Sabtu, 31 Oktober 2015

ETIKA BERLALU LINTAS

ETIKA BERLALU LINTAS
                                                                    Oleh : Bilqis Fitria Salsabiela
Sore itu, Dana bersama Nia; adik perempuannya berada di jalan raya. Dana membonceng Nia dengan motornya sambil memberikan sejumlah arahan kepada Nia yang ingin sekali belajar mengendarai motor.       
“Kalau mengemudi motor di jalanan seperti ini harus tertib, jangan nyerobot atau nyalip-nyalip kendaraan yang ada di depan karena itu sangat berbahaya, nyawa kita bisa jadi taruhannya. Seperti pepatah jawa...Alon-alon waton kelakon alias pelan-pelan asalkan selamat. Untuk selamat, kita harus selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas,” Kata Dana yang mengemudikan motor dengan amat hati-hati sambil memberi wejangannya panjang lebar.
“Oh begitu ya,” sahut Nia yang diboncengnya menimpali singkat sebari memperhatikan hiruk pikuk berbagai kendaraan yang memenuhi badan jalan.
“Dengarkan baik-baik etika berlalu lintas ini...Setiap pengguna jalan harus menghormati pengguna jalan yang lain, kita jangan menjadi egois di jalan raya karena jalan raya adalah milik umum, kita bukanlah satu-satunya penguna jalan, ada orang lain yang memiliki hak dan kewajiban yang sama.  Semua orang mempunyai hak untuk melintasi jalan raya. Intinya kita jangan sampai membuat pengendara lainnya merasa terganggu. Ada orang yang sering kebut-kebutan di jalan raya.  Ada juga orang yang membelokkan kendaraannya seenak-seenaknya saja tanpa mau melihat ke belakang atau ke sampingnya terlebih dahulu. Semua itu bisa mengganggu keamanan dan kenyamanan pengguna jalan yang lain...”
Nia mendengarkan petuah kakaknya dengan baik.
         “Kita juga harus memperhatikan kendaraan kita, apakah kendaraan kita masih laik jalan, jangan sampai tiba-tiba mogok di tengah jalan yang dapat mengganggu kelancaran aktivitas di jalan raya, selain itu cek juga suara klakson atau knalpot kendaraan kita, jangan sampai mengganggu kenyamanan pengguna kendaraan lainnya,”
        “Oh iya, suara knalpot yang bising itu mengganggu pendengaran dan menambah pencemaran udara, biasanya ini dilakukan oleh anak-anak muda yang sering ngebut di jalanan.” Kata Nia menimpali perkataan Dana.
          “Kebiasaan seperti itu jangan ditiru, kebut-kebutan bisa sangat membahayakan diri kita dan orang lain, ingat...Kita sebagai pengguna jalan mempunyai hak dan juga kewajiban yang harus dilakukan, yakni; menaati semua peraturan lalu lintas yang berlaku di negara ini, jangan hanya karena ada polisi yang mengawasi, kita baru menaati aturan. Sementara ketika tidak ada pengawasan, kita malah mengabaikannya...”
            “Iya, aku juga sudah mempelajari berbagai rambu-rambu lalu lintas, seperti; gambar tikungan, turunan, penyempitan jalan, jalanan tidak datar dan lain-lain...”
            “Baguslah kalau begitu, rambu lalu lintas berfungsi untuk membantu menjaga keselamatan kita dan memperingatkan kemungkinanan adanya bahaya sehingga kita bisa mengantisipasinya,” kata Dana sambil tersenyum lebar. Namun airmukanya yang ceria itu langsung berubah seketika. “Eh...Itu kan si Okta!!!” teriak Dana secara tiba-tiba, volume suaranya melengking dahsyat sehingga mengagetkan sang adik yang duduk dibelakangnya. Hampir saja ia melompat dari motor.
“Kakak, ngangetin aku saja...” kata Nia spontanitas.
Dana tidak menimpali, pandangannya fokus ke depan, ia melihat dari kejauhan gebetannya yang bernama Okta sedang dibonceng oleh seorang pria yang mengenakan helm, kendaraan mereka berada sangat jauh di depan, Dana pun segera mempercepat laju kendaraannya sejalan dengan suasana hatinya yang berubah drastis, dalam seketika ia terserang virus gundah gulana.    
“Kak Dana, hati-hati bawa motornya!” kata Nia setengah berteriak ketika Dana kembali mempercepat laju motornya sampai pada batas kecepatan yang paling tinggi. “Katanya sesuai pepatah jawa...Alon-alon waton kelakon, tapi—Prakteknya ngebut juga...” selorohnya sebari mengeratkan pegangannya pada pinggang Dana karena kecepatan motor mereka sudah mencapai titik kulminasi.
Sekali lagi, Dana tidak menimpali perkataan Nia. Ia memegang stir motor kuat-kuat, kendaraannya tetap melaju bak anak panah yang melesat dan dengan gesit ia mengemudikan motornya melewati beberapa kendaraan yang berada di depan.
“Katanya ngga boleh nyalip-nyalip kendaraan yang ada di depan, nanti bisa berbahaya, nyawa kita bisa jadi taruhannya, kenapa kakak malahan nyalip kendaraan di depan?” Kata Nia kembali mengingatkan Dana untuk menghentikan aksinya itu.
“Maaf Nia, lupakan etika berkendara di jalan raya, ini soal si Okta...” kata Dana bersuara, tarikan nafasnya terdengar cepat menandakan emosi di hatinya kian bergejolak. “Apa kamu tidak lihat di depan sana itu si Okta sedang dibonceng sama cowo berhelm itu?”
“Oh iya, itu memang Mba Okta, tapi—Kakak ngga perlu ngebut begini, apalagi kendaraannya di jalan raya sedang ramai...” kata Nia mencoba menenangkan hati Dana.      
 Dana kembali menanggapi perkataan Nia. “Aku jadi penasaran Okta pergi sama siapa?” katanya nampak geram sehingga ia tak kurun menurunkan laju kendaraannya.
 “Kak Dana ingetnya sama gebetan mulu, ngga inget sama keselamatan nyawa kita dan nyawa orang lain di jalan raya seperti ini..” keluh Nia sekali lagi.
Dana tidak menghiraukan perkataan adiknya, ia hendak kembali melakukan aksi nyalip-nyalip kendaraan yang ada di depan, namun kali ini aksinya itu mengalami kegagalan, ia hampir saja menabrak sebuah mobil yang berada di depan dan ia pun berusaha mati-matian untuk menghindari tabrakan dengan membanting stir sehingga keadaan motornya menjadi oleng dan mereka berdua langsung kehilangan keseimbangan.
Beberapa saat kemudian, mereka pun terjatuh dari motor, untung saja kendaraan yang berada di belakang langsung berhenti saat kejadian itu terjadi sehingga kecelakaan tidak semakin fatal. Jika tidak, mungkin saja mereka akan tertabrak kendaraan yang berada di belakang.
“Kalian tidak apa-apa, kan?” tanya seorang bapak yang langsung keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan.
Bapak itu mendekati mereka diikuti banyak orang yang mulai mengerubungi mereka berdua. Dana dan Nia tidak mengalami cidera yang serius, untung saja hanya lecet-lecet di bagian lutut dan lengan. Sementara motor mereka ringsek di bagian depan.     
            “Saya tidak apa-apa, Pak!” kata Dana berusaha bangkit sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. “Kamu bagaimana, Nia?”
            “Aku juga tidak apa-apa, Kak! Hanya lecet-lecet di badan...” kata Nia sebari menunjukkan luka lecet di lengan kanan dan kirinya.
            Seorang pemuda yang mengerubungi mereka kemudian berkata, “Makanya jangan kebut-kebutan di jalan! Kalian kan tahu kecelakaan bisa memacetkan jalanan.” Kata pemuda itu yang kemudian melanjutkan ucapannya. “Ayo, kalian ke pinggir dulu! Biar jalanan ini bisa digunakan lagi oleh para pengguna jalan lainnya...”  
Mereka berdua pun menuruti perkataan pemuda itu. Dana kemudian menuntun motornya diikuti Nia yang berjalan dibelakangnya. Kerumunan orang pun bubar dan kembali pada kendaraan mereka masing-masing untuk melanjutkan perjalanannya.
“Bukankah barusan Kakak yang mengajariku tentang etika berkendara di jalan raya? Tapi—kenapa hanya karena masalah sepele, yaitu; Mba Okta; gebetan Kakak itu akhirnya kita berdua menjadi celaka?” Keluh Nia sambil memperlihatkan kembali beberapa luka lecet di lengannya pada sang kakak.
“Maafkan aku, Nia....Ini memang salah Kakak!” kata Dana penuh penyesalan.
“Lihat motor kakak yang penyok itu, untung saja kita mengenakan helm sehingga kepala kita bisa terlindungi dengan baik, kalau kita tidak memakai helm sebagai pelindung kepala, bisa saja kepala kita terbentur dengan keras di jalanan tadi. Dan aku tidak bisa membayangkan kalau ada kendaraan di belakang kita yang melintas saat kita jatuh....”
“Iya, maafkan Kakak...” Pintanya sekali lagi.
“Gebetan Kakak itu sekarang sudah menghilang entah kemana dan yang kita dapatkan dari aksi nyalip-nyalip kendaraan itu hanyalah lecet-lecet di badan dan motor yang ringsek parah, aku juga malu karena kita menjadi pusat perhatian dan tontonan orang banyak...” kata Nia makin menggerutu. “Ternyata ada satu hal lagi yang harus dipegang dalam etika berlalu lintas, ini sangat penting dan telah diabaikan oleh Kakak. Kita harus bisa menjaga emosi kita dengan baik, emosi akan mempengaruhi perilaku kita di jalan raya. Emosi ternyata bisa mengubah segalanya, walaupun Kakak sebelumnya selalu berhati-hati di jalan raya jadi berubah perilakunya hanya karena melihat gebetannya bersama orang lain....”
“Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, apa mau dikata lagi...Kakak memang mengaku salah karena Kakak sudah mengikuti emosi sehingga kita berdua jadi celaka seperti ini.”
“Lalu...Sekarang bagaimana?” tanya Nia terlihat bingung melihat ke sekeliling.
Motor mereka penyok di bagian depan dan sedikit rusak di bagian samping. Dana berusaha menyalakan motornya itu, namun selalu tidak berhasil. Rupanya, motornya tidak bisa digunakan dan perlu diperbaiki di bengkel.
“Aduuuh, ini semua gara-gara Kakak!” keluh Nia berkali-kali.
“Sudahlah, daripada terus-menerus mengeluhkan kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Daripada kita mengeluh terus, lebih baik mencari solusi. Satu-satunya jalan, kita harus mencari bengkel terdekat dari sini....”  
 “Berarti...Kita harus berjalan kaki lumayan jauh untuk ke bengkel.”
“Nia, sepertinya memang kita tak punya pilihan lain.” Kata Dana kepada adiknya.
Mereka pun mulai berjalan kaki menuju bengkel terdekat, Dana menuntun motornya perlahan, Nia pun mengikutinya dari belakang sambil sesekali ia menggerutu sendiri.
 Sesampainya mereka di bengkel. Montir segera memeriksa keadaan motor Dana dan memberitahukan besaran biaya perbaikannya.
“Wah, biayanya kok mahal sekali, Pak?” komentar Dana ketika montir memberi taksiran.
“Ini sudah terhitung murah dibandingkan dengan biaya perbaikan di bengkel-bengkel lainnya.” Jawab montir bengkel itu.
“Kira-kira kapan selesainya?” tanya Dana kepada montir bengkel.
 “Sore ini juga bisa selesai karena pelayanan kami cepat dan bisa dijamin kualitasnya.”
“Kita nunggu disini atau ditinggal sebentar?” tanya Dana kepada adiknya.
Nia membuka suara, “Memangnya kita mau pergi kemana kalau motor Kakak saja tidak bisa dipakai? Apa kita mau jalan kaki lagi seperti tadi?”
“Oh iya.. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Ini semua gara-gara aku melanggar etika berlalu lintas di jalan raya. Kita sekarang menderita kerugian dari segi waktu, tenaga dan materi. Kantongku terancam kempes karena motor yang rusak ini butuh biaya perbaikan yang besar,”
            “Jadi...Intinya adalah kita harus menjaga emosi di kesempatan apapun juga, terutama saat berkendara di jalanan raya yang ramai seperti tadi.” Kata Nia mewanti-wanti kakaknya.
“Iya, aku mengakui kesalahanku dan kedepan aku tidak akan seperti itu lagi...”
“Eh, lihat Kak! Itu kan Mba Okta dan cowo berhelm itu menuju kemari...” kata Nia tiba-tiba.
            Mereka kemudian melihat Okta dan pria berhelm itu masuk ke dalam bengkel tersebut. Mereka semua kemudian bertegur sapa dan saling bersalaman.
            “Kenalin ini kakakku yang bernama Hendri, dia pemilik bengkel disini.” Kata Okta sambil memperkenalkan pria misterius yang memakai helm itu kepada mereka berdua.
            Pria itu membuka helm dan turun dari motornya. “Iya, saya kakaknya Okta,” katanya sebari tersenyum. “Kendaraan kalian sedang diperbaiki?”
            “Iya...” jawab Dana singkat sambil menahan malu.
            “Yang mana?” tanyanya lagi.
            Dana menunjuk motornya yang ringsek itu.
            “Loh kok bisa separah itu?” tanya Okta kepada mereka..
         "Tadi kami....” ucap Nia hendak menceritakan kronologis peristiwa kecelakaan barusan. Namun segera dicegah oleh Dana.
            Dana buru-buru memotong pembicaraan Nia. “Tadi kami tertimpa musibah kecelakaan lalu lintas, tapi—tidak apa-apa, tidak ada korban jiwa, kami hanya luka-luka lecet saja.”
             “Syukurlah kalau begitu, kalian harus lebih berhati-hati lagi di jalan raya! Sekarang perilaku pengguna jalan suka cepat emosi jadi sering ngebut dan nyalip-nyalip kendaraan yang di depannya. Itu kan berbahaya...” pesan Hendri yang tidak disadarinya begitu pas dengan apa yang mereka alami.
            “Benar Kak!” kata Nia sambil melirik kearah Dana.
            “Iya, benar sekali.” Kata Dana memahami isyarat dari adiknya itu.
Mengetahui rambu-rambu lalu lintas memang sangat penting dan yang tak kalah pentingnya lagi adalah menjaga etika berlalu lintas karena bukan hanya kita berkewajiban untuk menjaga keselamatan diri kita sendiri, namun juga menjaga keselamatan orang lain yang menjadi tanggung jawab bersama sebagai pengguna jalan. Jagalah emosi agar kita senantiasa dapat berperilaku santun di jalan raya.  
           
           

****TAMAT***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com