ETIKA
BERLALU LINTAS
Oleh
: Bilqis Fitria Salsabiela
Sore itu, Dana bersama
Nia; adik perempuannya berada di jalan raya. Dana membonceng Nia dengan motornya
sambil memberikan sejumlah arahan kepada Nia yang ingin sekali belajar
mengendarai motor.
“Kalau mengemudi motor
di jalanan seperti ini harus tertib, jangan nyerobot atau nyalip-nyalip
kendaraan yang ada di depan karena itu sangat berbahaya, nyawa kita bisa jadi
taruhannya. Seperti pepatah jawa...Alon-alon waton kelakon alias pelan-pelan
asalkan selamat. Untuk selamat, kita harus selalu mematuhi rambu-rambu lalu
lintas,” Kata Dana yang mengemudikan motor dengan amat hati-hati sambil memberi
wejangannya panjang lebar.
“Oh begitu ya,” sahut
Nia yang diboncengnya menimpali singkat sebari memperhatikan hiruk pikuk
berbagai kendaraan yang memenuhi badan jalan.
“Dengarkan baik-baik etika berlalu lintas ini...Setiap
pengguna jalan harus menghormati pengguna jalan yang lain, kita jangan menjadi
egois di jalan raya karena jalan raya adalah milik umum, kita bukanlah
satu-satunya penguna jalan, ada orang lain yang memiliki hak dan kewajiban yang
sama. Semua orang mempunyai hak untuk melintasi jalan raya. Intinya kita
jangan sampai membuat pengendara lainnya merasa terganggu. Ada orang yang
sering kebut-kebutan di jalan raya. Ada juga orang yang membelokkan
kendaraannya seenak-seenaknya saja tanpa mau melihat ke belakang atau ke sampingnya
terlebih dahulu. Semua itu bisa mengganggu keamanan dan kenyamanan pengguna
jalan yang lain...”
Nia
mendengarkan petuah kakaknya dengan baik.
“Kita juga harus memperhatikan
kendaraan kita, apakah kendaraan kita masih laik jalan, jangan sampai tiba-tiba
mogok di tengah jalan yang dapat mengganggu kelancaran aktivitas di jalan raya,
selain itu cek juga suara klakson atau knalpot kendaraan kita, jangan sampai
mengganggu kenyamanan pengguna kendaraan lainnya,”
“Oh iya, suara knalpot yang bising
itu mengganggu pendengaran dan menambah pencemaran udara, biasanya ini dilakukan
oleh anak-anak muda yang sering ngebut di jalanan.” Kata Nia menimpali
perkataan Dana.
“Kebiasaan seperti itu jangan
ditiru, kebut-kebutan bisa sangat membahayakan diri kita dan orang lain, ingat...Kita
sebagai pengguna jalan mempunyai hak dan juga kewajiban yang harus dilakukan,
yakni; menaati semua peraturan lalu lintas yang berlaku di negara ini, jangan
hanya karena ada polisi yang mengawasi, kita baru menaati aturan. Sementara
ketika tidak ada pengawasan, kita malah mengabaikannya...”
“Iya, aku juga sudah mempelajari
berbagai rambu-rambu lalu lintas, seperti; gambar tikungan, turunan,
penyempitan jalan, jalanan tidak datar dan lain-lain...”
“Baguslah kalau begitu, rambu lalu
lintas berfungsi untuk membantu menjaga keselamatan kita dan memperingatkan
kemungkinanan adanya bahaya sehingga kita bisa mengantisipasinya,” kata Dana
sambil tersenyum lebar. Namun airmukanya yang ceria itu langsung berubah
seketika. “Eh...Itu kan si Okta!!!” teriak Dana secara tiba-tiba,
volume suaranya melengking dahsyat sehingga mengagetkan sang adik yang duduk
dibelakangnya. Hampir saja ia melompat dari motor.
“Kakak, ngangetin aku
saja...” kata Nia spontanitas.
Dana tidak menimpali,
pandangannya fokus ke depan, ia melihat dari kejauhan gebetannya yang bernama
Okta sedang dibonceng oleh seorang pria yang mengenakan helm, kendaraan mereka
berada sangat jauh di depan, Dana pun segera mempercepat laju kendaraannya
sejalan dengan suasana hatinya yang berubah drastis, dalam seketika ia
terserang virus gundah gulana.
“Kak Dana, hati-hati bawa
motornya!” kata Nia setengah berteriak ketika Dana kembali mempercepat laju motornya
sampai pada batas kecepatan yang paling tinggi. “Katanya sesuai pepatah jawa...Alon-alon
waton kelakon, tapi—Prakteknya ngebut juga...” selorohnya sebari mengeratkan
pegangannya pada pinggang Dana karena kecepatan motor mereka sudah mencapai
titik kulminasi.
Sekali lagi, Dana tidak
menimpali perkataan Nia. Ia memegang stir motor kuat-kuat, kendaraannya tetap
melaju bak anak panah yang melesat dan dengan gesit ia mengemudikan motornya melewati
beberapa kendaraan yang berada di depan.
“Katanya ngga boleh
nyalip-nyalip kendaraan yang ada di depan, nanti bisa berbahaya, nyawa kita bisa
jadi taruhannya, kenapa kakak malahan nyalip kendaraan di depan?” Kata Nia
kembali mengingatkan Dana untuk menghentikan aksinya itu.
“Maaf Nia, lupakan
etika berkendara di jalan raya, ini soal si Okta...” kata Dana bersuara, tarikan
nafasnya terdengar cepat menandakan emosi di hatinya kian bergejolak. “Apa kamu
tidak lihat di depan sana itu si Okta sedang dibonceng sama cowo berhelm itu?”
“Oh iya, itu memang Mba
Okta, tapi—Kakak ngga perlu ngebut begini, apalagi kendaraannya di jalan raya
sedang ramai...” kata Nia mencoba menenangkan hati Dana.
Dana kembali menanggapi perkataan Nia. “Aku jadi
penasaran Okta pergi sama siapa?” katanya nampak geram sehingga ia tak kurun menurunkan
laju kendaraannya.
“Kak Dana ingetnya sama gebetan mulu, ngga
inget sama keselamatan nyawa kita dan nyawa orang lain di jalan raya seperti
ini..” keluh Nia sekali lagi.
Dana tidak menghiraukan
perkataan adiknya, ia hendak kembali melakukan aksi nyalip-nyalip kendaraan
yang ada di depan, namun kali ini aksinya itu mengalami kegagalan, ia hampir
saja menabrak sebuah mobil yang berada di depan dan ia pun berusaha mati-matian
untuk menghindari tabrakan dengan membanting stir sehingga keadaan motornya menjadi
oleng dan mereka berdua langsung kehilangan keseimbangan.
Beberapa saat kemudian,
mereka pun terjatuh dari motor, untung saja kendaraan yang berada di belakang
langsung berhenti saat kejadian itu terjadi sehingga kecelakaan tidak semakin fatal.
Jika tidak, mungkin saja mereka akan tertabrak kendaraan yang berada di
belakang.
“Kalian tidak apa-apa,
kan?” tanya seorang bapak yang langsung keluar dari mobilnya untuk melihat
keadaan.
Bapak itu mendekati
mereka diikuti banyak orang yang mulai mengerubungi mereka berdua. Dana dan Nia
tidak mengalami cidera yang serius, untung saja hanya lecet-lecet di bagian
lutut dan lengan. Sementara motor mereka ringsek di bagian depan.
“Saya
tidak apa-apa, Pak!” kata Dana berusaha bangkit sambil menahan sakit di sekujur
tubuhnya. “Kamu bagaimana, Nia?”
“Aku
juga tidak apa-apa, Kak! Hanya lecet-lecet di badan...” kata Nia sebari
menunjukkan luka lecet di lengan kanan dan kirinya.
Seorang
pemuda yang mengerubungi mereka kemudian berkata, “Makanya jangan kebut-kebutan
di jalan! Kalian kan tahu kecelakaan bisa memacetkan jalanan.” Kata pemuda itu
yang kemudian melanjutkan ucapannya. “Ayo, kalian ke pinggir dulu! Biar jalanan
ini bisa digunakan lagi oleh para pengguna jalan lainnya...”
Mereka berdua pun
menuruti perkataan pemuda itu. Dana kemudian menuntun motornya diikuti Nia yang
berjalan dibelakangnya. Kerumunan orang pun bubar dan kembali pada kendaraan
mereka masing-masing untuk melanjutkan perjalanannya.
“Bukankah barusan Kakak
yang mengajariku tentang etika berkendara di jalan raya? Tapi—kenapa hanya
karena masalah sepele, yaitu; Mba Okta; gebetan Kakak itu akhirnya kita berdua menjadi
celaka?” Keluh Nia sambil memperlihatkan kembali beberapa luka lecet di
lengannya pada sang kakak.
“Maafkan aku,
Nia....Ini memang salah Kakak!” kata Dana penuh penyesalan.
“Lihat motor kakak yang
penyok itu, untung saja kita mengenakan helm sehingga kepala kita bisa
terlindungi dengan baik, kalau kita tidak memakai helm sebagai pelindung kepala,
bisa saja kepala kita terbentur dengan keras di jalanan tadi. Dan aku tidak
bisa membayangkan kalau ada kendaraan di belakang kita yang melintas saat kita
jatuh....”
“Iya, maafkan Kakak...”
Pintanya sekali lagi.
“Gebetan Kakak itu sekarang
sudah menghilang entah kemana dan yang kita dapatkan dari aksi nyalip-nyalip
kendaraan itu hanyalah lecet-lecet di badan dan motor yang ringsek parah, aku
juga malu karena kita menjadi pusat perhatian dan tontonan orang banyak...”
kata Nia makin menggerutu. “Ternyata ada satu hal lagi yang harus dipegang
dalam etika berlalu lintas, ini sangat penting dan telah diabaikan oleh Kakak.
Kita harus bisa menjaga emosi kita dengan baik, emosi akan mempengaruhi
perilaku kita di jalan raya. Emosi ternyata bisa mengubah segalanya, walaupun
Kakak sebelumnya selalu berhati-hati di jalan raya jadi berubah perilakunya hanya
karena melihat gebetannya bersama orang lain....”
“Ya sudahlah, nasi
sudah menjadi bubur, apa mau dikata lagi...Kakak memang mengaku salah karena Kakak
sudah mengikuti emosi sehingga kita berdua jadi celaka seperti ini.”
“Lalu...Sekarang
bagaimana?” tanya Nia terlihat bingung melihat ke sekeliling.
Motor mereka penyok di
bagian depan dan sedikit rusak di bagian samping. Dana berusaha menyalakan
motornya itu, namun selalu tidak berhasil. Rupanya, motornya tidak bisa
digunakan dan perlu diperbaiki di bengkel.
“Aduuuh, ini semua gara-gara
Kakak!” keluh Nia berkali-kali.
“Sudahlah, daripada
terus-menerus mengeluhkan kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Daripada
kita mengeluh terus, lebih baik mencari solusi. Satu-satunya jalan, kita harus
mencari bengkel terdekat dari sini....”
“Berarti...Kita harus berjalan kaki lumayan jauh
untuk ke bengkel.”
“Nia, sepertinya memang
kita tak punya pilihan lain.” Kata Dana kepada adiknya.
Mereka pun mulai
berjalan kaki menuju bengkel terdekat, Dana menuntun motornya perlahan, Nia pun
mengikutinya dari belakang sambil sesekali ia menggerutu sendiri.
Sesampainya mereka di bengkel. Montir segera memeriksa
keadaan motor Dana dan memberitahukan besaran biaya perbaikannya.
“Wah, biayanya kok
mahal sekali, Pak?” komentar Dana ketika montir memberi taksiran.
“Ini sudah terhitung
murah dibandingkan dengan biaya perbaikan di bengkel-bengkel lainnya.” Jawab
montir bengkel itu.
“Kira-kira kapan
selesainya?” tanya Dana kepada montir bengkel.
“Sore ini juga bisa selesai karena pelayanan
kami cepat dan bisa dijamin kualitasnya.”
“Kita nunggu disini atau
ditinggal sebentar?” tanya Dana kepada adiknya.
Nia membuka suara,
“Memangnya kita mau pergi kemana kalau motor Kakak saja tidak bisa dipakai? Apa
kita mau jalan kaki lagi seperti tadi?”
“Oh iya.. Aku
benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Ini semua gara-gara aku melanggar etika
berlalu lintas di jalan raya. Kita sekarang menderita kerugian dari segi waktu,
tenaga dan materi. Kantongku terancam kempes karena motor yang rusak ini butuh
biaya perbaikan yang besar,”
“Jadi...Intinya
adalah kita harus menjaga emosi di kesempatan apapun juga, terutama saat
berkendara di jalanan raya yang ramai seperti tadi.” Kata Nia mewanti-wanti
kakaknya.
“Iya, aku mengakui
kesalahanku dan kedepan aku tidak akan seperti itu lagi...”
“Eh, lihat Kak! Itu kan
Mba Okta dan cowo berhelm itu menuju kemari...” kata Nia tiba-tiba.
Mereka
kemudian melihat Okta dan pria berhelm itu masuk ke dalam bengkel tersebut.
Mereka semua kemudian bertegur sapa dan saling bersalaman.
“Kenalin
ini kakakku yang bernama Hendri, dia pemilik bengkel disini.” Kata Okta sambil
memperkenalkan pria misterius yang memakai helm itu kepada mereka berdua.
Pria
itu membuka helm dan turun dari motornya. “Iya, saya kakaknya Okta,” katanya
sebari tersenyum. “Kendaraan kalian sedang diperbaiki?”
“Iya...”
jawab Dana singkat sambil menahan malu.
“Yang
mana?” tanyanya lagi.
Dana
menunjuk motornya yang ringsek itu.
“Loh
kok bisa separah itu?” tanya Okta kepada mereka..
"Tadi
kami....” ucap Nia hendak menceritakan kronologis peristiwa kecelakaan barusan.
Namun segera dicegah oleh Dana.
Dana
buru-buru memotong pembicaraan Nia. “Tadi kami tertimpa musibah kecelakaan lalu
lintas, tapi—tidak apa-apa, tidak ada korban jiwa, kami hanya luka-luka lecet
saja.”
“Syukurlah kalau begitu, kalian harus lebih
berhati-hati lagi di jalan raya! Sekarang perilaku pengguna jalan suka cepat
emosi jadi sering ngebut dan nyalip-nyalip kendaraan yang di depannya. Itu kan
berbahaya...” pesan Hendri yang tidak disadarinya begitu pas dengan apa yang mereka
alami.
“Benar
Kak!” kata Nia sambil melirik kearah Dana.
“Iya,
benar sekali.” Kata Dana memahami isyarat dari adiknya itu.
Mengetahui rambu-rambu lalu
lintas memang sangat penting dan yang tak kalah pentingnya lagi adalah menjaga etika
berlalu lintas karena bukan hanya kita berkewajiban untuk menjaga keselamatan
diri kita sendiri, namun juga menjaga keselamatan orang lain yang menjadi tanggung
jawab bersama sebagai pengguna jalan. Jagalah emosi agar kita senantiasa dapat
berperilaku santun di jalan raya.
****TAMAT***
Blog post ini dibuat
dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat
Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan
Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com