Sabtu, 31 Oktober 2015

ETIKA BERLALU LINTAS

ETIKA BERLALU LINTAS
                                                                    Oleh : Bilqis Fitria Salsabiela
Sore itu, Dana bersama Nia; adik perempuannya berada di jalan raya. Dana membonceng Nia dengan motornya sambil memberikan sejumlah arahan kepada Nia yang ingin sekali belajar mengendarai motor.       
“Kalau mengemudi motor di jalanan seperti ini harus tertib, jangan nyerobot atau nyalip-nyalip kendaraan yang ada di depan karena itu sangat berbahaya, nyawa kita bisa jadi taruhannya. Seperti pepatah jawa...Alon-alon waton kelakon alias pelan-pelan asalkan selamat. Untuk selamat, kita harus selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas,” Kata Dana yang mengemudikan motor dengan amat hati-hati sambil memberi wejangannya panjang lebar.
“Oh begitu ya,” sahut Nia yang diboncengnya menimpali singkat sebari memperhatikan hiruk pikuk berbagai kendaraan yang memenuhi badan jalan.
“Dengarkan baik-baik etika berlalu lintas ini...Setiap pengguna jalan harus menghormati pengguna jalan yang lain, kita jangan menjadi egois di jalan raya karena jalan raya adalah milik umum, kita bukanlah satu-satunya penguna jalan, ada orang lain yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.  Semua orang mempunyai hak untuk melintasi jalan raya. Intinya kita jangan sampai membuat pengendara lainnya merasa terganggu. Ada orang yang sering kebut-kebutan di jalan raya.  Ada juga orang yang membelokkan kendaraannya seenak-seenaknya saja tanpa mau melihat ke belakang atau ke sampingnya terlebih dahulu. Semua itu bisa mengganggu keamanan dan kenyamanan pengguna jalan yang lain...”
Nia mendengarkan petuah kakaknya dengan baik.
         “Kita juga harus memperhatikan kendaraan kita, apakah kendaraan kita masih laik jalan, jangan sampai tiba-tiba mogok di tengah jalan yang dapat mengganggu kelancaran aktivitas di jalan raya, selain itu cek juga suara klakson atau knalpot kendaraan kita, jangan sampai mengganggu kenyamanan pengguna kendaraan lainnya,”
        “Oh iya, suara knalpot yang bising itu mengganggu pendengaran dan menambah pencemaran udara, biasanya ini dilakukan oleh anak-anak muda yang sering ngebut di jalanan.” Kata Nia menimpali perkataan Dana.
          “Kebiasaan seperti itu jangan ditiru, kebut-kebutan bisa sangat membahayakan diri kita dan orang lain, ingat...Kita sebagai pengguna jalan mempunyai hak dan juga kewajiban yang harus dilakukan, yakni; menaati semua peraturan lalu lintas yang berlaku di negara ini, jangan hanya karena ada polisi yang mengawasi, kita baru menaati aturan. Sementara ketika tidak ada pengawasan, kita malah mengabaikannya...”
            “Iya, aku juga sudah mempelajari berbagai rambu-rambu lalu lintas, seperti; gambar tikungan, turunan, penyempitan jalan, jalanan tidak datar dan lain-lain...”
            “Baguslah kalau begitu, rambu lalu lintas berfungsi untuk membantu menjaga keselamatan kita dan memperingatkan kemungkinanan adanya bahaya sehingga kita bisa mengantisipasinya,” kata Dana sambil tersenyum lebar. Namun airmukanya yang ceria itu langsung berubah seketika. “Eh...Itu kan si Okta!!!” teriak Dana secara tiba-tiba, volume suaranya melengking dahsyat sehingga mengagetkan sang adik yang duduk dibelakangnya. Hampir saja ia melompat dari motor.
“Kakak, ngangetin aku saja...” kata Nia spontanitas.
Dana tidak menimpali, pandangannya fokus ke depan, ia melihat dari kejauhan gebetannya yang bernama Okta sedang dibonceng oleh seorang pria yang mengenakan helm, kendaraan mereka berada sangat jauh di depan, Dana pun segera mempercepat laju kendaraannya sejalan dengan suasana hatinya yang berubah drastis, dalam seketika ia terserang virus gundah gulana.    
“Kak Dana, hati-hati bawa motornya!” kata Nia setengah berteriak ketika Dana kembali mempercepat laju motornya sampai pada batas kecepatan yang paling tinggi. “Katanya sesuai pepatah jawa...Alon-alon waton kelakon, tapi—Prakteknya ngebut juga...” selorohnya sebari mengeratkan pegangannya pada pinggang Dana karena kecepatan motor mereka sudah mencapai titik kulminasi.
Sekali lagi, Dana tidak menimpali perkataan Nia. Ia memegang stir motor kuat-kuat, kendaraannya tetap melaju bak anak panah yang melesat dan dengan gesit ia mengemudikan motornya melewati beberapa kendaraan yang berada di depan.
“Katanya ngga boleh nyalip-nyalip kendaraan yang ada di depan, nanti bisa berbahaya, nyawa kita bisa jadi taruhannya, kenapa kakak malahan nyalip kendaraan di depan?” Kata Nia kembali mengingatkan Dana untuk menghentikan aksinya itu.
“Maaf Nia, lupakan etika berkendara di jalan raya, ini soal si Okta...” kata Dana bersuara, tarikan nafasnya terdengar cepat menandakan emosi di hatinya kian bergejolak. “Apa kamu tidak lihat di depan sana itu si Okta sedang dibonceng sama cowo berhelm itu?”
“Oh iya, itu memang Mba Okta, tapi—Kakak ngga perlu ngebut begini, apalagi kendaraannya di jalan raya sedang ramai...” kata Nia mencoba menenangkan hati Dana.      
 Dana kembali menanggapi perkataan Nia. “Aku jadi penasaran Okta pergi sama siapa?” katanya nampak geram sehingga ia tak kurun menurunkan laju kendaraannya.
 “Kak Dana ingetnya sama gebetan mulu, ngga inget sama keselamatan nyawa kita dan nyawa orang lain di jalan raya seperti ini..” keluh Nia sekali lagi.
Dana tidak menghiraukan perkataan adiknya, ia hendak kembali melakukan aksi nyalip-nyalip kendaraan yang ada di depan, namun kali ini aksinya itu mengalami kegagalan, ia hampir saja menabrak sebuah mobil yang berada di depan dan ia pun berusaha mati-matian untuk menghindari tabrakan dengan membanting stir sehingga keadaan motornya menjadi oleng dan mereka berdua langsung kehilangan keseimbangan.
Beberapa saat kemudian, mereka pun terjatuh dari motor, untung saja kendaraan yang berada di belakang langsung berhenti saat kejadian itu terjadi sehingga kecelakaan tidak semakin fatal. Jika tidak, mungkin saja mereka akan tertabrak kendaraan yang berada di belakang.
“Kalian tidak apa-apa, kan?” tanya seorang bapak yang langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan.
Bapak itu mendekati mereka diikuti banyak orang yang mulai mengerubungi mereka berdua. Dana dan Nia tidak mengalami cidera yang serius, untung saja hanya lecet-lecet di bagian lutut dan lengan. Sementara motor mereka ringsek di bagian depan.     
            “Saya tidak apa-apa, Pak!” kata Dana berusaha bangkit sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. “Kamu bagaimana, Nia?”
            “Aku juga tidak apa-apa, Kak! Hanya lecet-lecet di badan...” kata Nia sebari menunjukkan luka lecet di lengan kanan dan kirinya.
            Seorang pemuda yang mengerubungi mereka kemudian berkata, “Makanya jangan kebut-kebutan di jalan! Kalian kan tahu kecelakaan bisa memacetkan jalanan.” Kata pemuda itu yang kemudian melanjutkan ucapannya. “Ayo, kalian ke pinggir dulu! Biar jalanan ini bisa digunakan lagi oleh para pengguna jalan lainnya...”  
Mereka berdua pun menuruti perkataan pemuda itu. Dana kemudian menuntun motornya diikuti Nia yang berjalan dibelakangnya. Kerumunan orang pun bubar dan kembali pada kendaraan mereka masing-masing untuk melanjutkan perjalanannya.
“Bukankah barusan Kakak yang mengajariku tentang etika berkendara di jalan raya? Tapi—kenapa hanya karena masalah sepele, yaitu; Mba Okta; gebetan Kakak itu akhirnya kita berdua menjadi celaka?” Keluh Nia sambil memperlihatkan kembali beberapa luka lecet di lengannya pada sang kakak.
“Maafkan aku, Nia....Ini memang salah Kakak!” kata Dana penuh penyesalan.
“Lihat motor kakak yang penyok itu, untung saja kita mengenakan helm sehingga kepala kita bisa terlindungi dengan baik, kalau kita tidak memakai helm sebagai pelindung kepala, bisa saja kepala kita terbentur dengan keras di jalanan tadi. Dan aku tidak bisa membayangkan kalau ada kendaraan di belakang kita yang melintas saat kita jatuh....”
“Iya, maafkan Kakak...” Pintanya sekali lagi.
“Gebetan Kakak itu sekarang sudah menghilang entah kemana dan yang kita dapatkan dari aksi nyalip-nyalip kendaraan itu hanyalah lecet-lecet di badan dan motor yang ringsek parah, aku juga malu karena kita menjadi pusat perhatian dan tontonan orang banyak...” kata Nia makin menggerutu. “Ternyata ada satu hal lagi yang harus dipegang dalam etika berlalu lintas, ini sangat penting dan telah diabaikan oleh Kakak. Kita harus bisa menjaga emosi kita dengan baik, emosi akan mempengaruhi perilaku kita di jalan raya. Emosi ternyata bisa mengubah segalanya, walaupun Kakak sebelumnya selalu berhati-hati di jalan raya jadi berubah perilakunya hanya karena melihat gebetannya bersama orang lain....”
“Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, apa mau dikata lagi...Kakak memang mengaku salah karena Kakak sudah mengikuti emosi sehingga kita berdua jadi celaka seperti ini.”
“Lalu...Sekarang bagaimana?” tanya Nia terlihat bingung melihat ke sekeliling.
Motor mereka penyok di bagian depan dan sedikit rusak di bagian samping. Dana berusaha menyalakan motornya itu, namun selalu tidak berhasil. Rupanya, motornya tidak bisa digunakan dan perlu diperbaiki di bengkel.
“Aduuuh, ini semua gara-gara Kakak!” keluh Nia berkali-kali.
“Sudahlah, daripada terus-menerus mengeluhkan kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Daripada kita mengeluh terus, lebih baik mencari solusi. Satu-satunya jalan, kita harus mencari bengkel terdekat dari sini....”  
 “Berarti...Kita harus berjalan kaki lumayan jauh untuk ke bengkel.”
“Nia, sepertinya memang kita tak punya pilihan lain.” Kata Dana kepada adiknya.
Mereka pun mulai berjalan kaki menuju bengkel terdekat, Dana menuntun motornya perlahan, Nia pun mengikutinya dari belakang sambil sesekali ia menggerutu sendiri.
 Sesampainya mereka di bengkel. Montir segera memeriksa keadaan motor Dana dan memberitahukan besaran biaya perbaikannya.
“Wah, biayanya kok mahal sekali, Pak?” komentar Dana ketika montir memberi taksiran.
“Ini sudah terhitung murah dibandingkan dengan biaya perbaikan di bengkel-bengkel lainnya.” Jawab montir bengkel itu.
“Kira-kira kapan selesainya?” tanya Dana kepada montir bengkel.
 “Sore ini juga bisa selesai karena pelayanan kami cepat dan bisa dijamin kualitasnya.”
“Kita nunggu disini atau ditinggal sebentar?” tanya Dana kepada adiknya.
Nia membuka suara, “Memangnya kita mau pergi kemana kalau motor Kakak saja tidak bisa dipakai? Apa kita mau jalan kaki lagi seperti tadi?”
“Oh iya.. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Ini semua gara-gara aku melanggar etika berlalu lintas di jalan raya. Kita sekarang menderita kerugian dari segi waktu, tenaga dan materi. Kantongku terancam kempes karena motor yang rusak ini butuh biaya perbaikan yang besar,”
            “Jadi...Intinya adalah kita harus menjaga emosi di kesempatan apapun juga, terutama saat berkendara di jalanan raya yang ramai seperti tadi.” Kata Nia mewanti-wanti kakaknya.
“Iya, aku mengakui kesalahanku dan kedepan aku tidak akan seperti itu lagi...”
“Eh, lihat Kak! Itu kan Mba Okta dan cowo berhelm itu menuju kemari...” kata Nia tiba-tiba.
            Mereka kemudian melihat Okta dan pria berhelm itu masuk ke dalam bengkel tersebut. Mereka semua kemudian bertegur sapa dan saling bersalaman.
            “Kenalin ini kakakku yang bernama Hendri, dia pemilik bengkel disini.” Kata Okta sambil memperkenalkan pria misterius yang memakai helm itu kepada mereka berdua.
            Pria itu membuka helm dan turun dari motornya. “Iya, saya kakaknya Okta,” katanya sebari tersenyum. “Kendaraan kalian sedang diperbaiki?”
            “Iya...” jawab Dana singkat sambil menahan malu.
            “Yang mana?” tanyanya lagi.
            Dana menunjuk motornya yang ringsek itu.
            “Loh kok bisa separah itu?” tanya Okta kepada mereka..
         "Tadi kami....” ucap Nia hendak menceritakan kronologis peristiwa kecelakaan barusan. Namun segera dicegah oleh Dana.
            Dana buru-buru memotong pembicaraan Nia. “Tadi kami tertimpa musibah kecelakaan lalu lintas, tapi—tidak apa-apa, tidak ada korban jiwa, kami hanya luka-luka lecet saja.”
             “Syukurlah kalau begitu, kalian harus lebih berhati-hati lagi di jalan raya! Sekarang perilaku pengguna jalan suka cepat emosi jadi sering ngebut dan nyalip-nyalip kendaraan yang di depannya. Itu kan berbahaya...” pesan Hendri yang tidak disadarinya begitu pas dengan apa yang mereka alami.
            “Benar Kak!” kata Nia sambil melirik kearah Dana.
            “Iya, benar sekali.” Kata Dana memahami isyarat dari adiknya itu.
Mengetahui rambu-rambu lalu lintas memang sangat penting dan yang tak kalah pentingnya lagi adalah menjaga etika berlalu lintas karena bukan hanya kita berkewajiban untuk menjaga keselamatan diri kita sendiri, namun juga menjaga keselamatan orang lain yang menjadi tanggung jawab bersama sebagai pengguna jalan. Jagalah emosi agar kita senantiasa dapat berperilaku santun di jalan raya.  
           
           

****TAMAT***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Sabtu, 20 Juni 2015

PROBLEMATIKA HATI DAN OBATNYA

PROBLEMATIKA HATI DAN OBATNYA

Saya meringkaskan isi buku tentang problematika hati yakni; buku yang berjudul ‘Rahasia Keajaiban Hati dari Imam Ghazali,’ dan buku yang berjudul ‘Hati; Kedudukan, Keadaan, Penyakit dan Pengobatannya dari Al Ustadz Ahmad Izzuddin Al Bayanuniy’ beserta buku-buku lainnya yang menjadi acuan, berikut ini saya sajikan intisari yang saya buat secara sederhana;
1.    Iman adalah ujaran dengan lisan, mengakui kebenarannya dengan hati dan mengamalkannya dengan anggota badan. Iman diucapkan dan diyakinkan oleh hati yang menjadi pemimpin bagi seluruh anggota badan untuk melakukan perbuatan atau tindakan.
2.      Rahmat Allah SWT hanya mendekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan. Maka lakukan tolong-menolong dalam melakukan kebaikan, apabila kebaikan dibalas dengan kejahatan, berbuatbaik sajalah karena yang akan membalas kejahatan hanyalah kuasa Allah.  
3.      Syetan selalu akan menggoda hati manusia kapanpun juga. Ketika manusia berbuat sesuatu, maka yang ada didalam dirinya adalah bisikan syetan dengan syetan, ataukah pertentangan antara bisikan syetan dengan malaikat. Jika dia berbuat baik, maka yang menang adalah malaikat dan jika dia berbuat kejahatan maka yang menang adalah syetan.
4.      Di dalam diri manusia terdapat bisikan syetan dan hawa nafsu yang diibaratkan sebagai babi dan anjing. Yang keduanya akan memenangkan syetan dengan bisikan-bisikannya.  
5.      Janganlah taat pada babi – syahwat karena akan timbul sifat-sifat; tebal muka, kejahatan, menghambur-hamburkan, kikir, riya’, suka membuka tabir rahasia, suka berkelakar, melakukan hal yang sia-sia, rakus, serakah, ambil muka, hasud, dengki, gembira melihat kesusahan orang lain.
6.      Janganlah taat pada anjing – amarah karena akan timbul sifat-sifat ; tahawwur atau ngawur, pengorbanan yang sia-sia, sombong, suka memuji dirinya sendiri, suka membangkitkan kemarahan orang lain, merasa besar diri, mengagumi dirinya sendiri, suka mengejek orang lain, suka meremehkan orang lain, suka menghina orang lain, keinginan jahat, keinginan berbuat zhalim dll.
7.      Manusia hendaknya senantiasa dapat menahan hawa nafsu dan menjaga syahwat perut dengan cara berpuasa menahan lapar serta menjaga ucapan dan sikap agar tidak menyakitkan orang lain.
8.      Manusia hendaknya senantiasa menjaga lidah karena dari Abu Hurairoh ra, dia pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat.” Artinya bahwa ucapan harus dijaga dengan benar, jangan berujar tanpa ‘tabayyun’ atau tanpa berpikir panjang karena akan bisa menjadi penyebab murka Allah.
9.      Dalam menjaga lidah, hindarilah ghibah (menceritakan seseorang tentang hal yang tidak disukainya), namimah (menyebarkan berita yang menimbulkan kekacauan antara manusia), dusta (berbohong mengenai sesuatu hal), umpatan-umpatan. Ucapkan hal-hal yang baik dan bermanfaat saja.
10.   Hati hendaknya senantiasa dijaga dari berbagai macam kotoran hati yang dapat mencemari sinar keimanan, seperti; Kufur, Jahl, Hubbur riasah, Khaufudz dzammi wat Ta’yiir, Habbul Mad-hi wats Tsanaa’, I’tiqoodul Bid’I, ittibaa’ul Hawa, Riya’, Thuulul Amal, Thama’, Kibr, Ujub, Hasud, Hiqd, Asysyamaatah, Saling memusuhi, Al Jubn, Tahawwur, Ghadr, Khianat, Khulful Wa’d, Su’uzhzhon, Tathoyyur, Bakhil dan kikir, Israaf dan tabdzir, Hubbul Maal, Malas, Ajalah, Taswif, Waqohah, Jaza’, Kufur nikmat, Sukht, Bergantung pada selain Allah, Mencintai orang fasik, Membenci ulama dan orang saleh, Lancang terhadap Allah, Putus asa dari rahmat Allah, Takut kehilangan sesuatu yang berkenaan dengan dunia, Al Mudahanah, Senang terhadap sesuatu, tapi takut berpisah, Menentang dan sombong terhadap kebenaran, Kemunafikan, Terus-menerus dalam maksiat, dll.
11.  Kufur atau kekafiran yang disebabkan oleh kebodohan, kesombongan manusia terhadap keagungan Allah SWT atau istikhfaf (menganggap remeh) terhadap apa yang diwajibkan, seperti; Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Obatnya dengan mensucikan hati dan merendahkan diri sebagai manusia dihadapan Tuhan.
12.  Jahl atau kebodohan, obatnya belajar dan menuntut ilmu, oleh karena itu islam mewajibkan  untuk menuntut ilmu agar bisa memerangi kebodohan.   
13.  Hubbur Riasah atau mencintai kepemimpinan dirinya. Obatnya adalah menyadari bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelemahan serta merendahkan diri.
14.  Khaufudz Dzammi wat Ta’yiir atau takut celaan dan hinaan. Jika kita dihina oleh orang lain, berpikirlah tentang dua hal, apakah orang yang menghina itu telah berbaik hati menunjukkan kelemahan kita agar kita segera memperbaikinya ataukah dia telah berbohong yang menyebabkan anda terhina? Jika ia bohong, maka celaannya tidak akan membahayakan anda, justru dialah dalam keadaan yang bahaya karena mengumbar fitnah.
15.  Hubbul Mad-hi wats Tsanaa’ atau senang dipuji atau disanjung. Obatnya adalah bahwa setiap sanjungan itu bisa menjerumuskan, orang bisa tertipu oleh pujian manusia dengan apa yang sebenarnya tidak dimilikinya adalah bak orang miskin yang senang mendengar ucapan yang mengatakan bahwa dirinya kaya. Maka belajarlah untuk mengetahui hakikat diri sendiri agar tidak mudah tertipu dengan pujian orang.
16.  I’tiqoodul Bid’I atau meyakini bid’ah. Obatnya adalah berkeyakinan pada kebenaran mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
17.    Ittubaa’ul Hawa atau mengikuti hawa nafsu, obatnya adalah mencurahkan diri sekuat tenaga untuk mengikuti apa yang datang dari Allah Ta’ala dan Sunnah Rasul.
18.  Riya’ atau suka pamer, obatnya menyembunyikan perbuatan yang condong ditampakkan oleh jiwa, kecuali perbuatan yang mesti tampak, seperti; shalat berjamaah, shalat jumat dan mengeluarkan zakat.
19.  Thuulul Amal atau panjang angan-angan. Obatnya adalah mengingat mati dan sadar bahwa kematian itu datangnya tiba-tiba.
20.  Kibr atau sombong, obatnya adalah merendahkan diri dengan bersikap rendah hati. Karena dalam hadist syarief disebutkan; “Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat dzarrah pun.”
21.  Ujub atau merasa bangga, obatnya adalah  mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkannya, ujub menyebabkan kesombongan dalam diri, ujub menyebabkan seseorang melupakan dosa, ujub menyebabkan orang lupa terhadap nikmat Allah, ujub merupakan penyebab menganggap diri suci, ujub membuat orang merasa aman dari siksa Allah Ta’ala.
22.  Hasud atau dengki. Obatnya adalah mengetahui akibat yang ditimbulkan dengki, yakni merusak ketaatan dan sinar keimanan, melapangkan jalan untuk melakukan maksiat, seperti ghibah, dusta dan namimah, tidak akan mendapat syafaat Nabi, kesedihan selalu ada pada orang yang mendengki. Setelah memahami hal ini, obatilah dengan ilmu agama dan amalan yang akan menjauhkan dari sifat dengki tersebut.
23.  Hiqd atau iri. Obatnya adalah samadengan Hasud karena iri adalah salah satu sebab terjadinya hasud.
24.   Asysyamaatah atau gembira dengan musibah yang menimpa orang lain sehingga obatnya adalah istighfar atau meminta ampunan Allah dan mendoakan kebaikan bagi orang tersebut.
25.  Saling memusuhi sesama muslim, obatnya adalah bersalaman atau berdamai, namun apabila kita mengetahui sifat muslim yang dimusuhi ini tidak baik, menjauhlah darinya dan pilihlah teman  yang baik agar dapat menularkan kebaikan-kebaikannya kepada kita.
26.  Al Jubn atau penakut. Berdoalah sebagaimana Rasul berdoa tentang hal ini,  “Allahumma, Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa takut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari usia lanjut (pikun), dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia serta aku berlindung kepadaMu dari fitnah (siksa) kubur.” (HR.Bukhari)
27.  Tahawwur atau kasar hati. Obatnya adalah menahan marah, mengingat betapa buruknya rupa ketika kita sedang marah, belajarlah untuk hilm atau lemah lembut. Mengingat betapa banyak faedah yang diambil apabila kita mampu menahan amarah, seperti; disiapkan surga, dipilihkan bidadari yang cantik di surga dan pahala yang besar.
28.  Ghadr atau melanggar janji, ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur. Obatnya adalah obatilah penyebabnya dan tepatilah janji yang dibuat.
29.   Khianat ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur serta sifat orang munafik. Obatnya adalah obatilah penyebabnya dan belajarlah untuk menjadi amanah.
30.  Khulful Wa’d atau ingkar janji ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur serta sifat orang munafik. Obatnya adalah obatilah penyebabnya dan tepatilah janji-janji yang sudah dibuat.
31.  Su’uzhon atau buruk sangka terhadap Allah Ta’ala dan orang-orang beriman. Obatnya dengan cara menjauhi prasangka karena sesungguhnya prasangka itu sebohong-bohongnya perkataan, berbaiksangkalah walaupun salah, itu lebih baik daripada berburuk sangka padahal itu benar.
32.  Bakhil dan kikir kepada diri sendiri dan orang lain, obatnya dengan bersadaqoh dengan niat Lillahi Ta’ala.
33.  Israaf atau boros dan tabdzir atau mubadzir, obatnya dengan belajar bersikap hemat.
34.  Hubbul Maal atau cinta harta, obatnya dengan merenungkan betapa tercelanya sifat bakhil dan orang-orang yang bakhil serta terpujinya kedermawaan dan orang-orang yang dermawan.
35.  Malas, obatnya dengan giat berusaha dan berteman dengan orang yang giat berusaha agar dapat menularkan sifat baiknya itu.
36.  Ajalah atau tergesa-gesa, obatnya adalah mengingat bahwa sikap perlahan-lahan dengan berbagai pertimbangan yang baik merupakan suatu keutamaan.
37.  Taswif atau selalu hanya berkata “akan” dalam amal-amal kebajikannya. Obatnya dengan menyegerakan untuk berbuat baik.
38.  Waqohah atau tidak tahu malu. Obatnya belajar untuk menahan diri dan meninggalkannya untuk menghindari cercaan.
39.  Kufur Nikmat atau menutupi dan menyembunyikan nikmat. Obatnya dengan mengingat-ingat nikmat Allah yang tak terhitung banyaknya.
40.  Sukht atau tidak rela. Obatnya adalah menyadari bahwa Allah telah membagi-bagikan ketetapan-Nya dengan adil sehingga di dalam diri cepat atau lambat timbul rasa ikhlas.
41.  Bergantung pada Selain Allah. Obatnya adalah menambah keyakinan bahwa satu-satunya pertolongan datangnya hanya dari Allah.
42.  Mencintai orang fasik, obatnya dengan cara menjauhi apa yang dicintanya dan mendekatkan diri pada Allah agar mampu menghilangkan rasa cintanya pada orang yang fasik.
43.    Membenci ulama dan orang saleh, obatnya dengan cara mengetahui keutamaan mereka dan berusaha mendekatinya sampai hilang rasa benci tersebut.
44.  Lancang terhadap Allah Ta’ala dan merasa aman dari azabnya, obatnya dengan menyadari hakikat takut adalah getaran dalam hati yang terjadi atas dasar perkiraan mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi. Sehingga kita mengingat dosa-dosa dan kedahsyatan siksa Allah pada hari kiamat.
45.  Putus asa, obatnya adalah mengingat-ingat keutamaan Allah sehingga timbul rasa harapan atau ro’ja.
46.  Takut kehilangan sesuatu berkenaan dengan dunia dan bersedih karenanya. Obatnya dengan mengingat kehinaan dunia.
47.  Al Mudahanah atau berdiam diri ketika melihat kemaksiatan. Obatnya dengan belajar untuk berani menghadapi kemunkaran.
48.  Senang kepada sesuatu, tapi takut berpisah. Obatnya mengingat bahwa segala sesuatu di dunia akan fana.
49.  Menentang dan sombong terhadap kebenaran, obatnya berusaha sekuat tenaga untuk patuh terhadap kebenaran.
50.  Kemunafikan, obatilah penyebab manusia itu menjadi munafik. Jangan berdusta, jangan ingkar janji dan berkhianat.
51.  Terus-menerus dalam maksiat, obatnya kembali ke jalan yang lurus dan bertaubat.
52.  Dalam membersihkan kotoran hati, maka lakukanlah pengobatannya dengan bersungguh-sungguh dan mendekatlah pada orang-orang yang sudah nampak kebersihan hatinya sehingga kita bisa semakin belajar membersihkan hati dari kotoran-kotorannya.             
Isi petuah-petuah tersebut di atas sangat bijak dan menyejukkan hati. Tapi--Secara pribadi rasanya masih terasa sulit untuk mengimplementasikan dalam perbuatan dan perilaku sehari-hari dengan sempurna. Namun kita sebisa mungkin harus terus berusaha membersihkan hati kita dari kotoran-kotoran yang melekat, yang dapat memburamkan sinar keimanan yang ada di dalam diri kita. Semoga bacaan ini bisa memberi manfaat kepada para pembaca.  :)

Sabtu, 25 April 2015

CERPEN TEKA-TEKI KOTA PINTAR

Sebuah Cerpen yang dibuat agar mengenyangkan otak pembaca untuk berpikir, teka-teki yang dapat dipecahkan dengan membaca kembali lembaran sejarah masa lampau. Semoga dapat membuka cakrawala pengetahuan bagi para pembaca. :)

TEKA-TEKI KOTA PINTAR
OLEH : BILQIS FITRIA SALSABIELA
Petra membuka perlahan kamar Kakek, dia terperanjat bukan main ketika melihat ke sekeliling kamar yang sudah berantakkan seperti kapal pecah, sementara batang hidung Sang Kakek tidak ditemukannya. Jantung Petra berdetak semakin kencang, dia cepat-cepat berlari ke kamar atas untuk memberitahu kedua saudaranya; Nayla dan Reno.
“Ayo, kita telpon polisi!” usul Nayla dengan nada panik.
Reno segera melarang, “Jangan! Nanti kita akan dimarahi oleh Om dan Tante, kita harus mencarinya dulu, siapa tahu kita bisa menemukan Kakek.”
“Benar, aku setuju dengan Reno, Om dan Tante Sudarsono pasti marah besar jika mereka  tahu Kakek hilang lagi. Kamu masih ingat kan pesan tadi siang?” Kata Petra mengingatkan.
Mereka kemudian teringat pada pesan Om dan Tante Sudarsono sebelum meninggalkan rumah siang tadi.
“Kalian harus menjaga Kakek selama kami pergi ke Jerman. Urusan bisnis kali ini sangat mendadak dan penting sekali, Om harap kalian bisa kami andalkan!“ kata Om Sudarsono kepada keponakan-keponakannya itu.
“Siap, Om!” jawab para keponakannya serempak.
“Kalian harus benar-benar sabar merawat Kakek yang sudah pikun dan suka bertingkah yang aneh-aneh.” Kata Tante Sudarsono mewanti-wanti.
Ketiga keponakannya itu mengangguk tanda mengerti. Beberapa saat kemudian, Om dan Tante Sudarsono pun meninggalkan rumah. Setelah Om dan Tante mereka pergi, Petra, Nayla dan Reno malah ramai berselisih mulut. Mereka sebenarnya tak suka kalau disuruh menjaga Kakek.
“Reno, sana kamu saja yang menjaga Kakek!” perintah Petra kepada adik bungsunya.
Reno memprotes keras kakak sulungnya itu, “Aku tidak mau, Kak! Biar Kak Nayla saja yang mengurus Kakek, dia kan anak perempuan biasanya sangat telaten seperti perawat.” Tunjuk Reno pada Nayla; kakak perempuannya.
“Perawat juga banyak yang laki-laki, kamu saja yang merawat Kakek, kamu kan cucu kesayangan Kakek.” Kata Nayla sambil bersungut-sungut.
 Rupanya tak ada satupun yang mau mengalah. Petra akhirnya membuat suatu kesepakatan  bersama.
“Baiklah, hari ini aku akan menjaga Kakek, besok adalah bagian Nayla dan keesokannya lagi adalah bagian Reno.” Kata Petra memberi solusi ketika semuanya tak mau menjaga Kakek. Kedua saudaranya pun setuju dengan usulan Petra.
Meskipun Petra yang memberi ide, namun sebenarnya Petra samasekali tidak suka dengan tugasnya ini, pasti kedua saudaranya juga merasakan hal yang sama, tidak ada yang suka pada Kakek semenjak Kakek menjadi pikun. Kakek bukan hanya lupa pada cucu-cucunya, tapi—Kakek juga bahkan sudah lupa pada namanya sendiri. Kakek pernah membuat kesal Petra karena dulu Kakek sempat keluar rumah tanpa sepengetahuan, semua penghuni rumah langsung menyalahkan Petra, terutama Om Sudarsono yang terkenal sangat galak. Semua langsung menjadi sasaran amarahnya, terutama Petra yang dianggap lalai menjaga Kakek. Saat itu  semuanya menjadi sangat panik dan mencari Kakek kemana-mana, untung saja ada seorang warga yang menemukan Kakek dan langsung mengantarkan Kakek pulang ke rumah.
Kejadian hilangnya Kakek berulang kembali hari ini. Dan mereka tentu tidak ingin lagi dimarahi oleh Paman mereka yang bertempramen tinggi itu.  
 “Gawat! Aku tidak menemukan Kakek dimana-mana, sudah kucari di dalam, di luar rumah, bahkan di jalan-jalan dekat sini juga Kakek tidak ada,” kata Petra pada Reno dengan raut wajah yang cemas.
“Kak, aku juga tidak menemukannya….” Ucap Reno setengah putus asa.
Nayla tiba-tiba berteriak keras, “Kak Petra…Reno, cepat kesini!”
Reno dan Petra pun mendekati Nayla yang saat itu sedang merapikan kamar Kakek yang  berantakkan. “Ada apa?” Tanya mereka hampir bersamaan.
“Kak Petra! Aku menemukan secarik kertas ini di dekat tempat tidur Kakek,” kata Nayla sebari melap keringat yang sudah mengucur deras, dia terlihat begitu tegang. “Coba baca isinya yang sungguh sangat aneh ini...” Ucapnya sambil menyodorkan kertas itu ke tangan Petra.
Petra memeriksanya dengan teliti. Dia kemudian membaca dengan keras agar dapat didengar oleh semua. “Isi tulisan dalam kertas ini adalah: Kakek kalian disandera.  Preanger > THR> ri1-1> bersama.” kata Petra sambil menyerngitkan dahi, tanda sedang berpikir keras. “Ini sungguh aneh, apakah Kakek diculik? Jika Kakek diculik, kenapa kertas ancamannya hanya secarik kecil kertas? Biasanya kertas seperti ini di film-film detektif adalah kertas petunjuk untuk memecahkan misteri, kita seolah diminta untuk menjawab teka-teki atas hilangnya Kakek saat ini.”
“Kalau memang ini sebuah kertas petunjuk untuk menemukan Kakek, kita harus segera memecahkan teka-teki ini!” Kata Nayla yang kemudian segera membuka laptopnya untuk mencari informasi terkait dengan kata-kata asing dalam kertas petunjuk yang mereka temukan.  “Dari sumber Wikipedia, aku menemukan kata PREANGER itu berasal dari Bahasa Belanda yang artinya; Parahyangan atau Priangan, yakni; daerah kebudayaan Sunda di Jawa Barat yang luasnya mencakup wilayah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Berarti…Ini terkait dengan kota-kota itu. Sementara THS…Apa artinya?”
“Petunjuk-petunjuk ini berindikasi general menuju spesifik. Preanger adalah sebuah wilayah atau tempat, THS mungkin merujuk pada tempat yang lebih khusus lagi.”  kata Petra memberi analisis cerdasnya.
Reno membuka suaranya, “Dan…Petunjuk THS ini memiliki korelasi yang sangat erat dengan petunjuk selanjutnya, yakni; RI1-1,” Dia berpikir dengan cepat sebelum memaparkan analisanya. “Aku rasa aku sudah mengerti, THS adalah nama sebuah tempat pendidikan yang melahirkan RI1-1 karena petunjuk sebelumnya itu PREANGER untuk sebutan Priangan di masa Kolonial Belanda.”
“Maksudnya?” Tanya Nayla masih belum mengerti.
“Kakak pasti tahu, kan? RI1 adalah sebutan orang nomer satu di Indonesia, jadi…RI1-1 adalah Presiden Indonesia yang pertama, yakni; Ir.Soekarno yang dahulunya bersekolah di THS atau Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang didirikan pada tahun 1920 di Kota Kembang.”  Paparnya dengan penuh semangat. Reno memang yang paling muda, namun dia dikenal oleh saudara-saudaranya itu dengan julukan ‘Ensiklopedia Berjalan’ karena memiliki pengetahuan yang sangat luas. Oleh sebab itu pula, Kakek dulu mengistimewakannya sebagai cucu kesayangan, tentunya masa-masa itu terjadi sebelum kepikunan merenggut ingatan Kakek.  Bagi mereka, Kakek kini seperti orang asing saja, hal inilah yang menjauhkan mereka dengan Kakek.
“Lalu…Apa makna BERSAMA itu? Masih tidak jelas…” kata Petra menjadi bingung.
“Aku tahu!” teriak Nayla kegirangan. “Tanda panah ini menunjuk pada subjek akhir yang dituju, tentang kota dan tokoh, ini adalah sebuah teka-teki kota pintar, kita menebak kota atau tempat dengan cara yang pintar. Mula-mula PREANGER yang cakupan wilayahnya cukup luas, kemudian menyempit pada THS atau yang sekarang dikenal dengan ITB, ini berarti menyangkut Kota Bandung di masa Belanda, dan tentang tokoh itu adalah Ir.Sukarno. Jadi…yang BERSAMA RI1-1 memimpin Republik, yaitu; Muhammad Hatta; Wapres RI yang pertama.“
“Selanjutnya apa? Haruskah kita mengumpulkan biografi kedua tokoh tersebut?” kata Reno dengan raut bimbang.
Petra memberi komando, “Harus! Karena ini sepertinya menyangkut petunjuk untuk menemukan Kakek, sebelum Om dan Tante Sudarsono kembali dari Jerman, tiga hari lagi dari sekarang.” Kata Petra dengan tegas, dia menghela nafas panjang sebelum meneruskan kata-katanya. “Jika kita tidak bisa menemukan Kakek sampai sore nanti, kita harus lapor polisi dan kita juga harus siap dimarahi Om Sudarsono setelah Om pulang nanti.”
“Iya benar, kalau begitu kita jangan membuang-buang waktu lagi, mungkin kita bisa mendapat jawaban di Perpustakaan, semua yang berhubungan dengan bacaan dan riset sejarah ada disana. Ayo…Kita kesana!” ajak Nayla pada Petra dan Reno.
 Dengan hati was-was dan takut, mereka segera meluncur ke Perpustakaan Kampus untuk mendapatkan informasi lebih banyak lagi tentang kedua tokoh proklamator itu. Mereka masuk ke dalam perpustakaan dan membaca buku-buku sejarah, meskipun mereka bingung bagaimana caranya untuk memecahkan teka-teki aneh ini. Sementara waktu semakin berlalu dengan cepat.
“Soekarno dan Hatta adalah proklamator kemerdekaan Indonesia, presiden dan wakil presiden pertama Indonesia, namun…Apa korelasinya dengan kasus hilangnya Kakek? Kalau tidak ada petunjuk lagi, maka tidak akan ada jawaban dari kasus ini karena petunjuknya masih absurd. Tidak jelas…” Kata Reno dengan nada putus asa.
Di tengah keputusasaan, terdengar bunyi sebuah buku yang tak jauh dari mereka dijatuhkan oleh seseorang dengan sengaja. Mereka mendekati rak buku dan menemukan kembali sebuah kertas petunjuk yang baru.
“Seseorang telah sengaja melakukan ini dan seolah-olah ingin bermain teka-teki dengan kita. Jangan-jangan dia adalah penculik Kakek!” Kata Petra sambil memungut kertas petunjuk baru dengan tangan bergetar karena gugup.
“Kita lapor polisi saja!” kata Nayla ketakutan.
“Jangan! Untuk menjaga keselamatan Kakek, kita jangan melibatkan polisi dulu.” saran Petra yang kemudian membaca kertas petunjuk baru. “KAKEK KALIAN DISANDERA. BERSAMA >        NETHERLAND  >    BOVENDIGUL  >    BANDA NEIRA   >    SS.” 
“Ini mungkin petunjuk kedua, petunjuk sebelumnya berakhir dengan BERSAMA, yakni; Soekarno yang bersama Hatta. Dan sekarang….” Gumam Nayla sambil berpikir-pikir. “Petunjuk kedua ini pun sepertinya mengenai kota dan tokoh, NETHERLAND adalah sebutan Negara Belanda, BOVENDIGUL adalah sebutan Tanah Merah di Papua, dan…BANDA NEIRA adalah sebuah kota indah yang terletak di Sulawesi yang terkenal dengan produksi pala.”
Reno membuat kesimpulan singkat, “Analisaku adalah….Seorang tokoh yang bersama-sama jawaban petunjuk sebelumnya,”
 “Maksudmu…Yang bersama Muhammad Hatta di tempat-tempat yang disebutkan itu?” tanya Petra dengan nada ragu-ragu.
Reno tersenyum simpul, “Iya Kak, bukankah seorang tokoh yang bersama-sama Muhammad Hatta di Perhimpunan Indonesia adalah Sutan Sjahrir? Sjahrir juga bersama-sama Hatta di dalam mengembangkan organisasi bernama PNI-Pendidikan sepulangnya dari Belanda, Sjahrir dan Hatta sama-sama mengalami pembuangan di BovenDigul (1935) dan Banda Neira (1936-1942). Di masa kemerdekaan, Sjahrir dan Hatta sama-sama memerintah Republik, Sjahrir menjadi Perdana Menteri di tahun 1945-1947 dan di masa itu Hatta menjadi wakil presiden. Keduanya kebetulan sama-sama berdarah minang. Ini adalah arti BERSAMA yang kedua,”                             
“Jadi…SS adalah inisial dari Sutan Sjahrir, ini jawaban dari teka-teki petunjuk kedua,” kata Petra menyimpulkan. “Tapi—Kasus ini tetap belum selesai. Masih tidak jelas arahnya. Coba kita cari tahu tentang Sutan Sjahrir di perpustakaan ini?”
“Iya, lagipula tokoh perjuangan ini tidak terlalu dikenal dibandingkan Soekarno dan Hatta padahal mereka dulu disebut sebagai Tiga Serangkai pada masa revolusi kemerdekaan Republik Indonesia.” Kata Nayla sambil mengetik kata ‘Sutan Sjahrir’ di layar komputer perpustakaan dan menemukan tiga judul buku yang berbeda terkait dengan Sjahrir.  
“Sekarang yang mesti kita lakukan adalah masing-masing harus menemukan buku-buku yang menyangkut Sutan Sjahrir.” Kata Petra memberi komando pada adik-adiknya.
Di perpustakaan itu, mereka pun berpencar untuk mencari buku-buku yang mengupas tokoh pahlawan kemerdekaan bernama Sutan Sjahrir yang masih terasa asing di telinga.
Reno tiba-tiba memanggil kedua kakaknya, “Kak Petra…Kak Nayla, di dalam buku tentang Sjahrir ini aku menemukan sebuah petunjuk baru!”
Dari tangan adiknya, Nayla kemudian membaca secarik kertas itu, “KAKEK KALIAN DISANDERA. BERSAMA    >  AMS BANDUNG    >   KOTA BERINTAN  >    150845.”
“Apa ini?” Tanya Petra dengan tanda tanya yang besar di dalam otaknya. “Benar-benar membingungkan, aku tahu KOTA BERINTAN adalah julukan dari Kota Cirebon, tapi…AMS BANDUNG dan angka 150845 itu apa maksudnya?”  
“Coba kita pikir….Jika petunjuk pertama terkait dengan jawaban di petunjuk kedua, mungkin petunjuk kedua terkait dengan jawaban untuk petunjuk ketiga.” Kata Nayla berkomentar.
“Betul juga Nayla, berarti…Jawaban teka-teki ini adalah tokoh yang bersama Sutan Sjahrir di AMS BANDUNG dan berkaitan dengan KOTA BERINTAN serta angka 150845. Siapakah tokoh itu?” ucap Petra menyimpulkan.
Reno menambahkan dengan analisanya, “Jika petunjuk pertama; THS adalah nama sekolah teknik di Bandung, maka AMS BANDUNG bisa jadi mengacu pada sebuah tempat pendidikan, yang dimaksud mungkin…Algemeene Middelbare School yang juga ada yang di Kota Bandung. Kebetulan Sutan Sjahrir dulu bersekolah di AMS ini dengan jurusan sastra klasik. Jadi…Seorang tokoh yang bersama Sjahrir menempuh pendidikan di AMS BANDUNG dan pernah tinggal di Cirebon yang julukannya adalah KOTA BERINTAN itu siapa?”
“Jika kita belajar sejarah, Sjahrir melakukan penandatanganan perjanjian Linggadjati antara Pihak Indonesia dan Pihak Belanda di tahun 1946, di kota Kuningan, Cirebon, Jawa Barat. Mungkin tokoh tersebut ada bersama Sjahrir pada saat itu.” Kata Petra memberi jawaban.
Reno tidak setuju, dia berargumen, “Aku rasa petunjuk ini tidak mengarah pada Kota  Kuningan, tapi—Kota Cirebon itu sendiri. Karena rekan Sjahrir dalam Perjanjian Linggadjati itu; Amir Sjarifuddin tidak pernah bersekolah di AMS Bandung, selepas belajar di ELS, study-nya langsung ke Belanda. Lalu…Ini juga mengenai 150845. Sebuah angka misterius yang akan menjadi jawaban dari teka-teki ketiga ini.”
“Benar, tapi—Aku sudah pusing dengan angka-angka di materi kuliah, jangan ditambah pusing lagi dengan memikirkan teka-teki dari angka ini. Ayo, kita lapor polisi saja! Aku sudah menyerah.” kata Nayla memberi usulan.
“Baiklah, perpustakaan ini juga akan segera tutup, kita harus pulang!” kata Petra diikuti adik-adiknya meninggalkan gedung perpustakaan. Mereka pun bergegas menuju mobil untuk segera pulang ke rumah.
Sebelum mereka sampai ke mobil yang berada di tempat parkiran. Tiba-tiba saja dari kejauhan ada seseorang yang sengaja melemparkan kertas dengan menggunakan ketapel. Kertas itu tepat mengenai badan Petra dan dengan sigap Petra memungut kertas tersebut. 
“KAKEK KALIAN DISANDERA. 150845   >    TUGU   >    KEP.RS    >    S   >  JERMAN.” kata Petra membacakan isi kertas itu, “Jelas-jelas dari tadi si penculik sudah mempermainkan kita dengan kertas teka-teki kota pintar. Coba aku analisa…Angka 150845 berkaitan dengan TUGU, mungkin sebuah tugu di Kota Cirebon, biasanya tugu ditujukan untuk memperingati kejadian atau peristiwa besar. Sementara…Kep biasanya adalah singkatan untuk Kepala, RS umumnya adalah singkatan dari Rumah Sakit, apakah maksud KEP.RS ini adalah…Kepala Rumah Sakit. Lalu…S dan Jerman itu apa?”         
Reno berpikir sebentar, kemudian tersenyum. “Aku jadi ingat, dulu sebelum Kakek menderita kepikunan yang parah, Kakek pernah bercerita pada kita tentang kisah di zaman revolusi kemerdekaan, Kakek menceritakan sejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, aku masih ingat pada cerita itu, ada seorang dokter yang dikenal Sutan Sjahrir sebagai kepala rumah sakit, tokoh itulah yang sudah membacakan teks proklamasi versi Sjahrir di depan sebuah tugu di Kota Cirebon tepatnya di depan alun-alun Kejaksan, dua hari sebelum tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Jadi…150845 maksudnya adalah di tanggal 15 Agustus 1945. Namanya merupakan kunci jawaban dari teka-teki ini. Dia adalah tersangka utama seluruh rentetan peristiwa hilangnya Kakek.”
“Lalu…Apa hubungan tokoh itu dengan Jerman? Kurasa sangat jauh dan malah tidak ada korelasinya samasekali karena Indonesia tidak pernah dijajah oleh Jerman.” kata Petra masih tidak mengerti.
Reno tertawa dengan kencang. “Kak Petra, ini hanyalah sebuah permainan teka-teki, kita tidak akan bisa menjawab teka-teki ini jika kita tidak belajar dan membaca buku-buku sejarah, dan...S yang dimaksudkan dalam teka-teki terakhir ini adalah sebuah inisial nama dari tokoh tersebut, teman AMS Sjahrir yang merupakan dokter dan Kepala Rumah Sakit di Kota Cirebon serta menjadi pembaca proklamasi yang lebih cepat dua hari dibandingkan dengan di Jakarta, 15 agustus 1945. Dia adalah dokter Sudarsono. Pelaku penculikan Kakek dan pembuat teka-teki kota pintar itupun bernama sama dengan tokoh itu. ”
“Jadi…maksudmu…Pelakunya adalah Om Sudarsono? Bukankah dia sedang pergi ke Jerman bersama Tante?” Tanya Nayla penuh keraguan.
“Jerman...Mungkin maksudnya…Jejeran Matraman, pasti Kakek ada di rumah Tante Sandra di Jalan Matraman. Sedari awal kalimat teka-teki yang selalu diulang sebagai penekanan adalah; KAKEK KALIAN DISANDERA, maksudnya…Kakek kalian di Sandra. Lebih tepatnya lagi…Kakek kalian ada di Tante Sandra.” kata Reno seraya melebarkan tawanya yang renyah.
Tiba-tiba saja Om dan Tante Sudarsono muncul dari balik pepohonan. Paman mereka pun berkata, “Iya anak-anak, Om dan Tante yang sudah merencanakannya, tentusaja ini semua memiliki tujuan, pertama….Agar kalian kembali belajar sejarah, terutama sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kedua dan menjadi yang terpenting….Kalian seharusnya bisa menyayangi Kakek kalian seperti dulu, Om dan Tante sudah tahu perilaku kalian yang kurang baik selama ini, kalian sering menelantarkan Kakek, padahal sewaktu kalian masih kecil-kecil, Kakek sangat menyayangi dan merawat kalian semua dengan sangat baik.”
Petra, Nayla dan Reno tertunduk malu, menyesali perbuatan mereka yang sudah mengabaikan Kakek.
Om Sudarsono melanjutkan kisahnya tentang Kakek. “Mungkin seperti pepatah Schiller…Hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan, jangan disia-siakan dengan gampangnya. Kalau kalian mengerti artinya, hidup itu penuh perjuangan. Dulu keluarga Kakek miskin, berkat kerja keras Kakek di masa mudanya, Om dan kalian semua bisa merasakan hidup yang serba enak seperti sekarang ini, lalu…Kenapa kalian menyia-nyiakan Kakek yang sudah berjuang untuk kita semua? Kalian sudah lupa pada Kakek dan malah sibuk sendiri.”
            “Kakek sudah lupa pada kami, Kakek terasa asing bagi kami…” ucap Reno berterus-terang. Dia merasa Kakek sudah tidak menyayanginya lagi, padahal dahulu Reno merupakan cucu kesayangan Kakek yang paling dibanggakan olehnya.
            “Ini bukan salah Kakek. Kepikunan sudah menghapus semua ingatan Kakek. Namun kita jangan sampai menjauhinya, justru Kakek sangat membutuhkan perhatian kita.” Kata Tante Sudarsono memberi wejangan kepada para keponakannya.  
            Om Sudarsono menambahkan, “Kami melihat kalian kurang perhatian pada Kakek, maka kami membuat rencana ini. Sebenarnya Kakek sejak pagi sudah dibawa ke rumah Tante Sandra di Matraman, ternyata tak ada satupun yang menyadari akan hal itu karena kalian berada di kamar atas terus, kalian sibuk dengan kegiatan kalian masing-masing, sampai ketika kami pura-pura pergi pun, kalian tak memperhatikan Kakek yang sebenarnya sudah tidak ada di kamarnya.”
            Anak-anak merasa malu dan mengakui kesalahannya. “Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi, kami akan merawat Kakek dengan baik, kami ingin memberi Kakek kasih sayang, meskipun Kakek sudah tak ingat siapa-siapa lagi. Kakek adalah tetap menjadi Kakek terbaik untuk kami semua. “ kata Petra, Nayla dan Reno serempak.
Rupanya teka-teki kota pintar hanyalah siasat semata, sebuah teka-teki kota dan tokoh yang diselesaikan dengan cara yang pintar, dan pada akhirnya semua orang menjadi senang.
***TAMAT***