Sabtu, 20 Juni 2015

PROBLEMATIKA HATI DAN OBATNYA

PROBLEMATIKA HATI DAN OBATNYA

Saya meringkaskan isi buku tentang problematika hati yakni; buku yang berjudul ‘Rahasia Keajaiban Hati dari Imam Ghazali,’ dan buku yang berjudul ‘Hati; Kedudukan, Keadaan, Penyakit dan Pengobatannya dari Al Ustadz Ahmad Izzuddin Al Bayanuniy’ beserta buku-buku lainnya yang menjadi acuan, berikut ini saya sajikan intisari yang saya buat secara sederhana;
1.    Iman adalah ujaran dengan lisan, mengakui kebenarannya dengan hati dan mengamalkannya dengan anggota badan. Iman diucapkan dan diyakinkan oleh hati yang menjadi pemimpin bagi seluruh anggota badan untuk melakukan perbuatan atau tindakan.
2.      Rahmat Allah SWT hanya mendekat pada orang-orang yang berbuat kebaikan. Maka lakukan tolong-menolong dalam melakukan kebaikan, apabila kebaikan dibalas dengan kejahatan, berbuatbaik sajalah karena yang akan membalas kejahatan hanyalah kuasa Allah.  
3.      Syetan selalu akan menggoda hati manusia kapanpun juga. Ketika manusia berbuat sesuatu, maka yang ada didalam dirinya adalah bisikan syetan dengan syetan, ataukah pertentangan antara bisikan syetan dengan malaikat. Jika dia berbuat baik, maka yang menang adalah malaikat dan jika dia berbuat kejahatan maka yang menang adalah syetan.
4.      Di dalam diri manusia terdapat bisikan syetan dan hawa nafsu yang diibaratkan sebagai babi dan anjing. Yang keduanya akan memenangkan syetan dengan bisikan-bisikannya.  
5.      Janganlah taat pada babi – syahwat karena akan timbul sifat-sifat; tebal muka, kejahatan, menghambur-hamburkan, kikir, riya’, suka membuka tabir rahasia, suka berkelakar, melakukan hal yang sia-sia, rakus, serakah, ambil muka, hasud, dengki, gembira melihat kesusahan orang lain.
6.      Janganlah taat pada anjing – amarah karena akan timbul sifat-sifat ; tahawwur atau ngawur, pengorbanan yang sia-sia, sombong, suka memuji dirinya sendiri, suka membangkitkan kemarahan orang lain, merasa besar diri, mengagumi dirinya sendiri, suka mengejek orang lain, suka meremehkan orang lain, suka menghina orang lain, keinginan jahat, keinginan berbuat zhalim dll.
7.      Manusia hendaknya senantiasa dapat menahan hawa nafsu dan menjaga syahwat perut dengan cara berpuasa menahan lapar serta menjaga ucapan dan sikap agar tidak menyakitkan orang lain.
8.      Manusia hendaknya senantiasa menjaga lidah karena dari Abu Hurairoh ra, dia pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh antara timur dan barat.” Artinya bahwa ucapan harus dijaga dengan benar, jangan berujar tanpa ‘tabayyun’ atau tanpa berpikir panjang karena akan bisa menjadi penyebab murka Allah.
9.      Dalam menjaga lidah, hindarilah ghibah (menceritakan seseorang tentang hal yang tidak disukainya), namimah (menyebarkan berita yang menimbulkan kekacauan antara manusia), dusta (berbohong mengenai sesuatu hal), umpatan-umpatan. Ucapkan hal-hal yang baik dan bermanfaat saja.
10.   Hati hendaknya senantiasa dijaga dari berbagai macam kotoran hati yang dapat mencemari sinar keimanan, seperti; Kufur, Jahl, Hubbur riasah, Khaufudz dzammi wat Ta’yiir, Habbul Mad-hi wats Tsanaa’, I’tiqoodul Bid’I, ittibaa’ul Hawa, Riya’, Thuulul Amal, Thama’, Kibr, Ujub, Hasud, Hiqd, Asysyamaatah, Saling memusuhi, Al Jubn, Tahawwur, Ghadr, Khianat, Khulful Wa’d, Su’uzhzhon, Tathoyyur, Bakhil dan kikir, Israaf dan tabdzir, Hubbul Maal, Malas, Ajalah, Taswif, Waqohah, Jaza’, Kufur nikmat, Sukht, Bergantung pada selain Allah, Mencintai orang fasik, Membenci ulama dan orang saleh, Lancang terhadap Allah, Putus asa dari rahmat Allah, Takut kehilangan sesuatu yang berkenaan dengan dunia, Al Mudahanah, Senang terhadap sesuatu, tapi takut berpisah, Menentang dan sombong terhadap kebenaran, Kemunafikan, Terus-menerus dalam maksiat, dll.
11.  Kufur atau kekafiran yang disebabkan oleh kebodohan, kesombongan manusia terhadap keagungan Allah SWT atau istikhfaf (menganggap remeh) terhadap apa yang diwajibkan, seperti; Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Obatnya dengan mensucikan hati dan merendahkan diri sebagai manusia dihadapan Tuhan.
12.  Jahl atau kebodohan, obatnya belajar dan menuntut ilmu, oleh karena itu islam mewajibkan  untuk menuntut ilmu agar bisa memerangi kebodohan.   
13.  Hubbur Riasah atau mencintai kepemimpinan dirinya. Obatnya adalah menyadari bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelemahan serta merendahkan diri.
14.  Khaufudz Dzammi wat Ta’yiir atau takut celaan dan hinaan. Jika kita dihina oleh orang lain, berpikirlah tentang dua hal, apakah orang yang menghina itu telah berbaik hati menunjukkan kelemahan kita agar kita segera memperbaikinya ataukah dia telah berbohong yang menyebabkan anda terhina? Jika ia bohong, maka celaannya tidak akan membahayakan anda, justru dialah dalam keadaan yang bahaya karena mengumbar fitnah.
15.  Hubbul Mad-hi wats Tsanaa’ atau senang dipuji atau disanjung. Obatnya adalah bahwa setiap sanjungan itu bisa menjerumuskan, orang bisa tertipu oleh pujian manusia dengan apa yang sebenarnya tidak dimilikinya adalah bak orang miskin yang senang mendengar ucapan yang mengatakan bahwa dirinya kaya. Maka belajarlah untuk mengetahui hakikat diri sendiri agar tidak mudah tertipu dengan pujian orang.
16.  I’tiqoodul Bid’I atau meyakini bid’ah. Obatnya adalah berkeyakinan pada kebenaran mazhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
17.    Ittubaa’ul Hawa atau mengikuti hawa nafsu, obatnya adalah mencurahkan diri sekuat tenaga untuk mengikuti apa yang datang dari Allah Ta’ala dan Sunnah Rasul.
18.  Riya’ atau suka pamer, obatnya menyembunyikan perbuatan yang condong ditampakkan oleh jiwa, kecuali perbuatan yang mesti tampak, seperti; shalat berjamaah, shalat jumat dan mengeluarkan zakat.
19.  Thuulul Amal atau panjang angan-angan. Obatnya adalah mengingat mati dan sadar bahwa kematian itu datangnya tiba-tiba.
20.  Kibr atau sombong, obatnya adalah merendahkan diri dengan bersikap rendah hati. Karena dalam hadist syarief disebutkan; “Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat dzarrah pun.”
21.  Ujub atau merasa bangga, obatnya adalah  mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkannya, ujub menyebabkan kesombongan dalam diri, ujub menyebabkan seseorang melupakan dosa, ujub menyebabkan orang lupa terhadap nikmat Allah, ujub merupakan penyebab menganggap diri suci, ujub membuat orang merasa aman dari siksa Allah Ta’ala.
22.  Hasud atau dengki. Obatnya adalah mengetahui akibat yang ditimbulkan dengki, yakni merusak ketaatan dan sinar keimanan, melapangkan jalan untuk melakukan maksiat, seperti ghibah, dusta dan namimah, tidak akan mendapat syafaat Nabi, kesedihan selalu ada pada orang yang mendengki. Setelah memahami hal ini, obatilah dengan ilmu agama dan amalan yang akan menjauhkan dari sifat dengki tersebut.
23.  Hiqd atau iri. Obatnya adalah samadengan Hasud karena iri adalah salah satu sebab terjadinya hasud.
24.   Asysyamaatah atau gembira dengan musibah yang menimpa orang lain sehingga obatnya adalah istighfar atau meminta ampunan Allah dan mendoakan kebaikan bagi orang tersebut.
25.  Saling memusuhi sesama muslim, obatnya adalah bersalaman atau berdamai, namun apabila kita mengetahui sifat muslim yang dimusuhi ini tidak baik, menjauhlah darinya dan pilihlah teman  yang baik agar dapat menularkan kebaikan-kebaikannya kepada kita.
26.  Al Jubn atau penakut. Berdoalah sebagaimana Rasul berdoa tentang hal ini,  “Allahumma, Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa takut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari usia lanjut (pikun), dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia serta aku berlindung kepadaMu dari fitnah (siksa) kubur.” (HR.Bukhari)
27.  Tahawwur atau kasar hati. Obatnya adalah menahan marah, mengingat betapa buruknya rupa ketika kita sedang marah, belajarlah untuk hilm atau lemah lembut. Mengingat betapa banyak faedah yang diambil apabila kita mampu menahan amarah, seperti; disiapkan surga, dipilihkan bidadari yang cantik di surga dan pahala yang besar.
28.  Ghadr atau melanggar janji, ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur. Obatnya adalah obatilah penyebabnya dan tepatilah janji yang dibuat.
29.   Khianat ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur serta sifat orang munafik. Obatnya adalah obatilah penyebabnya dan belajarlah untuk menjadi amanah.
30.  Khulful Wa’d atau ingkar janji ini adalah salah satu faktor pendorong kemarahan dan tahawwur serta sifat orang munafik. Obatnya adalah obatilah penyebabnya dan tepatilah janji-janji yang sudah dibuat.
31.  Su’uzhon atau buruk sangka terhadap Allah Ta’ala dan orang-orang beriman. Obatnya dengan cara menjauhi prasangka karena sesungguhnya prasangka itu sebohong-bohongnya perkataan, berbaiksangkalah walaupun salah, itu lebih baik daripada berburuk sangka padahal itu benar.
32.  Bakhil dan kikir kepada diri sendiri dan orang lain, obatnya dengan bersadaqoh dengan niat Lillahi Ta’ala.
33.  Israaf atau boros dan tabdzir atau mubadzir, obatnya dengan belajar bersikap hemat.
34.  Hubbul Maal atau cinta harta, obatnya dengan merenungkan betapa tercelanya sifat bakhil dan orang-orang yang bakhil serta terpujinya kedermawaan dan orang-orang yang dermawan.
35.  Malas, obatnya dengan giat berusaha dan berteman dengan orang yang giat berusaha agar dapat menularkan sifat baiknya itu.
36.  Ajalah atau tergesa-gesa, obatnya adalah mengingat bahwa sikap perlahan-lahan dengan berbagai pertimbangan yang baik merupakan suatu keutamaan.
37.  Taswif atau selalu hanya berkata “akan” dalam amal-amal kebajikannya. Obatnya dengan menyegerakan untuk berbuat baik.
38.  Waqohah atau tidak tahu malu. Obatnya belajar untuk menahan diri dan meninggalkannya untuk menghindari cercaan.
39.  Kufur Nikmat atau menutupi dan menyembunyikan nikmat. Obatnya dengan mengingat-ingat nikmat Allah yang tak terhitung banyaknya.
40.  Sukht atau tidak rela. Obatnya adalah menyadari bahwa Allah telah membagi-bagikan ketetapan-Nya dengan adil sehingga di dalam diri cepat atau lambat timbul rasa ikhlas.
41.  Bergantung pada Selain Allah. Obatnya adalah menambah keyakinan bahwa satu-satunya pertolongan datangnya hanya dari Allah.
42.  Mencintai orang fasik, obatnya dengan cara menjauhi apa yang dicintanya dan mendekatkan diri pada Allah agar mampu menghilangkan rasa cintanya pada orang yang fasik.
43.    Membenci ulama dan orang saleh, obatnya dengan cara mengetahui keutamaan mereka dan berusaha mendekatinya sampai hilang rasa benci tersebut.
44.  Lancang terhadap Allah Ta’ala dan merasa aman dari azabnya, obatnya dengan menyadari hakikat takut adalah getaran dalam hati yang terjadi atas dasar perkiraan mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi. Sehingga kita mengingat dosa-dosa dan kedahsyatan siksa Allah pada hari kiamat.
45.  Putus asa, obatnya adalah mengingat-ingat keutamaan Allah sehingga timbul rasa harapan atau ro’ja.
46.  Takut kehilangan sesuatu berkenaan dengan dunia dan bersedih karenanya. Obatnya dengan mengingat kehinaan dunia.
47.  Al Mudahanah atau berdiam diri ketika melihat kemaksiatan. Obatnya dengan belajar untuk berani menghadapi kemunkaran.
48.  Senang kepada sesuatu, tapi takut berpisah. Obatnya mengingat bahwa segala sesuatu di dunia akan fana.
49.  Menentang dan sombong terhadap kebenaran, obatnya berusaha sekuat tenaga untuk patuh terhadap kebenaran.
50.  Kemunafikan, obatilah penyebab manusia itu menjadi munafik. Jangan berdusta, jangan ingkar janji dan berkhianat.
51.  Terus-menerus dalam maksiat, obatnya kembali ke jalan yang lurus dan bertaubat.
52.  Dalam membersihkan kotoran hati, maka lakukanlah pengobatannya dengan bersungguh-sungguh dan mendekatlah pada orang-orang yang sudah nampak kebersihan hatinya sehingga kita bisa semakin belajar membersihkan hati dari kotoran-kotorannya.             
Isi petuah-petuah tersebut di atas sangat bijak dan menyejukkan hati. Tapi--Secara pribadi rasanya masih terasa sulit untuk mengimplementasikan dalam perbuatan dan perilaku sehari-hari dengan sempurna. Namun kita sebisa mungkin harus terus berusaha membersihkan hati kita dari kotoran-kotoran yang melekat, yang dapat memburamkan sinar keimanan yang ada di dalam diri kita. Semoga bacaan ini bisa memberi manfaat kepada para pembaca.  :)