 96 ‘buah baju,’ hlmn 98, 389 dan 396 ‘duka cita,’  hlmn 102, 106, 229, 329 dan 383 ‘luar biasa,’ hlmn 104 dan 170 ‘lalu lintas,’ hlmn 110 ‘luar kota,’ hlmn 114, 115, 176, 191, 225, 293, 311 dan 320 ‘surat kabar,’ hlmn 124 ‘kacang tanah,’ ‘tinggi hati,’ dan ‘kamar tunggu,’ hlmn 130 ‘minyak tanah,’ hlmn 131, 139, 144, 146, 152, 153, 154, 156 dan 171 ‘juru bayar,’ hlmn 131 dan 328 ‘juru tulis,’ hlmn 141, 215 dan 288 ‘pabrik gula,’ hlmn 146 ‘harga diri,’ hlmn 147, 150, 151, 154, 156 dan 217 ‘ruang kerja,’ hlmn 170 ‘tapal batas,’  hlmn 183 ‘tumpang sari,’ hlmn 189, 259, 299 dan 300 ‘barang tentu,’ hlmn 190 ‘kutu busuk,’ hlmn 202 ‘makan siang,’ hlmn 203 ‘kaki langit,’ hlmn 206 ‘buah pikiran,’ hlmn 212 ‘lintah darat’ dan ‘butahuruf’,’ hlmn 218 ‘ibu jari,’ hlmn 219, 246 dan 331 ‘kecil hati,’ hlmn 229 ‘keras hati,’ hlmn 233, 279, 325, 353, 378, 382, 384, 385, 393, 396, 398 dan 399 ‘ruang depan’ hlmn 233, 378 dan 398 ‘ruang belakang,’ hlmn 247 ‘pabrik minyak,’ hlmn 257 ‘ruang tengah,’ hlmn 263, 264 dan 267 ‘tukang rakit,’ hlmn 266 ‘ataupun,’ hlmn 279 ‘buah tangan,’ hlmn 280 ‘anak tangga,’ hlmn 283 ‘mesin suara,’ hlmn 286 dan 342 ‘dimana,’ hlmn  291 dan 318 ‘tanam paksa,’ hlmn 292, 311 dan 365 ‘tanah air,’ hlmn 304 ‘panca indera,’ hlmn 305 ‘ruang makan,’ hlmn 307 ‘raja kaya,’ dan ‘tukang pukulnya,’ hlmn 309 ‘maha pandai,’ hlmn 310 ‘daya bayangku,’ hlmn 310 ‘bermurah hati,’ hlmn 312 ‘ilmu bumi,’  hlmn 318 ‘kayu manis,’ hlmn 319 ‘barat laut,’ hlmn 324 ‘patah hati,’  hlmn 325 ‘masa lalumu,’ hlmn 328 ‘sore hari,’ hlmn 338 ‘ahli waris,’ hlmn 339 ‘Tukang kebun,’ hlmn 341 ‘tanya jawab,’ hlmn 344 ‘subuh hari,’ hlmn 349 ‘minyak wangi,’  hlmn 359 ‘samasekali,’ hlmn 363 ‘goncang hati,’ hlmn 368 ‘kapal perang,’ hlmn 370 ‘medan perang,’ hlmn 371 ‘kamar tidurnya,’ hlmn 374 ‘ayam hutan,’ hlmn 374 ‘orang utan,’ hlmn 375 dan 376,  ‘babi hutan,’ hlmn 389 ‘hati kecil’ dan ‘biang keladi.’   
·         Masih ada beberapa kata yang kurang tepat pemakaiannya atau jika ditempatkan menjadi rancu saat di baca, seperti: Pada hlmn 6 ‘kurasai’ semestinya  ‘kurasakan,’ hlmn 15 ‘rogo’ semestinya ‘rogoh,’ hlmn 21 ‘diiringkan’ semestinya ‘diiringi.’ hlmn 26, 86, 223, 268 dan 360 ‘mengiakan’ semestinya ‘mengiyakan,’ hlmn 32 ‘membeludagi’ semestinya ‘membludak,’ hlmn 34 ‘menegor’ semestinya ‘menegur,’ hlmn 36, 38, 64, 88, 118, 139, 173, 186, 203, 227, 229 dan 381 ‘menyedari’ semestinya ‘menyadari,’ hlmn 48, 64, 116, 118, 119, 120, 121, 229, 324 dan 365 ‘gelumbang’ semestinya ‘gelombang,’ dan ‘kraton’ semestinya ‘keraton,’ hlmn 48, 111 dan 113  ‘cacad’ semestinya ‘cacat,’ hlmn 49, dan 293 ‘mujarad’ semestinya ‘mujarab,’ hlmn 52, 96, 88, 96 dan 175 ‘kesedaran’ semestinya ‘kesadaran,’ hlmn 53, 57, 62, 63, 69, 70, 73, 74 dan 94 ‘interpiu’ semestinya ‘interview,’  hlmn 58 ‘tersintuh’ semestinya ‘tersentuh,’ hlmn 65 ‘berseakan’ menjadi ‘seakan-akan,’ hlmn 67 ‘sorga’ menjadi ‘surga,’ hlmn 73, 342, 343, 355 dan 358 ‘akontan’ semestinya ‘akuntan,’ hlmn 87 ‘komplex’ menjadi ‘kompleks,’ hlmn 87 ‘menterjemahkan’ menjadi ‘menerjemahkan,’ hlmn 99, 239, 274 dan 275 ‘belayar’ menjadi ‘berlayar,’ hlmn 101 ‘mengetawakan’ menjadi ‘mentertawakan,’ hlmn 122 dan 364 ’pada suatu kali’ semestinya ‘pada suatu waktu,’ hlmn 124, 125, 136, 280 dan 316 ‘kranjang’ menjadi ‘keranjang,’ hlmn 124, 126, 127, 224, 295, 318, 328, 346 dan 347 ‘klas’ menjadi ‘kelas,’ hlmn 128 ‘hajad’ menjadi ‘hajat,’ hlmn 136 ‘klambu’ menjadi ‘kelambu,’ hlmn 136 dan 269 ‘mengiringkan’ menjadi ‘mengiringi,’ hlmn 141 ‘penterjemah’ menjadi ‘penerjemah,’ hlmn 147 ‘samadi’ menjadi ‘semedi,’ hlmn 201 ‘ceritai’ menjadi ‘ceritakan,’ hlmn 224 ‘pengeluasan’ menjadi ‘perluasan,’ hlmn 229 ‘menghiba-hiba’ menjadi ‘mengiba-iba,’ hlmn 238 ‘kupersilakan’ menjadi ‘kupersilahkan,’ hlmn 239 ‘bersekolah’ dapat ditulis ‘sekolah’ untuk lebih enak di baca pada susunan kalimat ini : ‘yang belum berangkat bersekolah.’ hlmn 263 ‘menyilakan’ menjadi ‘mempersilahkan,’ hlmn 244, 269, 325, 382 dan banyak lagi, kata ‘Ayoh’ semestinya menjadi ‘Ayo,’ hlmn 246 ‘teracukan’ menjadi ‘teracuhkan,’ hlmn 248 ‘disugu’ menjadi ‘disuguhi,’ hlmn 263 ‘penompang’ menjadi ‘penumpang.’ hlmn 267 ‘mengiringkan’ menjadi ‘mengiringi,’ hlmn 267 ‘tompangan’ menjadi ‘tumpangan,’ hlmn 273, 338, 340 dan 352  ‘bertele’ menjadi ‘bertele-tele,’  hlmn 277 ‘semua-mua’ menjadi ‘semuanya,’ hlmn 290 ‘klobot’ menjadi ‘kelobot,’ hlmn 296 ‘sebermula’ menjadi ‘semula,’  hlmn 303 ‘konsekwen’ menjadi ‘konsekuen,’ hlmn 317 ‘tekateki’ menjadi ‘teka-teki,’ hlmn 333 ‘merasai’ menjadi ‘merasakan,’ hlmn 337 ‘kurban’ menjadi ‘korban,’ hlmn 347 ‘berbasa’ menjadi ‘berbahasa,’ hlmn 354 ‘sedar’ menjadi ‘sadar,’ hlmn 365 ‘samudra’ menjadi ‘samudera,’  hlmn 366 dan 369 ‘tamasa’ menjadi ‘tamasya,’ hlmn 367 ‘krangkeng’ menjadi ‘kerangkeng,’ hlmn 369 ‘survai’ menjadi ‘survei,’ hlmn  379 ‘dahsat’ menjadi ‘dahsyat.’       
·         Saya temukan beberapa kalimat yang membutuhkan tanda koma dalam susunannya. Misalnya, pada  hlmn 58 seharusnya dapat ditulis: Setelah mendapat propaganda dari Dokter Martinet pada malam pertama kami, ia mendapat banyak pekerjaan tanpa melalui perantaraku. Hal semacam ini dapat ditemukan juga pada hlmn 111 baris 10-11,  238 baris 12-13, hlmn 244 baris 27-29, hlmn 247 baris 19-20, hlmn 261 baris 3-4 dan 10-12, hlmn 263 baris 1-2, hlmn 270 baris 23-24. Hlmn 279 baris 20-22, hlmn 281 baris 20-21, hlmn 290 baris 10-11, hlmn 294 baris 28-29, hlmn 312 baris 28-29, hlmn 313 baris 32-33,  hlmn 324 baris 10-13, hlmn 327 baris 22-23, hlmn 329 baris 33,  hlmn 350 baris 7-9, hlmn 357 baris 27-29, hlmn 362 baris 14-16, hlmn 369 baris 7-9, hlmn 375 baris 17-19, hlmn 380 baris 33-34, hlmn 382 baris 23, hlmn 386 baris 27-28, hlmn 392 baris 13. Sedangkan pada hlmn 346, membutuhkan koma dan tanda titik dua dalam kalimat itu: Pada suatu hari, ia diperintahkan menghadap Tuan Residen Bojonegoro; Herbert de la Croix.
·         Kalimat serapan yang sudah dijadikan Bahasa Indonesia atau masih tetap dalam bahasa asing semestinya di cetak miring, seperti: di hlmn 45 ‘adpertensi,’  hlmn 52 ‘disformatif,’ hlmn 48 ‘enclave’. Hlmn 54 ‘prestise-ku.’ Hlmn 59 dan 141 ‘employee.’ Hlmn 73  ‘headline,’ hlmn 74 ‘mempernya,’ hlmn 94 ‘kontrabande,’ hlmn 104 dan 387 ‘advokat,’ hlmn 225 ‘oktroi,’ hlmn 375 ‘patent,’ dan ‘sitje,’ hlmn 384 dan 392 ‘fauteuil,’dan ‘epaulet,’ dll.
·         Saya temukan masih ada sedikit kata yang salah ketik atau lupa tanda petik/tanda tanya, seperti: di hlmn 83 ‘dapal’ semestinya ‘dapat,’ hlmn 186 ‘banya’ seharusnya  ‘hanya,’ hlmn 245 ‘sehentar’ semestinya ‘sebentar,’ hlmn 253 lupa ada tanda petiknya semestinya ditulis:
“Aku lupa, kau ingin meneruskan pelajaran ke sekolah dokter,” nada suaranya terdengar menyindir, hlmn 260 ‘Belapda’ seharusnya ‘Belanda.’ hlmn 283 ‘Wajahnja’ seharusnya ‘Wajahnya.’ hlmn 283 semestinya : “Pengaruh apa?” (kurang tanda tanya.) hlmn 297 ‘apat’ semestinya ‘dapat,’ hlmn 314 ‘berjalan-julan’ semestinya ‘berjalan-jalan,’ hlmn 319 ‘bua’ semestinya ‘buat’ dan ‘Na,’ seharusnya ‘Nah,’ hlmn 383 ‘lebib’ semestinya ‘lebih.’ Hal yang ringan semacam ini juga penting untuk diperhatikan, beda huruf bisa beda artikulasi dan bahkan maknanya.
·         Saya temukan pada hlmn 247 yang bertuliskan:
Betul-betul dia mengerti bagaimana mesti mengkurangajari aku. Kata ‘mengkurangajari’ terasa rancu dengan berbagai interpretasi, misalnya berbuat kurang ajar terhadapku ataukah kurang di ajari?.
Pada hlmn 346 yang bertuliskan:
Perkara Jan Tantang ternyata sandiwara yang ketelanjuran. Kata ‘ketelanjuran’ terasa rancu, bisa diganti ‘sudah terlanjur.’

Pada hlmn 351 yang bertuliskan: Tapi kita tak dapat bikin apa-apa (diganti: Tapi kita tak bisa berbuat apa-apa.) 
Demikianlah isi kritik sastra untuk buku 'Anak Semua Bangsa' versi saya. Bila ada kesalahan dan kekurangan yang ada dalam tulisan saya ini. Saya memohon maaf. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. :)